Author: Rahma Juanita Paradilah

Kritik Sastra Novel Surga Merah Karya Arafat Nur

Cover dokumentasi pribadi/noveltanahsurgamerah Kritik sastra adalah suatu bidang atau ilmu sastra yang mengkaji, menganalisis, menafsirkan dan menilai kelebihan serta kekurangan dari suatu karya sastra. Sejarah mempengaruhi adanya kritik sastra, biasanya pada masa itu karya sastra lebih dominan berhubungan dengan politik dan rakyat. Karya sastra yang di dalamnya berisi politik menjadi sasaran empuk kritikus untuk mengkritik karya sastra tersebut. Namun, sebagai seorang kritikus harus ahli dan berpengetahuan luas tentang sastra serta unsur-unsur dalam karya sastra. Menurut H.B. Jassin, kritik sastra adalah pertimbangan baik dan buruknya suatu hasil kesusastraan. Pertimbangan yang diungkapkan H.B. Jassin ini maksudnya adalah suatu kritik sastra harus disertai alasan dan berisi mengenai isi dan berbagai bentuk di dalam karya sastra. Novel Tanah Surga Merah merupakan novel karya Arafat Nur, novel ini dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Novel ini menceritakan tentang konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Meski menjadikan gejolak politik lokal sebagai pokok cerita, naskah ini tidak terperangkap pada reportase jurnalistik. Novel ini menceritakan tentang seorang mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pulang ke kampungnya dan memberontak pada para penguasa Aceh. Novel ini disampaikan dengan gaya reportase yang tidak kering, dan novel ini dengan sabar membangun setiap peristiwa dengan tema-tema yang politis. dokumentasi pribadi/noveltanahsurgamerah Kelebihan dalam novel ini,. meskipun latar belakang penulis novel ini yakni Arafat Nur bukan berasal dari politikus atau partai politik. Tetapi, penulis mampu menjelaskan serta menggambarkan dengan sangat jelas konflik politik yang ada di Aceh. Novel ini mengandung pesan moral dan Pendidikan yang mana novel ini menyinggung masyarakat Aceh terutama kaum muda di Aceh yang malas untuk membaca buku. Novel ini juga sangat membuat pembaca berimajinasi atau membayangkan suatu tempat bernama Klekklok dikarang oleh penulis seperti tempat yang benar-banar ada dan nyata. Unsur budaya juga melengkapi novel ini seperti ritual peusijuk (upacara adat masyarakat Aceh). Tak banyak kekurangan yang ada dalam novel ini, ada alur yang menceritakan kisah cinta namun tidak begitu banyak dan hanya saja sedikit membingungkan di akhir cerita yang mana Murad sang tokoh utama dalam novel ini melarikan diri ke hutan bersama seorang wanita bernama Jemala, padahal di awal cerita Murad jatuh cinta dengan Nanda. Novel ini sangat rekomendasi dan sangat cocok untuk kalian yang menyukai novel bergenre politik.

Kritik Sastra Novel Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur

Kritik sastra adalah suatu bidang atau ilmu sastra yang mengkaji, menganalisis, menafsirkan dan menilai kelebihan serta kekurangan dari suatu karya sastra. Sejarah mempengaruhi adanya kritik sastra, biasanya pada masa itu karya sastra lebih dominan berhubungan dengan politik dan rakyat. Karya sastra yang di dalamnya berisi politik menjadi sasaran empuk kritikus untuk mengkritik karya sastra tersebut. Namun, sebagai seorang kritikus harus ahli dan berpengatahuan luas tentang sastra serta unsur-unsur dalam karya sastra. Menurut H.B. Jassin, kritik sastra adalah pertimbangan baik dan buruknya suatu hasil kesusastraan. Pertimbangan yang diungkapkan H.B. Jassin ini maksudnya adalah suatu kritik sastra harus disertai alasan dan berisi mengenai isi dan berbagai bentuk di dalam karya sastra. Novel Tanah Surga Merah merupakan novel karya Arafat Nur, novel ini dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.Novel ini menceritakan tentang konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Meski menjadikan gejolak politik lokal sebagai pokok cerita, naskah ini tidak terperangkap pada reportase jurnalistik. Novel ini menceritakan tentang seorang mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pulang ke kampungnya dan memberontak pada para penguasa Aceh. Novel ini disampaikan dengan gaya reportase yang tidak kering, dan novel ini dengan sabar membangun setiap peristiwa dengan tema-tema yang politis. Kelebihan dalam novel ini,. meskipun latar belakang penulis novel ini yakni Arafat Nur bukan berasal dari politikus atau partai politik. Tetapi, penulis mampu menjelaskan serta menggambarkan dengan sangat jelas konflik politik yang ada di Aceh. Novel ini mengandung pesan moral dan Pendidikan yang mana novel ini menyinggung masyarakat Aceh terutama kaum muda di Aceh yang malas untuk membaca buku. Novel ini juga sangat membuat pembaca berimajinasi atau membayangkan suatu tempat bernama Klekklok dikarang oleh penulis seperti tempat yang benar-banar ada dan nyata. Unsur budaya juga melengkapi novel ini seperti ritual peusijuk (upacara adat masyarakat Aceh). Tak banyak kekurangan yang ada dalam novel ini, ada alur yang menceritakan kisah cinta namun tidak begitu banyak dan hanya saja sedikit membingungkan di akhir cerita yang mana Murad sang tokoh utama dalam novel ini melarikan diri ke hutan bersama seorang wanita bernama Jemala, padahal di awal cerita Murad jatuh cinta dengan Nanda. Novel ini sangat rekomendasi dan sangat cocok untuk kalian yang menyukai novel bergenre poolitik.

Teater Lonceng Unpam “Manufaktur Anatomi Kera” FTK Jakarta 2022

Teater Lonceng Universitas Pamulang telah menyelenggarakan sebuah drama teater dengan judul Manufaktur Anatomi Kera naskah karya Gulang Satriya Nugraha, acara diselenggarakan pada tanggal 22 September 2022 dalam rangka FTK jakarta 2022 atau Festival Teater Kampus Jakarta 2022 di AmphiTheater Taman Kota BSD 2.   Teater Lonceng merupakan salah satu kegiatan yang populer di kalangan mahasiswa khususnya prodi Sastra, teater lonceng telah mementaskan beberapa teater yang luar biasa seperti pada bulan November 2019 yang berjudul “Dhemit” karya Heru Kesawa Murti yang juga merupakan pentas produksi pertama teater lonceng. Pementasan tersebut digelar selama dua hari berturut-turut dan berhasil memikat lebih dari 500 penonton.   Teater dengan judul Manufaktur Anatomi Kera ini sangat luar biasa, teater ini menceritakan tentang topik yang tak jarang kita temukan seperti penindasan, perampasan tanah, HAM (Hak Asasi Manusia), dan pertikaian antar umat beragama. Pementasan ini diawali dengan dua ekor kera yang sedang berbincang-bincang sambil memotong daging, kemudian mereka saling bertengkar. Banyak dialog yang membuat penonton bingung, bahkan bertanya-tanya apa maksud dari setiap dialog yang dilontarkan oleh para kera tersebut.   Namun, pementasan teater ini sangat membuat penonton terhibur bahkan terbawa oleh setiap adegan yang dimainkan oleh para pelakon teater tersebut, seperti pada saat dua ekor kera wanita sedang menghisap rokok sambil menangis dengan berteriak “Kesedihan…kesedihan”. Lagi-lagi disetiap dialog yang dilontarkan membuat penonton menerka-nerka apa maksud dari dialog tersebut. woww….   Ada beberapa adegan yang membuat penonton tertawa seperti pada saat para kera pengunjung datang berkunjung ke kebun manusia yang dicegah oleh kera penjaga kebun manusia, karena kera pengunjung tidak mahu membayar tiket masuk. Tapi, ada juga adegan yang membuat para penonton ikut kesal dan marah karena ada seekor kera yang ingin menguasai kebun manusia tersebut.   Setiap adegan, gerak dan dialog yang dimainkan oleh para pelakon dalam teater tersebut pastinya mengandung pesan moral yang disampaikan. Pesan yang paling menonjol dalam teater tersebut ialah kita tidak boleh serakah, dan mengambil hak akhluk hidup lain.   Teater tersebut selesai sekitar jam 10 malam dan diakhiri dengan berkumpulnya semua pemain serta tim produksi pementasan, kemudian sesi foto bersama, dan diskusi bersama tentang teater Manufaktur Anatomi Kera.