Author: Dormian Nababan

Seni Pertunjukan Gondang Batak Dalam Budaya Batak Toba

Oleh Dormian Nababan Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Pamulang Tangerang E-mail: mayennnnbbn@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran musik gondang batak dalam masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara secara mendalam. Pengumpulan data dalam tulisan ini menggunakan metode perpustakaan. Hasil penelitian yang ditemukan yaitu gondang batak memiliki peran yang besar dan juga pennting dalam berbagai upacara Batak Toba, yang menjadi peran utama gondang batak yaitu dalam proses jalannya upacara, gondang batak dipercaya sebagai media perantara untuk menyampaikan doa dan harapan kepada Mula Jadi Nabolon. Gondang batak tidak hanya sebagai sebuah musik pengiring tarian, namun peran gondang batak dalam berbagai upacara adat Batak Toba sangatlah penting, sehingga selain dari melakukan tradisi tersebut, masyarakat Batak toba juga memiliki pengharapan yang disampaikan melalui Gondang Batak. Kata Kunci: Sumatera Utara, Gondang, Batak Toba. Pendahuluan Masyarakat Batak Toba merupakan suku yang tidak bisa lepas dari musik. Gondang batak merupakan suatu kesenian di bidang musik yang sangat unik dan tentu memiliki sejarah yang sangat lama. Sejauh ini perkembangan musik gondang batak masih tetap dipertahankan sebagai budaya dalam berbagai acara Batak Toba, baik acara pernikahan, kematian maupun acara ritual keagamaan. Gondang batak menjadi salah satu musik pengiring dalam berbagai jenis tarian seperti tari Tortor. Batak Toba merupakan suku yang menjadikan gondang batak sebagai cerminan dari budaya itu sendiri. Selain itu, peranan gondang batak sangat besar dalam keberlangsungan suatu acara. Dalam penggunaanya, setiap acara memiliki jenis gondang yang berbeda-beda, hal itu jugalah yang membedakan setiap jenis gondang yang ada. Setiap upacara dalam budaya Batak Toba, gondang batak selalu menjadi alat musik yang diutamakan dan alat musik pelengkap lainnya. Dalam pertunjukan musik gondang, memiliki dua instrumen yang terpisah dan secara fungsi berbeda yaitu gondang atau taganing dan odap. Metodologi Penelitian Metode penelitian adalah cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan (Priyono, 2016:1). Sedangkan menurut Sugiyono (2017:3) mengatakan bahwa metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan. Pengumpulan data dalam tulisan ini digunakan metode perpustakaan. Metode perpustakaan adalah sebuah metode pengumpulan data melalui pembacaan hasil-hasil penelitian dan artikel yang memungkinkan untuk memberikan data terhadap tulisan ini. Sangat disadari bahwa perpustakaan adalah gudang ilmu pengetahuan, karena semua hasil penelitian, hasil pemikiran, dan gagasan keilmuan tersimpan diperpustakaan (Ratna, 2010:196) Teori mencakup pengertian musik tradisional dan peranan gondang batak pada masyarakat Batak Toba. Pembahasan a. Musik Tradisional Musik tradisional adalah suatu jenis musik yang terdapat pada setiap daerah yang diwariskan secara turun temurun atau dapat dikatakan sebagai seni yang diwariskan secara turun temurun. Biasanya dalam penggunaan musik tradisional dipakai untuk sarana upacara adat budaya. Seperti yang diungkapkan oleh Esten (1993:11) bahwa pengertian tradisi adalah kebiasaan turun temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Senada dengan pernyataan di atas, musik gondang batak dalam masyarakat Batak Toba menjadi seni yang diwariskan secara turun temurun dan memiliki peran yang besar dalam tradisi Batak toba. b. Peran Gondang Batak Gondang batak menduduki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak toba. Gondang hadir dalam beragam kegiatan seperti upacara adat, ritual keagamaan, dan untuk hiburan. Gondang menjadi sarana utama bagi masyarakat Batak toba dalam berhubungan dengan Tuhan, khususnya untuk para penganut Malim atau Parmalim. Bagi masyarakat parmalim agama asli suku Batak, gondang merupakan representasi simbolik dari ungkapan penyampaian doa yang ditunjukkan bagi Sang Pencipta. Rithaony Hutajulu dan Irwansyah Harahap (2005) dalam buku Gondang Batak Toba memberikan contoh variasi penggunaan kata Gondang beserta konteks pengertiannya, antara lain: Gondang; sering digunakan sebagai pengganti panggilan untuk instrumen taganing. Gondang Sabangunan; sebuah ansambel musik yang terdiri dari gabungan beberapa alat musik instrumental tradisional Batak Toba. Gondang mula-mula; Gondang yang merupakan sebuah komposisi musik instrumental yang berada pada bagian awal dari suatu susunan musik (Si Pitu Gondang) dalam acara adat untuk mengawali sambutan dari pembicara yang bersangkutan. Gondang Debata; gondang yang merupakan sebuah repertoar yang berisikan tiga buah komposisi lagu yaitu: Debata Guru, Bane Bulan, dan Debata Sori. Gondang Simonang-monang; kata simonang-monang memiliki arti pemenang yang tidak pernah kalah, sehingga Gondang dalam konteks ini bisa dikatakan sebuah komposisi tapi bisa juga disebutkan untuk sebuah tempo musik yang bersemangat. Gondang Mangaliat; suatu rangkaian upacara adat dimana ketika Gondang ini dimainkan, masyarakat Batak Toba akan menari (manortor) bersama sambil berkeliling hingga lagu yang dimainkan selesai. Gondang Naposo; bermakna untuk menyatakan giliran kepada muda-mudi untuk manortor (menari) bersama dalam sebuah upacara adat. Gondang Parsahadatan; bagian dari ritual hari pertama pada upacara. Menurut tradisi Batak Toba, gondang dapat diartikan sebagai seperangkat alat musik, ansambel musik, sekaligus komposisi lagu. Umumnya dimainkan untuk mengiringi tari manortor. Ada dua jenis gondang, yang terbagi berdasarkan ansambelnya yaitu gondang sabangunan yang biasanya dimainkan di halaman rumah; dan gondang hasapi biasanya dimainkan dalam rumah. Godang sabangunan terdiri dari sarune bolon (alat musik tiup), taganing (5 kendang yang memiliki peran melodis), gordang (kendang besar penentu ritme), 3-4 gong yang disebut ogung (pembentuk ritme konstan), dan hesek (perkusi, biasanya kayu atau botol yang dipukul). Gondang hasapi terdiri dari hasapi ende atau sejenis gitar kecil 2 senar, garantung atau gambang kayu, sulim atau suling bambu berselaput kertas getar, sarune etek atau sejenis klarinet, dan hesek. Komposisi musik gondang tergolong unik. Meski sama-sama terbagi dalam tangga nada sebagaimana musik umumnya, tapi disusun tidak sama persis alurnya, selain itu, berbeda dengan tangga nada muusik Barat yang memiliki tujuh tingkat, gondang hanya memiliki lima tingkatan nada diatonis mayor, yaitu do,re,mi,fa,sol. Ini seperti terdengar dari alat musik taganing dan garantung. Dalam pertunjukan musik gondang sabangunan, taganing memang memiliki peranan penting. Ia memiiki fungsi ganda sebagai pembawa melodi sekaligus sebagai ritme variable dalam beberapa lagu. Selain itu, taganing berperan sebagai dirigen yang memberikan aba-aba dengan isyarat-isyarat ritme yang harus dipatuhi seluruh anggota ansambel sekaligus pemberi semangat kepada pemain lainnya. Maka tidak heran jika taganing begitu penting. Bahkan dalam kepercayaan lama orang Batak Toba, Rithaony Hutajulu dalam Gondang Batak Toba, partaganing (penabuh taganing) bersama parsarune (peniup sarune) disejajarkan dengan dewa. Sebab keduanya dianggap mampu menyampaikan semua permohonan/harapan kepada Debata Mulajadi Nabolon (penguasa tertinggi mikrokosmos dan makrokosmos). Dalam upacara adat istiadat Batak Toba, gondang batak merupakan unsur penting dalam proses jalannya upacara. Gondang batak dipercaya sebagai media perantara untuk menyampaikan doa dan harapan kepada Mula Jadi Nabolon. Kesimpulan Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan seni dan budaya. Salah satu dari seni dan budaya itu adalah musik tradisional. Musik tradisional yang terdapat dalam masyarakat Batak Toba adalah gondang batak. Menjadi salah satu warisan budaya secara turun temurun dalam berbagai upacara adat batak Toba. Gondang batak tidak hanya sebagai sebuah musik pengiring tarian, namun peran gondang batak dalam berbagai upacara adat Batak Toba sangatlah penting, sehingga selain dari melakukan tradisi tersebut, masyarakat Batak toba juga memiliki pengharapan yang disampaikan melalui Gondang Batak. Memelihara dan melestarikan musik tradisional sama dengan melestarikan budaya Indonesia, sehingga dengan upaya tersebut budaya Indonesia tidak tergeser oleh budaya luar dan diharapkan masyarakat bangga akan musik tradisional. Daftar Pustaka Indonesia Kaya. http:/indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/gordang-gendangnya-suku-batak-toba/. Burhanudin M, Hilmi Faiq M.2011.”Gondang Batak, Kegeniusan Lokal Yang (Nyaris) Terlupakan”. Di akses pada 7 April 2011. Hutapea, Remulus walton Parlindungan.2014.”Peranan Musik Tradisional Gondang Sabangunan Dalam Tor-Tor Sipitu Sawan Pada Sanggar Budaya Lusido Kecamatan Ajibata Kabupaten Samosir”. Digital Repository. Diakses pada 2 September 2016.

Kritik Sosial Seni Tari Tortor Sipitu Cawan dari Batak Toba

Tari Tortor adalah jenis tarian purba dari suku Batak Toba yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara. Tarian ini selalu diiringi dengan alat musik khas. Tari Tortor biasanya dilakukan pada beberapa acara seperti dalam pesta adat perkawinan, pesta peresmian rumah, pesta tugu, dan pesta naposo bulung dengan menari Tortor sebagai acara hiburan. Dalam artikel ini, kita akan membahas khusus tari Tortor Sipitu Cawan. Tortor Sipitu Cawan merupakan tari Tortor yang dipentaskan dalam acara penobatan Raja Batak. Seiring berjalannya waktu, saat ini tari Tortor Sipitu Cawan juga dipentaskan dalam acara besar seperti kepada orang yang dihormati (tamu), dimana gerakan dari penari  akan menggambarkan rasa hormat. Dalam Tortor Sipitu Cawan alat musik yang digunakan yaitu tetabuhan sejenis dengan bedug  atau sering disebut dengan “gondang” yang berjumlah sembilan.  Saat ini gondang sabangunan lebih sering digunakan untuk mengiringi  Tortor. Instrumennya meliputi taganing, gordang bolon, sarune bolon, ogung (gong), dan odap. Tarian ini diawali sesuai dengan koreografi dengan meletakkan cawan ditangan para penari tanpa terlepas.  Properti tari berupa cawan atau mangkuk porselen China berwarna putih dengan diameter berbeda, antara 2,5 – 6 cm. setiap cawan memiliki makna masing-masing yaitu : a) Cawan pertama bermakna kesucian b) Cawan kedua bermakna kebijakan c) Cawan ketiga bermakna kekuatan d) Cawan keempat bermakna peradaban e) Cawan kelima bermakna kehidupan sosial f) Cawan keenam bermakna budaya g) Cawan ketujuh bermakna kesaktian Gerakan tari dan musik harus menjaga interaksi dengan baik, agar tari Tortor Cawan yang dibawakan dapat menggetarkan, menantang, dan eksotik. Keindahan tari Tortor Sipitu Cawan memiliki peranan yang sangat besar di dalam adat istiadat masyarakat Batak Toba. Penari menggunakan pakaian tradisional Batak berupa “kemben” dibagian dalam, dan mengenakan “ulos” yang diselempangkan di kedua bahu dengan bahawan kain panjang hinggga sebatas mata kaki dan juga ikat pinggang berbahan kain tenun serta mengenakan penutup khas Batak di bagian kepala. Kostum yang digunakan oleh penari  Tortor menjadi dukungan kemeriahan acara, serta para penari mempertahankan keseimbangan kelima cawan yang diletakkan di bagian kepala, serta pundak dan siku kedua tangannya, bergerak kesana kemari  dengan melompat dan menghentakkan tangan. Selain dari kostum, tata rias juga dikenakan kepada penari Tortor Sipitu Cawan untuk mempercantik penari dalam mendukung pertunjukannya, karena tata rias dapat mewujudkan ekspresi penari sesuai dengan peranan yang dibawakan. Melalui peragaan sikap dan perasaan dalam tari Tortor Sipitu Cawan, akan menggambarkan rasa hormat dan selalu menggambarkan kondisi dan situasi yang dialami. Secara keseluruhan penyajian tari Tortor Siptu Cawan sangat menarik. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar pertunjukan tari dapat berjalan dengan baik. Dalam Tortor Sipitu Cawan memiliki setiap gerakan yang indah, namun  harus diingat bahwa mengangkat tangan melewati batas bahu keatas akan dianggap arogan dan tidak hormat kepada semua hadirin, serta menantang ilmu perdukunan dan kebatinan. Penari Tortor Cawan harus seorang yang handal, karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, dan bukan hanya keterampilan dan latihan yang dibutuhkan, tetapi juga kekuatan dan kesucian jiwa, serta aturan yang harus dipatuhi karena tari Tortor Sipitu Cawan bersifat sakral. Tortor Sipitu Cawan merupakan salah satu tarian tradisional yang ada dalam masyarakat Batak Toba dan menjadi bagian penting dalam masyarakat  adat Batak, yang memiliki nilai budaya dan nilai spiritual. Melalui Tortor itu juga masyarakat adat Batak Toba dapat menyatakan harapan, doa, dan pergumulannya. Melestarikan Tortor Sipitu Cawan juga termasuk dalam melestarikan budaya. Selain itu tari Tortor juga haruslah dikembangkan, sehingga budaya tersebut akan selalu sampai kepada generasi berikutnya dan mempertahankan keberadaanya di tengah masyarakat dan dapat menolak pengaruh asing dari luar yang mungkin tidak sesuai dengan norma-norma, terlebih pada masyarakat Batak Toba. Melestarikan, mengembangkan dan mempertahankan tari Tortor sama dengan menjaga budaya kita. (***)