Author: Fadiah Putri

Antara Imajinasi dan Realita Visualisasi Geez dan Ann

Bagi pencinta kisah romansa, nama Nadhifa Allya Tsana atau yang lebih populer dengan nama pena Rintik Sedu tentu sudah tidak asing lagi. Salah satu karya monumentalnya yang berjudul Geez & Ann sukses menguras emosi pembaca lewat untaian kata yang puitis dan melankolis. Kesuksesan novel yang berhasil memikat hati jutaan remaja ini kemudian membawa kisah hubungan jarak jauh (LDR) tersebut naik kelas ke layar lebar pada tahun 2021. Namun, pernah ga sih, kamu menyadari bahwa menonton film Geez & Ann memberikan sensasi yang sangat berbeda dibandingkan saat membaca bukunya? Di sinilah keajaiban sekaligus tantangan dari sebuah proses transformasi media yang dalam dunia sastra disebut sebagai ekranisasi. Mengutip pandangan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, ekranisasi merupakan proses pelayarlebaran atau pengalihan wahana dari karya sastra cetak ke dalam bentuk film. Proses ini bukanlah sekadar memindahkan teks secara mentah menjadi visual yang bergerak, melainkan sebuah rekonstruksi kreatif. Perkembangan teknologi dan dinamika industri kreatif menuntut sutradara serta penulis skenario untuk memiliki ruang improvisasi. Dalam proses tersebut, sering kali terjadi penciutan atau pemangkasan bagian novel yang dianggap terlalu panjang atau kurang sinematik. Sebaliknya, penambahan adegan atau pengenalan tokoh baru juga kerap dilakukan demi memperkuat unsur dramatisasi visual, serta penyesuaian latar tempat dan waktu agar cerita terasa lebih logis saat disaksikan di bioskop. Rahasia perbedaan terbesar yang akan kamu temukan dalam film Geez & Ann terletak pada cara penyampaian emosinya. Di dalam versi novel, Rintik Sedu memanjakan pembaca dengan monolog batin Ann yang sangat mendalam, penuh dengan untaian puisi dan metafora yang menyentuh imajinasi. Namun, di dalam media audio-visual memiliki hukumnya sendiri, di mana film harus berbicara melalui gambar dan aksi nyata. Akibatnya, durasi film yang terbatas memaksa alur cerita bergerak jauh lebih cepat dan dinamis dibandingkan versi bukunya yang bergerak lambat. Selain itu, sosok Geez yang semula misterius dan bebas diimajinasikan secara “sempurna” oleh setiap kepala pembaca, seketika menjadi nyata lewat representasi fisik serta akting para pemerannya di layar kaca. Perubahan-perubahan ini sering kali memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar setianya. Sebagian penikmat sastra merasa versi film kehilangan “magis” dari kata-kata puitis khas Tsana, sementara sebagian lainnya justru memuji bagaimana estetika visual, penggunaan musik yang melow, dan tatapan mata para aktor berhasil menghidupkan konflik batin tokoh menjadi lebih nyata. Fenomena ini membuktikan bahwa perbedaan yang lahir dari proses ekranisasi bukanlah sebuah kekurangan, melainkan bentuk adaptasi budaya untuk menjangkau para generasi muda yang lebih luas, bahkan bagi mereka yang sebelumnya tidak terbiasa membaca buku. Pada akhirnya, baik novel maupun film Geez & Ann memiliki kelebihan dan cara uniknya masing-masing dalam menyentuh hati penonton. Kalo kamu adalah tipe orang yang menyukai kedalaman rasa dan ingin menyelami isi kepala karakter secara mendalam, maka lembaran-lembaran novel adalah pilihan terbaikmu. Namun, jika kamu ingin melihat bagaimana romansa dan kerinduan tersebut bernyawa melalui estetika sinematografi, maka versi film menawarkan pengalaman yang tidak kalah mengesankan. Menikmati kedua versi ini secara bersamaan justru akan memberikanmu pengalaman spiritual yang utuh dalam menikmati satu kisah indah dengan dua rasa yang berbeda.