Beranda Cinta Begini Cara Membedakan Cinta dan Ketergantungan Emosional

Begini Cara Membedakan Cinta dan Ketergantungan Emosional

109
0
Ilustrasi - foto istimewa IDN Times

Hubungan cinta yang ideal juga butuh keseimbangan. Namun, ada kalanya kita terperangkap dalam cinta yang salah akibat tidak sadar menjadi “pelaku” atau “korban” ketergantungan emosional.

Ketergantungan emosional bisa sangat samar dengan rasa cinta yang besar. Jika dibiarkan, keadaan ini akan semakin ekstrem dan berbahaya, yakni pelan-pelan menghancurkan hubungan, sekaligus merusak diri Anda juga pasangan.

Oleh karenanya, para ahli menyarankan agar kita bisa membedakan antara cinta dan ketergantungan emosional. Lalu, mulai memperbaiki andai ada yang salah agar hubungan tetap sehat.

Ana Jovanovic, seorang psikolog klinis, berpendapat bahwa ketergantungan emosional bisa muncul ketika seseorang merasa kedekatannya dengan pasangan sebagai sebuah unit, bukan lagi individu.

Ia menjelaskan bahwa cinta menunjukkan kedekatan emosional yang menyiratkan kebutuhan untuk memberi dan menerima. Dengan cinta kita akan sadar bahwa pasangan adalah individu berbeda dengan segala kekurangannya dan untuk itulah kita hadir sebagai pelengkap.

Akan tetapi itu semua tak sepenuhnya berlaku bagi orang yang bergantung secara emosional. Pada keadaan ini harga diri satu pasangan menjadi terlalu terikat dengan tindakan dan perhatian pasangannya.

Alhasil, ia berharap terlalu tinggi agar terus merasa dekat secara emosional, sehingga perhatian yang diberikan pasangan seolah tak pernah cukup memuaskan kebutuhannya.

“Seseorang yang secara emosional bergantung pada pasangannya, cenderung jatuh cinta pada angan-angan dicintai,” ujar ahli kencan dan hubungan, Julie Spira.

Mudahnya, jelas psikolog Margaret Paul, Ph.D,orang –orang ini punya ego yang besar untuk mencintai dengan cara yang dia inginkan. Ketika cinta bersyarat itu diberlakukan, dan dia seolah tidak mendapatkan cinta dalam takaran sama, hatinya mengalami “kekosongan”.

Memang, sebagaimana dipaparkan psikoterapis Emily Mendez dan psikolog klinis Danielle Forshee, orang yang mengalami ketergantungan emosional cenderung memiliki empati yang besar pada apapun suasana hati pasangannya.

Masalahnya, lanjut mereka, ketika suasana hati pasangan sedang buruk, orang itu bukan cuma ikut merasakan, tapi juga menginterpretasikan hingga menyalahkan diri sendiri dengan bertanya-tanya apakah mood buruk pasangan Anda ada hubungannya dengan dirinya.

Padahal, kata Forshee, orang yang betul-betul cinta harusnya bisa merasakan keadaan susah dan senang tanpa merasa sepenuhnya bertanggung jawab atas perasaan pasangannya.

Menurut Mendez, itu semua terjadi karena orang yang bergantung secara emosional menjadikan pasangannya sebagai pusat dunia, alias fokus utama dalam hidupnya.

“Mereka menjadi khawatir soal status hubungannya, cenderung merasa tidak aman, dan akan bergantung pada hubungan untuk kehidupan yang baik. Ketakutan kehilangannya pun lebih besar daripada kemampuannya untuk mencintai,” tambah Spira.

Lebih jauh, sambung Jovanovic, ketergantungan ini bisa menimbulkan perilaku negatif seperti manja berlebih dan posesif, sehingga membatasi ekspresi emosional pasangan.

“Pasangan mereka kemudian tidak diizinkan untuk marah pada mereka, untuk menarik diri, menghabiskan waktu dengan orang lain, untuk memiliki pikiran dan perasaan mereka sendiri. Sebab segala sesuatu yang mungkin mereka lakukan terasa seperti penolakan,” kata Jovanovic.

Singkatnya, karena rentan terhadap tanda-tanda diabaikan, mereka yang bergantung secara emosional akan mempermasalahkan sekaligus melebih-lebihkan banyak hal yang sebetulnya tidak terlalu penting.

Kendati begitu, Robert W. Firestone, Ph.D., penulis buku sekaligus psikolog anak, mencatat bahwa ketergantungan emosional biasanya terjadi tanpa disengaja. Bahkan, sejak jauh hari sebelum seseorang bertemu dengan pasangannya.

Menurutnya, perasaan yang menuntun kita untuk mengembangkan ketergantungan semacam ini sering kali berakar dari pengalaman masa kecil.

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan emosional yang ditampilkan orang tua pada anaknya, seperti terlalu protektif dengan menunjukkan perhatian dan keterlibatan berlebih, bisa menciptakan jarak antara orang tua dan anaknya, sekaligus mengacaukan pemahaman anak tentang kedekatan emosional yang sehat.

Anak-anak itu, urai Firestone, akan tumbuh sebagai pribadi sulit. Mereka boleh jadi sangat bergantung pada orang lain, tidak percaya diri dan kurang mandiri, tidak tegas dengan pendapat dan keinginannya, serta sulit melisankan apa yang betul-betul diinginkannya. Seluruhnya jelas berimplikasi besar dalam hubungan di masa dewasa.

Untuk mengatasi ketergantungan emosional, kata Psikolog Klinis Dr. Dara Bushman, kuncinya adalah memperbanyak refleksi diri serta memprioritaskan jujur pada diri sendiri dan komunikasi.

“Tetap terlibat dalam kegiatan, hobi, dan pertemanan masing-masing seperti sebelum menjalin hubungan bisa meringankan beban pasangan untuk memenuhi kebutuhan Anda,” terang Dr Bushman.

Selain itu, Margaret Paul menyarankan agar Anda belajar untuk menghargai dan mencintai diri sendiri secara mendalam sehingga tidak terlalu tertarik mengurusi privasi pasangan.

Terakhir, ubah cara pandang Anda. Meski tak salah menjadikan pasangan sebagai prioritas,

“Harus ada keseimbangan,” pungkas Mendez. (Red)

Sumber : beritagar.id