NAMA Krakatau ternyata tidak memiliki satu asal-usul yang sudah terbukti secara mutlak. Justru sejarah namanya menarik karena memperlihatkan pertemuan bahasa Sunda Kuno, Jawa Kuno, Sanskerta, bahasa pelaut Eropa, hingga cerita rakyat.
1.Rakata atau Karkata: kepiting
Dalam naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-15, terdapat penyebutan:
‘Pulo Rakata gunung ti tengah sagara‘ yang kurang lebih berarti “Pulau Rakata, gunung di tengah laut.” Ini menjadi salah satu bukti tertua bahwa nama yang berhubungan dengan Rakata telah digunakan jauh sebelum letusan 1883.
Kemudian muncul bentuk Carcata dalam peta Lucas Janszoon Waghenaer tahun 1611. Ia menuliskan “Pulo Carcata”, dengan pulo berarti pulau. Bentuk Carcata ini memiliki kemiripan fonetis dengan karkata.
Dalam bahasa Sanskerta terdapat bentuk karka, karkaṭa, atau karkataka yang berhubungan dengan kepiting. Sementara itu, rakaṭa dalam Jawa Kuno juga dikaitkan dengan kepiting.
Menariknya, kajian botani klasik mengenai Krakatau yang diterbitkan pada 1908 mencatat bahwa ahli geologi R.D.M. Verbeek tidak berhasil mendapatkan penjelasan definitif dari penduduk mengenai arti Krakatau. Namun, ia mencatat bahwa Rakata mempunyai bentuk-bentuk lama seperti Kalkata dan Karkata, sehingga hubungan dengan istilah Sanskerta untuk kepiting dianggap mungkin.
2. Suara Burung Kakatua
Teori kedua berasal dari catatan seorang pastor Jesuit Prancis, Guy Tachard, pada abad ke-17.
Dalam catatannya, ia menyebut pulau tersebut dengan bentuk Cacatoua dan menghubungkannya dengan burung-burung putih yang tinggal di pulau tersebut. Burung-burung itu dikatakan terus mengeluarkan suara yang terdengar seperti nama tersebut. Dengan demikian, nama pulau dianggap sebagai onomatope, yaitu kata yang menirukan bunyi.
Teori ini menarik karena bentuk Cacatoua memang mengingatkan pada kata Eropa untuk kakatua/cockatoo.
Tetapi teori ini memiliki masalah. Van den Berg mempertanyakan kemungkinan keberadaan kakatua di Krakatau. Wilayah persebaran alami burung kakatua terutama berada di sebelah timur Garis Wallace, sedangkan Krakatau berada di kawasan Selat Sunda. Karena itu, penjelasan berdasarkan suara burung tersebut dianggap kurang meyakinkan.
Walau ada sumber historis yang mendukung teori ini, tetapi bukti zoologis dan linguistiknya lebih lemah dibandingkan teori Rakata/Karkata.
3. Kelakatu: semut bersayap
Ada teori lain yang menghubungkan Krakatau dengan kata Melayu kelakatu, yang berarti semut bersayap atau laron.
Menurut teori ini, bentuk gugusan Krakatau sebelum letusan 1883 dianggap menyerupai seekor semut yang memiliki sayap.
Pulau Krakatau pada masa sebelum 1883 memang merupakan bagian dari gugusan yang terdiri atas Krakatau bersama Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Jika dilihat dari gambaran peta lama, gugusan tersebut dapat dibayangkan seperti seekor serangga bersayap.
Teori ini menarik secara visual, tetapi problem utamanya adalah tidak ada bukti kuat bahwa nama pulau tersebut memang diberikan berdasarkan bentuknya.
Karena itu, teori kelakatu lebih tepat ditempatkan sebagai hipotesis alternatif, bukan asal-usul yang sudah terbukti.
4. “Kaga tau”
Ini mungkin teori yang paling populer di masyarakat.
Ceritanya begini: seorang kapten kapal asing melihat gunung/pulau tersebut dan bertanya kepada penduduk setempat: “Apa nama pulau itu?”
Orang yang ditanya tidak mengetahui jawabannya dan menjawab:“kaga tau.” yang artinya kira-kira “tidak tahu.”
Orang asing tersebut kemudian dianggap salah menangkap ucapan kaga tau sebagai Krakatau.
Cerita ini memang sering dikutip dalam pembahasan asal-usul nama Krakatau. Akan tetapi, para peneliti umumnya menganggapnya sebagai cerita rakyat atau folk etymology, bukan penjelasan historis yang dapat dibuktikan.
Ada persoalan kronologis yang membuat teori ini semakin lemah: nama Rakata/Carcata sudah muncul dalam sumber tertulis sebelum cerita “kaga tau” tersebut dikenal.
Dengan kata lain, sulit menjelaskan bagaimana kaga tau dapat menjadi asal nama jika bentuk Rakata/Carcata sudah terdokumentasikan lebih dahulu.
Tim Redaksi
