Author: Dewi Nur Shifah Fauziah Santuri

Karakteristik Disleksia pada Anak Usia Sekolah Dasar

Setiap anak memiliki masa perkembangan yang berbeda-beda. Hambatan itu bisa terjadi karena berbagai hal, salah satu hambatan tersebut adalah hambatan pada otak, atau gangguan ini bisa diketahui sebagai disleksia. Apa si disleksia itu? Disleksia merupakan kesulitan belajar pada anak berupa ketidakmampuan membaca. Gangguan ini bukan disebabkan ketidakmampuan penglihatan, pendengaran, intelegensi, atau keterampilannya dalam berbahasa, tetapi lebih disebabkan oleh gangguan dalam proses otak ketika mengolah informasi yang diterimanya. Pada dasarnya setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing, dan masing-masing anak memiliki pengalaman yang berbeda juga. Oleh karena itu, anak disleksia juga menunjukkan karakteristik yang berbeda. Apa saja karakteristik disleksia? Terdapat berbagai macam karakteristik disleksia untuk melihat apakah seorang anak menderita disleksia atau bukan terutama pada anak usia sekolah dasar. Pada anak usia sekolah dasar biasanya penderita disleksia ini mengalami keluhan berupa kesulitan dalam membaca, menulis dan menghitung. Kemampuan dalam bidang ini selalu tertinggal dari teman sebayanya. Dimana seorang anak mengalami kesulitan dalam mengenali huruf, bunyi huruf, nama huruf, menulis kata-kata, dan juga membaca. Misalnya ketika seorang anak ingin mengucapkan kata “Ayam” dibaca “Maya” lalu kata “Diam” menjadi “Daim”, selain itu penderita disleksia ketika dalam menulis banyak huruf yang hilang bahkan sampai kehilangan beberapa kalimat. Selain dari kesulitan membaca dan menulis seorang anak penderita disleksia ini juga kesulitan dalam berhitung, susah membedakan kanan dan kiri, percaya diri yang rendah, lalu sulit untuk konsentrasi, dan kesulitan dalam berpakaian. Apabila seorang anak menunjukkan karakteristik yang sama seperti yang disebutkan di atas, kemungkinan besar anak tersebut menderita disleksia. Tetapi yang boleh mendiagnosis seorang penderita disleksia adalah seorang Psikolog. Nah! maka dari itu, kita sebagai calon guru atau sudah menjadi seorang guru harus bisa memahami perkembangan karakteristik anak didik kita, agar kita mengetahui apabila ada anak didik menderita disleksia anak didik tersebut tidak merasa didiskriminasi karena kekurangan dalam hal menerima mata pelajaran.

Kesantunan Tindak Direktif Pada Tuturan Anak dan Orang Tua

Bahasa merupakan alat komunikasi dan interaksi yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya suatu interaksi manusia dalam masyarakat. Hal ini menunjukan dalam tindak laku berbahasa haruslah disertai dengan norma-norma yang berlaku pada budaya tersebut. Bahasa yang tepat untuk kesantunan sangat bervariasi dari satu budaya dengan budaya lain. Oleh karena itu, pemahaman komunikasi yang baik merupakan salah satu bentuk etiket atau tata krama. Keharmonisan hubungan antara pembicara dengan pihak lain dapat terjaga apabila masing-masing peserta tutur senantiasa menjaga etika dan bersikap sopan santun satu sama lain. Kesopanan anak kepada orang tua sangat penting dalam komunikasi. Ini perlu menciptakan kondisi untuk keharmonisan yang baik antara anak-anak dan orang-orang. Anak-anak harus sopan dan santun dalam berkata-kata, seperti ketika mereka meminta, meminta, atau menyarankan orang tua mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Sebaliknya, dalam hal komunikasi, orang tua harus menjadi panutan yang baik bagi anak-anaknya. Sementara itu, tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penutur agar lawan tutur dapat melakukan sesuatu. Tindak tutur tersebut meliputi pertanyaan, instruksi, inspirasi dan tantangan. Oleh karena itu, tuturan direktif ditujukan untuk menghasilkan efek berupa perilaku. Kesantunan tindak direktif ini merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui kesantunan dan kesopanan seseorang dalam berkomunikasi.