Kunjungan wirausaha ke ladang Padarincang membuka mata generasi muda tentang potensi dan tantangan pertanian modern Di antara hamparan sawah dan kebun bunga yang membentang di kaki pegunungan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, tersimpan sebuah pelajaran berharga tentang ketekunan dan kecerdasan seorang petani. Kang Yadi, pria yang telah mengabdikan hidupnya pada tanah Padarincang, menjadi narasumber inspiratif dalam kunjungan kewirausahaan bidang pertanian yang mempertemukan generasi muda dengan realita dunia agraris sesungguhnya. Yang paling mencolok dari praktik pertanian Kang Yadi adalah keberagaman komoditas yang ia kelola secara terencana. Bukan semata-mata karena ingin mencoba banyak hal, melainkan karena ia memahami betul ritme alam dan pasar. Padi dipanen setiap tiga bulan, bawang merah setiap dua bulan, dan cabai setiap tiga bulan. Sementara itu, bunga sedap malam—tanaman hias andalannya—dapat dipanen setiap minggu tanpa henti. Pola tanam bergilir ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan strategi cerdas untuk memastikan arus kas yang stabil sepanjang tahun. Bunga sedap malam menjadi salah satu komoditas paling menarik dalam portofolio pertanian Kang Yadi. Di hari-hari biasa, satu batang sedap malam dihargai sekitar dua ribu rupiah. Namun menjelang bulan Ramadan dan Lebaran, harganya melonjak tajam hingga lima ribu hingga tujuh ribu rupiah per batang. Fluktuasi harga yang dramatis ini mengajarkan satu hal penting: petani yang peka terhadap kalender budaya dan keagamaan akan selalu satu langkah lebih maju. Kemampuan membaca momen adalah modal tak ternilai. Namun bertani tidak melulu soal memilih tanaman yang tepat. Kang Yadi menegaskan bahwa kepekaan terhadap cuaca adalah keterampilan mutlak yang harus dimiliki setiap petani. Hujan yang tak terduga bisa merusak panen cabai, sementara kekeringan dapat menghancurkan sawah dalam hitungan minggu. Kemampuan membaca tanda-tanda alam—arah angin, warna langit, bahkan kebiasaan hewan di sekitar sawah—menjadi bagian dari “ilmu” petani yang tidak diajarkan di bangku kuliah manapun. Inilah kearifan lokal yang harus dilestarikan dan dipadukan dengan teknologi modern. Salah satu curhatan paling pedih yang disampaikan Kang Yadi adalah soal tengkulak. Sistem tengkulak yang masih merajalela di banyak daerah pertanian menjadi momok yang menggerogoti penghasilan petani. Petani bekerja keras berbulan-bulan, namun ketika panen tiba, hasil jerih payah mereka kerap harus dijual dengan harga yang ditetapkan sepihak oleh para perantara. Kang Yadi dengan tegas menyatakan bahwa memasarkan hasil panen secara mandiri adalah jalan keluar yang lebih menguntungkan—meski memerlukan usaha lebih dalam membangun jaringan pembeli langsung. Dari sisi pengadaan input pertanian, Kang Yadi berbagi pengalaman unik. Untuk bibit bawang merah, ia kerap mendatangkannya langsung dari Brebes, Jawa Tengah—sentra bawang merah terbesar di Indonesia. Ini mencerminkan bahwa petani yang cerdas tidak segan mencari bahan baku terbaik meski harus menempuh jarak jauh. Adapun bantuan dari dinas pertanian setempat, meski ada, datangnya hanya dua tahun sekali—sebuah ritme yang jauh dari kebutuhan riil petani yang memerlukan dukungan berkelanjutan. Dalam menangani hama, Kang Yadi menemukan formula praktis yang menarik: menyelang-selingi penggunaan pestisida mahal dengan yang murah. Strategi ini bukan sekadar berhemat, melainkan juga cara mencegah resistensi hama terhadap satu jenis pestisida tertentu. Sebuah pendekatan yang ternyata selaras dengan prinsip-prinsip pertanian modern yang dianjurkan para ahli agronomi. Petani seperti Kang Yadi, tanpa gelar akademik sekalipun, telah menerapkan prinsip rotasi pestisida secara intuitif berdasarkan pengalaman bertahun-tahun. Di penghujung kunjungan, Kang Yadi menitipkan pesan yang menggugah: tugas generasi muda bukan sekadar mewarisi cara bertani yang sudah ada, melainkan mencari inovasi baru untuk pertanian. Era digitalisasi membuka peluang luas—dari pertanian presisi berbasis sensor, pemasaran digital langsung ke konsumen, hingga pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah tinggi. Pertanian bukan profesi kuno yang harus ditinggalkan; ia adalah sektor strategis yang menanti tangan-tangan muda yang kreatif dan berani. Kunjungan kewirausahaan ke Padarincang ini telah membuktikan bahwa ruang kelas terbaik kadang bukanlah gedung sekolah, melainkan sawah dan kebun yang diolah dengan penuh dedikasi. Kang Yadi adalah bukti nyata bahwa keberhasilan dalam pertanian lahir dari perpaduan antara pengetahuan lokal, ketangguhan mental, dan kemauan untuk terus belajar dan berinovasi. Sebuah teladan yang layak menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin membangun masa depan Indonesia dari sektor pangan.
Kunjungan ke UMKM Pabrik Pengolahan Tempe, KecamatanWalantaka Divisi Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa IlmuPemerintahan melaksanakan kunjungan edukasi ke salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pabrikpengolahan tempe yang berlokasi di Kecamatan Walantaka. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nyata divisi dalam membekali mahasiswa dengan wawasankewirausahaan berbasis potensi lokal, sekaligusmemperkuat kepekaan terhadap sektor agroindustri yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakatIndonesia. Tempe adalah salah satu produk pangan berbasisfermentasi kedelai yang telah lama menjadi bagian takterpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di balikkesederhanaannya, tempe menyimpan nilai ekonomi, budaya, dan gizi yang luar biasa. Melalui kunjungan ini, kami mendapat kesempatan berharga untuk menyaksikanlangsung bagaimana proses produksi tempe berlangsungdari hulu ke hilir, mulai dari tahap pemilihan bahan baku, perendaman, perebusan, peragian, hingga proses pengemasan dan distribusi ke pasar. Pengolahan: Keterampilan yang Diwariskan Salah satu hal yang paling mengesankan dalamkunjungan ini adalah menyaksikan keterampilan pengrajintempe yang diturunkan secara turun-temurun. Pemilikusaha menjelaskan bahwa setiap tahap produksi memilikistandar tersendiri yang tidak boleh diabaikan. Kebersihan, ketepatan suhu fermentasi, serta kualitas ragi menjadi tigafaktor utama yang menentukan hasil akhir produk. Proses ini menuntut ketelitian dan konsistensi tinggi, membuktikanbahwa usaha skala mikro pun mampu mempertahankanstandar kualitas jika dikelola dengan serius dan penuhdedikasi. Pemasaran: Tantangan di Era Digital Aspek pemasaran menjadi diskusi yang sangat menarik dalam kunjungan ini. Kami memperoleh gambarannyata tentang bagaimana pelaku UMKM menghadapitantangan distribusi dan persaingan pasar. Saat ini, produktempe dari Kecamatan Walantaka dipasarkan secaralangsung ke pasar tradisional dan beberapa warung sekitar. Meski demikian, pemilik usaha mulai terbuka denganpeluang pemasaran digital sebagai langkah adaptasiterhadap perkembangan zaman. Di sinilah kami melihatcelah besar yang dapat diisi oleh generasi muda terdidikuntuk memberikan kontribusi nyata: menjadi jembatanantara pelaku UMKM tradisional dengan ekosistemekonomi digital yang terus berkembang. Relevansi bagi Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, kunjungan inimemberikan perspektif yang sangat relevan. Kebijakanpemberdayaan UMKM tidak cukup hanya dirumuskan di atas kertas; ia membutuhkan pemahaman mendalamtentang realitas di lapangan. Dengan melihat langsunghambatan dan potensi yang dimiliki pelaku UMKM, kami dapat lebih peka dalam merumuskan gagasan-gagasankebijakan yang benar-benar berpihak pada masyarakat. Kegiatan semacam ini menegaskan bahwa kewirausahaandan tata kelola pemerintahan bukan dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari koin yang sama dalam upayamembangun kesejahteraan bangsa. Kunjungan ke UMKM pabrik pengolahan tempe di Kecamatan Walantaka ini bukan sekadar kegiatanseremonial. Ia adalah pengalaman belajar autentik yang menghubungkan teori dengan praktik, ruang kelas denganlapangan, serta visi kebijakan dengan kenyataan ekonomirakyat. Divisi Kewirausahaan berharap pengalaman inidapat menginspirasi seluruh anggota untuk terusmengembangkan kepekaan sosial dan semangatberwirausaha demi masa depan yang lebih mandiri dan berdaya saing. Kami percaya, dari kunjungan sederhanainilah lahir pikiran-pikiran besar yang suatu hari akanmemberikan dampak nyata bagi masyarakat