Beranda Peristiwa Bayah, Rumah Kedua yang Selalu Memanggil untuk Pulang

Bayah, Rumah Kedua yang Selalu Memanggil untuk Pulang

Keindahan Pantai Bayah yang jadi rumah kedua bagi wisatawan. (Net)

LEBAK – Perjalanan menuju Bayah bukan perjalanan yang singkat. Dari Rangkasbitung, roda kendaraan harus berputar hampir tiga jam melewati jalan berkelok, tanjakan, turunan, tebing, hingga jurang yang mengiringi sepanjang perjalanan.

Namun semua rasa lelah itu seolah lenyap ketika angin Laut Selatan pertama kali menyentuh wajah.

Bayah menyambut siapa pun dengan cara yang sederhana. Tanpa gedung pencakar langit, tanpa kemacetan, tanpa hiruk-pikuk kota. Hanya debur ombak, aroma laut, dan hamparan pasir hitam yang seolah berkata, “Selamat datang, pulanglah sejenak.”

Selama ini banyak orang mengenal Bayah sebagai kawasan wisata di ujung selatan Kabupaten Lebak. Padahal bagi banyak orang, terutama mereka yang pernah datang lebih dari sekali, Bayah bukan sekadar tempat berlibur.

Bayah telah menjelma menjadi rumah kedua.nSenja yang Selalu Membuat Orang Kembali

Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB.

Pantai Bayah mulai ramai. Anak-anak berlarian mengejar ombak tanpa mempedulikan pakaian yang basah. Nelayan menarik perahu ke bibir pantai setelah seharian bertarung dengan laut. Di sudut lain, ibu-ibu sibuk menata ikan bakar, kelapa muda, dan jajanan sederhana yang selalu laris menjelang matahari tenggelam.

Pasir hitam menjadi identitas

Ketika matahari mulai turun, warna keemasan memantul di setiap butir pasir. Langit perlahan berubah jingga, lalu ungu, sebelum akhirnya gelap.

Tak sedikit fotografer, pasangan muda, hingga pekerja dari Jakarta sengaja datang hanya untuk menikmati momen itu.

Mereka tidak mencari keramaian. Mereka mencari ketenangan.

“Kalau lagi penat di kota, saya pasti ke Bayah. Di sini rasanya waktu berjalan pelan. Tidak ada klakson, tidak ada deadline,” kata Dian, wisatawan asal Jakarta.

Menurutnya, Bayah memiliki banyak pantai yang masih alami, mulai dari Pantai Karang Bokor, Ciparay, hingga Tanjung Layar.

Baca Juga :  Prabowo Subianto Resmikan Sumber Titik Air Bersih di Lebak

“Ombaknya besar, airnya jernih, dan pengunjungnya belum seramai Anyer. Cocok buat orang yang ingin menenangkan pikiran,” ujarnya.

Laut yang Menghidupi Warga

Di balik indahnya panorama pantai, Bayah menyimpan perjalanan panjang.

Dulu, nama Bayah melekat dengan tambang batu bara. Rel tua, terowongan peninggalan Belanda, hingga cerita para orang tua masih menjadi saksi sejarah kejayaan tambang di kawasan itu.

Kini arah kehidupan berubah. Laut mengambil alih peran sebagai sumber penghidupan utama.

Setiap dini hari, nelayan berangkat sebelu5⁶m matahari terbit. Saat cuaca bersahabat, hasil tangkapan mereka berangkat menuju pasar-pasar besar hingga Jakarta.

Di daratan, warga menanam jagung, singkong, dan kelapa untuk menopang ekonomi keluarga.

“Kami hidup mengikuti laut. Kalau laut bersahabat, rezeki juga ikut baik. Kalau ombak besar, kami tinggal di rumah sambil memperbaiki jaring,” tutur Ujang, seorang nelayan.

Warung makan bermunculan di sepanjang pantai. Homestay mulai ramai menerima tamu. Penyewaan tenda dan perlengkapan berkemah ikut tumbuh.

Bayah perlahan meninggalkan identitas sebagai kota tambang dan mulai dikenal sebagai kawasan wisata serta perikanan.k

Keindahan yang Masih Menyimpan Pekerjaan Rumah

Pesona Bayah belum sepenuhnya sempurna. Jalan menuju kawasan wisata masih menjadi keluhan banyak pengunjung. Saat musim hujan, longsor mengintai di sejumlah titik. Ketika kemarau datang, debu tebal menyelimuti jalan.

Sinyal telepon juga sering menghilang

Bagi sebagian wisatawan, kondisi itu terasa menyulitkan. Namun bagi sebagian lainnya, justru itulah kemewahan Bayah.

Tidak ada suara kendaraan yang saling berebut jalan. Yang terdengar hanya debur ombak dan semilir angin laut.

Tumpukan sampah plastik kerap memenuhi bibir pantai. Kelompok sadar wisata bersama Karang Taruna rutin membersihkan kawasan pantai setiap pekan. Namun jumlah sampah sering kali melebihi kemampuan mereka.

Baca Juga :  Ketua DPRD Lebak Tolak Rencana Pengiriman Sampah dari Tangsel

“Alhamdulillah pengunjung makin banyak. Tapi tolong, bawa pulang juga sampahnya. Laut ini rumah kami, bukan tempat sampah,” ujar Ujang.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak mulai melirik potensi besar Bayah sebagai destinasi unggulan. Rencana pelebaran jalan, penataan lapak UMKM, hingga pelatihan pemandu wisata lokal mulai disiapkan untuk mendukung perkembangan kawasan tersebut.

Tempat yang Selalu Mengajarkan Arti Pulang

Bagi anak-anak, Bayah adalah tempat mereka tumbuh. Bagi para perantau dan wisatawan, Bayah menjadi ruang untuk mengembalikan tenaga dan menenangkan pikiran.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang selalu ingin kembali. Karena Bayah bukan hanya menawarkan panorama.

Bayah menawarkan perasaan. Perasaan bahwa di ujung selatan Banten, selalu ada tempat yang menerima siapa saja tanpa syarat, sebuah rumah kedua yang selalu terbuka, dengan debur ombak sebagai lagu penyambut setiap kepulangan.

Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd