Author: MUHAMMAD FAJAR FACHTURAHMAN

Cerpen : PPKM Dalam Perspektif Rakyat Kecil

Karya : Aum Rumdana Kendaraan yang biasanya berlalu-lalang kini sudah tidak terlihat lagi. Perkampungan yang begitu ramai sekarang sepi seperti tak berpenghuni. Alunan langkah yang saling beriringan, dulu sudah biasa terdengar dikala keramaian. Namun, semuanya berubah ketika diterapkannya kebijakan yang begitu menyengsarakan. Seperti apa yang dirasakan oleh penjual pecel ayam yang hari-harinya selalu didatangi oleh pelanggan, namun sekarang sepi tak ada yang datang. “Pak pesen pecel ayamnya 2 ya, dibungkus” ucap salah satu pelanggan pecel ayam tersebut. “Siap Cup, seperti biasa kan?” tanya Pak Ali kepada Ucup. Ya pelanggan itu Bernama Yusuf atau lebih akrab dipanggil Ucup. “Iya Pak” jawab Ucup sambil menarik bangku untuk ia duduki. “Ini yang lain pada kemana Pak? Biasanya siang-siang gini rame aja disini” tanya Ucup sambil melihat-lihat sekitar. “Ya beginilah Cup dampak dari kebijakan PPKM, yang beli juga sedikit. Ini aja baru Bu Rita sama kamu yang beli” jawab Pak Ali sambil menggoreng pecel ayam pesanan ucup. Warung yang bertempat di depan desa Sukawarna, dulunya memang menjadi langganan para pekerja desa dan tukang ojek setempat. Sejak adanya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau yang lebih dikenal dengan PPKM, masyarakat kecil seperti Pak Ali yang tidak mempunyai penghasilan tetap, jadi sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebijakan dengan tujuan untuk memperkecil penularan virus corona yang semakin hari-semakin bertambah, kasusnya sampai ada yang meninggal membuat pemerintah memperketat kebijakan ini. “Iya ya Pak, tapi biasanya kan ada bantuan sosial tuh dari pemerintah. Dapet gak Pak?” tanya Ucup kepada Pak Ali. “Nah iya tuh biasanya ada kan?” tanya Bu Rita yang dari tadi hanya menyimak obrolah Ucup dan Pak Ali. “Mana ada Bu, Cup, saya nunggu dari bulan lalu aja gak ada kabar tuh. Ya kalo pun dapet paling Cuma beberapa bahan pokok yang gak berkualitas” jawab Pak Ali dengan raut wajah yang masabodo. “Kalaupun memang ada, bentuknya bahan pokok pasti gak berkualitas, terus kalau bentuknya uang pasti dipotong” jawab Bu Rita dengan antusias, karena dia sendiri pernah sekali mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. “Kalau mau bahan pokok yang berkualitas, tunggu aja saat pemilu pasti banyak yang ngasih tuh hahaha” ucap Ucup sambil tertawa terbahak-bahak. “ Nah bener tuh Pak.haha… Pinter kamu Cup” jawab Bu Rita, tertawa sambil memukul pundak Ucup.Ya begitulah negeri ini. Mereka seakan rugi jika memberikan uang atau bahan pokok yang bagus kepada masyarakat kecil. Janji untuk mensejahterakan rakyat malah menyengsarakan rakyat, padahal mereka juga digaji oleh rakyat. “ Seharusnya, kalo memberlakukan kebijakan PPKM, pemerintah harus memenuhi kebutuhan rakyat kecil seperti saya ini, hidup aja Cuma bergantung pada hasil jualan, ini malah suruh diam dirumah” ucap Pak Ali dengan sewot. “ Mereka sih enak diam dirumah tapi gaji tetap mengalir, lah kalo saya diam dirumah, anak istri mau makan apa? Berharap bansos yang gak jelas?” lanjut Pa Ali yang mulai membungkus pesanan Bu Rita dan Ucup. Memang benar apa yang dikatakan Pak Ali, para pejabat yang membuat kebijakan untuk tetap dirumah, tidak khawatir dengan kebutuhan mereka, karena sudah dijamin oleh negara. Lantas, bagaimana dengan rakyat kecil yang mungkin penghasilannya saja tidak cukup untuk biaya sehari-hari, Terus sekarang diperintah untuk diam dirumah tidak bekerja. “ Sebenarnya gini loh Pak Ali, mereka yang membuat kebijakan juga ada tujuannya, mereka ingin virus corona di negeri ini semakin menurun. Kan tahu sendiri banyak orang mati terkena virus itu” ucap Ucup dengan bijak. “ Ya sebenarnya saya juga mau dirumah terus, ga usah capek-capek kerja kalau kebutuhannya dijamin sama kaya mereka. Lah ini kan enggak Cup, pemerintah cuma memikirkan agar warganya tidak mati karena virus corona, tapi mereka gak mikir kalo warga juga bisa mati karena kelaparan” jawab Pak Ali dengan wajah yang kesal. “ Bener tuh Pak, kita rakyat kecil kalo disuruh diam dirumah mau makan apa kalo gak kerja” ujar Bu Rita sambil menerima pesanan yang diberikan Pak Ali sambil memberikan uangnya. “ Makasih ya Pak, saya pulang dulu, anak sudah nungguin, belum makan soalnya” ucap Bu Rita lalu pergi meninggalkan warung Pak Ali. “ Iya Bu, sama-sama. Hati-hati Bu” jawab Pak Ali. “ Bener sih Pak, seharusnya pemerintah lebih memperhatikan resiko yang akan dirasakan oleh rakyat sebelum mengeluarkan kebijakan” ucap Ucup memberikan persetujuan terhadap apa yang dibicarakan oleh Pak Ali. “ Sudah lah gak bakal bisa juga kita lawan mereka. Yang ada masuk penjara. Nih punya kamu sudah jadi” ucap Pak Ali sambil memberikan pesanan Ucup. “ Iya pak takut juga sama pemerintahan sekarang. Sedikit mengkritik, penjara sudah menanti. Ya sudah makasih Pak, saya pulang dulu” jawab Ucup sambil memberikan uang kepada Pak Ali, lalu pergi dari tempat itu. “ Iya sama-sama. Alhamdulillah laku juga” ucap pak Ali bersyukur.Kebijakan politik yang ada di Indonesia pada dasarnya sangat baik, karena mengacu pada ideologi Pancasila dan UUD 1945. Namun, sangat disayangkan karena berbanding terbalik dengan hal itu. Pemangku kebijakan sendiri yang seharusnya menjadi tauladan yang baik malah sebaliknya. Semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia saat itulah krisis ekonomi moneter Indonesia menurun derastis. Dibarengi dengan pemberlakuan PPKM, yang tidak memihak secara keseluruhan membuat keresahan bangsa. Nasib bumi pertiwi semakin menjadi-jadi, lalu bagaimana dengan pemerintahan yang seharusnya?.

Politik Berkedok Agama, Menyimpang?

Oleh : Muhammad Fajar Fachturahman Pernah ga sih terbayang sama kalian, “Apa jadinya jika politik bercampur dengan Agama”?, melihat kondisi Indonesia yang bisa dibilang hampir semua masyarakatnya memeluk agama nya masing-masing sesuai dengan apa keyakinan mereka. Dan pernahkah kalian berfikir apa yang terjadi jika ada percampuran antara politik dan Agama? karna jika dilihat dari sisi luar, politik merupakan hal yang identik dengan “Kotor” dan berbanding terbalik dengan Agama yang identik dengan “Bersih”, terlebih lagi ada kata-kata yang berbunyi “jangan campurkan politik dengan Agama”, dan ada pula yan ber-opini yang berlawanan yaitu “Agama bukan hanya tidak boleh dijauhkan, bahkan dia harus menjadi warna dan menjadi dasar dalam politik. Dan justru politik adalah bagian dari agama”. Kata-kata ini menuai banyak pro dan kontra yang terjadi di masyarakat loh guys.. Hal ini menjadi perdebatan yang beberapa kali menyebabkan perpecahan di masyarakat dan membuat masyarakat terbagi menjadi 2 kubu, yaitu kubu yang tidak setuju antara bercampurnya agama dan politik dan juga kubu yang setuju dengan percampuran agama dan politik. – Jika melihat perbandingan respon masyarakat yang beragam seperti ini, menarik untuk dibahas bukan? Yuk simak terus! Sebelum kita mendalam lebih jauh, yuk kita mengenali sisi luar dari topik yang akan kita bahas dulu, Definisi Politik Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata politik adalah (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan) Definisi Agama Pengertian Agama Menurut KBBI: Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan/kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia lainnya. Kalian pernah ga? Melihat adanya kasus politik, tapi dengan embel-embel Agama? apa? gapernah? Kalau sekadar mendengar kabarnya, pernah dong? Menurut kalian, boleh ga sih sebenernya ada percampuran antara politik dengan agama tersebut? Inti pembahasan Praktik politik dalam Agama di Indonesia, menurut gua sudah cukup sering terjadi, diantaranya hal yang menjadi trending topic pada tahun 2017,2019, tahun lain. Benarkah aksi tersebut terjadi karena adanya percampuran antara politik dan Agama? well, menurut gua sendiri “yes”. Menurut kalian aksi ini berdampak ke banyak aspek ga sih? Menurut gua sendiri, ada beberapa dampak yang terjadi loh guys disebabkan terjadinya percampuran politik dan Agama ini. Contohnya adalah suatu golongan menjadi dicap lebih “sesuatu” atau dengan kata lain, suatu golongan mendapatkan stereotype baru, bisa jadi stereotype yang bersifat negatif ataupun stereotype yang bersifat positif. Tapi disini, gua sama sekali tiak menyalahkan orang yang membela Tauhid nya karna gua setuju dengan orang yang membela Tauhid. Dalam pelaksanaan politik dalam Agama, ada oknum yang mengatasnamakan Agama sebagai “perisai” dari kesalahan yang dia buat di bidang politik. dan dia berlindung dibalik “Agama” itu tersebut. Jujur, gua sendiri ga suka banget sama oknum kaya gini. Banyak pihak yang dirugikan hanya karna tindakan ini. Dan bisa membuat nama Agama yang menjadi “perisai” tersebut menjadi buruk. Mungkin karena oknum oknum tidak bertanggung jawab seperti inilah yang mendasari orang berpendapat “Jangan campurkan politik dengan Agama” Berdasarkan opini gua, politik dalam Agama itu sah-sah saja. Karena pada dasarnya, semua yang kita lakukan di dunia, pasti ada kaitannya dengan Agama. kita bangun tidur, kita membaca doa bangun tidur yang diajarkan Agama. kita ingin makan, kita pula membaca doa sebelum makan yang diajarkan oleh Agama. Justru, gua kurang setuju dengan pendapat “Jangan campurkan politik dengan Agama”. kenapa? Karna Agama mencakup semua aspek dalam kehidupan. Dan dalam berfikir mengenai politik, menurut gua disini juga harus memasukkan unsur Agama. contoh : saat pemilu, ada banyak kandidat yang mencalonkan diri. Kita disini harus berfikir secara realistis dan Agamis. Harus memikirkan keputusan terbaik secara matang dan jangan sampai salah mengambil keputusan, yang ditakutkan akan berdampak kepada dampak ke akhirat oleh masing-masing individu. Jika ada pertanyaan “apakah Agama bisa berjalan beriring-iringan dengan politik?”. Ini jawabannya : didalam suatu Agama di Indonesia yaitu Islam, Islam tidak bertentangan dengan politik, bahkan dalam ajaran Islam ada politik. Tapi politik dalam pengertian yakni “Hikmah”. Tidak mungkin suatu ajaran yang mengajarkan se detail bagaimana cara masuk WC, bercermin, Makan dan minum diatur, akan tetapi hal yang lebih dari itu tidak diajarkan oleh Islam. Padahal detail masuk WC, Bercermin tidak menyangkut masyarakat dan tidak pula menyangkut Negara. Jadi salah apabila ada kata-kata “Islam tidak mengenal politik”. Tetapi di sisi lain, politik dalam kenyataannya seringkali bertentangan langkah langkahnya. Di sini orang berkesimpulan “Agama bertentangan dengan politik”. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang membuat citra buruk pada politik kemungkinan adalah politisinya atau orang-orang yang berkecimpung di dunia politik (mungkin tidak semuanya) dan politik nya itu sendiri tidak salah karena politisi menggunakan “siasat” bukan “Hikmah”. Bisa dikatakan begitu, ada ungkapan “Agama kami adalah politik kami. Agama kami adalah politik kami” dan jika ada yang berpendapat jangan campurkan antara keduanya. Menurut Quraisy Shihab, solusinya dudukan dulu, politik hikmah. (politik untuk upaya kemaslahatan bersama) Penulis memohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan kata. Terimakasih Referensi : https://kbbi.web.id/politik https://youtu.be/Ji2jC7LBG0w https://kbbi.web.id/agama (***)