Bahasa merupakan alat komunikasi yang tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan identitas, karakter, dan cara seseorang mengekspresikan dirinya. Dalam kajian sosiolinguistik, terdapat perbedaan kecenderungan antara bahasa maskulin dan bahasa feminin. Bahasa maskulin umumnya bersifat lugas, langsung, dan berorientasi pada fakta atau objek, sedangkan bahasa feminin lebih menonjolkan ekspresi perasaan, empati, dan hubungan interpersonal. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada penggunaan bahasa di media sosial. Misalnya, seorang laki-laki mengunggah status WhatsApp yang memperlihatkan dirinya berada di bengkel dengan dua sepeda motor disertai caption “mana tinggal selembar lembarnya” dan emoji sedih. Tuturan tersebut lebih berfokus pada kondisi atau objek yang sedang dihadapi tanpa menjelaskan secara rinci perasaannya. Kalimat yang digunakan singkat, padat, dan langsung menuju inti persoalan. Selain itu, latar bengkel dan kendaraan juga memperkuat kesan maskulin karena berkaitan dengan aktivitas otomotif yang dalam konstruksi sosial sering diasosiasikan dengan laki-laki. Sebaliknya, data dari seorang perempuan menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Pada status WhatsApp, ia mengunggah gambar bertuliskan “isi otak saat ini, bagaimana mau sukses” kemudian menambahkan caption “lebih ke nahan emosi ama ego buat bertahan yang susahnya fiii” disertai emoji berharap. Tuturan tersebut lebih menonjolkan kondisi psikologis, refleksi diri, dan pengungkapan emosi. Pemilihan kata seperti emosi, ego, dan bertahan menunjukkan bahwa penutur lebih fokus pada pengalaman batin dibandingkan sekadar menyampaikan informasi. Penggunaan sapaan akrab fiii juga memberikan kesan personal dan mempererat hubungan dengan pembaca. Menurut saya, kedua contoh tersebut memang menunjukkan adanya perbedaan gaya berbahasa antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung menggunakan bahasa yang sederhana, efektif, dan berorientasi pada situasi yang sedang terjadi. Sementara itu, perempuan lebih sering menggunakan bahasa yang menggambarkan perasaan, harapan, dan pengalaman emosional. Akan tetapi, perbedaan ini bukanlah aturan mutlak karena dipengaruhi pula oleh kepribadian, budaya, lingkungan sosial, usia, serta tujuan komunikasi. Di era media sosial saat ini, batas antara bahasa maskulin dan feminin semakin fleksibel. Tidak sedikit laki-laki yang mampu mengungkapkan perasaan secara terbuka, begitu pula perempuan yang dapat berkomunikasi secara lugas dan tegas. Oleh karena itu, bahasa maskulin dan feminin sebaiknya dipahami sebagai kecenderungan gaya berbahasa, bukan sebagai label yang membatasi cara seseorang berkomunikasi. Yang terpenting adalah kemampuan memilih bahasa yang sesuai dengan konteks, lawan bicara, dan tujuan komunikasi agar pesan dapat diterima secara efektif.
 Film Galaksi yang tayang pada 24 Agustus 2023 menjadi salah satu adaptasi novel remaja Indonesia yang paling dinantikan. Diadaptasi dari novel populer karya Poppi Pertiwi dan disutradarai oleh Kuntz Agus, film ini membawa harapan besar dari para pembaca yang telah mengenal kisah Galaksi Aldebaran dan Kejora Ayodhya sejak novel tersebut terbit pada 2018. Namun seperti banyak adaptasi lainnya, kehadiran film Galaksi juga memunculkan perdebatan. Sebagian penonton menikmati filmnya sebagai karya baru, sementara sebagian pembaca merasa ada banyak bagian yang berbeda dari cerita yang mereka kenal. Perdebatan tersebut sebenarnya menunjukkan satu hal penting: setiap pembaca memiliki versi Galaksi mereka sendiri dalam imajinasi. Saat membaca novel, pembaca bebas membayangkan bagaimana sosok Galaksi, bagaimana hubungan Ravispa dengan Avegar, hingga bagaimana perasaan Kejora ketika menghadapi berbagai konflik. Namun ketika cerita yang sama hadir dalam bentuk film, seluruh imajinasi itu diterjemahkan menjadi satu versi visual yang tidak selalu sesuai dengan bayangan setiap orang. Dalam kajian ekranisasi, perubahan seperti ini merupakan hal yang lumrah. Adaptasi tidak berarti menyalin seluruh isi novel ke layar lebar. Film memiliki keterbatasan durasi, kebutuhan dramatik, dan tuntutan visual yang berbeda dari karya sastra. Karena itu, perubahan sering kali tidak dapat dihindari. Kasus Galaksi menunjukkan bagaimana proses tersebut bekerja. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah pada awal pertemuan Galaksi dan Kejora. Dalam novel, hubungan mereka dimulai ketika Galaksi mengembalikan topi milik Kejora yang ditemukan di dekat ring basket sekolah. Adegan ini memberi kesan perkenalan yang sederhana dan mengalir. Namun dalam film, pertemuan mereka diubah menjadi adegan ketika Galaksi menawarkan tumpangan motor kepada Kejora yang baru turun dari bus. Perubahan ini mungkin tampak kecil, tetapi cukup mengubah kesan awal hubungan kedua tokoh. Perbedaan lain juga muncul dalam beberapa konflik penting. Dalam novel, Galaksi menggendong Kejora karena tersinggung setelah disebut “cupu”. Dalam film, penyebabnya berubah menjadi konflik yang berkaitan dengan jaket Ravispa dan topi paskibra milik Kejora. Secara fungsi adegan keduanya sama, tetapi alasan yang melatarbelakanginya berbeda. Perubahan semacam ini memperlihatkan bagaimana film berusaha menyederhanakan sekaligus memperkuat konflik agar lebih mudah dipahami penonton. Tidak hanya mengubah, film juga menambahkan sejumlah adegan baru. Kehadiran konflik antara Galaksi dan Jordan, adegan humor mengenai sepeda Fajar yang berada di atap sekolah, hingga penyerangan terhadap Nyong oleh anggota Avegar merupakan beberapa contoh yang tidak ditemukan dalam novel. Penambahan tersebut membuat film terasa lebih dinamis dan penuh aksi. Dari sudut pandang sinema, langkah ini dapat dipahami karena film membutuhkan ketegangan dan hiburan visual agar penonton tetap terlibat selama durasi penayangan. Sebaliknya, beberapa bagian dalam novel justru dihilangkan. Tokoh Mama Galaksi yang masih hidup dalam novel dibuat seolah telah meninggal dalam film. Tokoh Febbi yang menjadi bagian dari lingkar pertemanan Kejora juga tidak ditampilkan. Pengurangan ini memang membuat alur menjadi lebih ringkas, tetapi sekaligus mengurangi beberapa lapisan cerita yang sebelumnya membantu pembaca memahami kehidupan para tokoh secara lebih mendalam. Meski demikian, satu hal yang tetap dipertahankan adalah ruh utama cerita. Baik novel maupun film sama-sama mengangkat kisah percintaan remaja yang tumbuh di tengah konflik sekolah dan perseteruan antargeng. Perbedaannya hanya terletak pada fokus penceritaan. Novel lebih menekankan perkembangan emosional hubungan Galaksi dan Kejora, sedangkan film lebih menonjolkan konflik, aksi, dan ketegangan antarkelompok. Pada akhirnya, film Galaksi mengajarkan bahwa adaptasi bukanlah soal setia atau tidak setia terhadap novel. Adaptasi adalah proses menerjemahkan sebuah cerita ke dalam bahasa yang berbeda. Novel berbicara melalui kata-kata dan imajinasi, sedangkan film berbicara melalui gambar, suara, dan adegan. Ketika keduanya bertemu, perbedaan tidak bisa dihindari. Mungkin inilah alasan mengapa diskusi mengenai film Galaksi masih terus berlangsung. Bukan karena filmnya gagal atau novelnya lebih baik, melainkan karena setiap pembaca datang dengan semestanya sendiri. Ketika semesta imajinasi itu bertemu dengan realitas film, lahirlah beragam tafsir, kritik, dan apresiasi. Dan justru di situlah letak menariknya sebuah adaptasi: bukan menghadirkan cerita yang sama persis, tetapi membuka ruang dialog antara apa yang dibayangkan pembaca dan apa yang ditampilkan layar lebar.