
KAB. SERANG — Gubernur Banten, Andra Soni, meminta masyarakat tidak panik menghadapi erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, ia menegaskan warga tetap harus meningkatkan kewaspadaan karena aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Andra menyampaikan hal itu usai rapat koordinasi bersama Badan Geologi dan BMKG di Pos Pemantauan Khusus Gunung Anak Krakatau, Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026). Rakor tersebut juga melibatkan Bupati Serang dan Bupati Pandeglang beserta jajaran.
Andra mengatakan, Gunung Anak Krakatau mulai kembali menunjukkan aktivitas erupsi sejak 2 Juli 2026. Pemerintah kemudian menetapkan status Siaga untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas gunung api tersebut.
“Yang paling utama saat ini adalah kita waspada dan kita terus pantau,” kata Andra.
Ia menyebut, erupsi pada 4 September 2026 berlangsung terus-menerus hingga sekitar 25 jam. Aktivitas tersebut juga menimbulkan dentuman dan getaran yang sempat membuat masyarakat panik di sejumlah wilayah.
Mengacu pada penjelasan Badan Geologi, Andra meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik.
“Berdasarkan yang disampaikan oleh Badan Geologi, kami sampaikan kepada masyarakat untuk tenang, tanpa mengurangi kewaspadaan dan juga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Dimohonkan untuk menggunakan masker karena saat ini terjadi abu vulkanik yang membahayakan kesehatan,” ujarnya.
Andra juga meminta nelayan dan wisatawan menjauhi kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer. Pemerintah ingin mencegah warga mendekati zona berbahaya saat aktivitas vulkanik masih tinggi.
Potensi Tsunami Dinilai Rendah
Andra mengatakan, kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda jauh dengan kondisi sebelum peristiwa tsunami 2018.
Ia menjelaskan, longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau pada 2018 memicu tsunami. Saat itu, ketinggian tubuh gunung mencapai lebih dari 300 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, kondisi tubuh Anak Krakatau saat ini masih relatif landai berdasarkan penjelasan Badan Geologi.
“Ukuran badannya jauh dengan 2018. Tahun 2018 tingginya kurang lebih di atas permukaan laut 300 sekian meter. Kalau sekarang masih landai, berdasarkan keterangan Badan Geologi masih landai,” katanya.
Meski potensi tsunami saat ini rendah, Andra meminta pemerintah dan masyarakat tidak lengah. Ia menegaskan Badan Geologi menjadi acuan utama pemerintah dalam membaca perkembangan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
“Badan Geologi tentu memiliki kemampuan untuk bisa menganalisa, dan acuan kita adalah Badan Geologi,” tegasnya.
Andra meminta, pemerintah provinsi hingga pemerintah desa menjalankan seluruh rencana mitigasi yang sudah mereka siapkan. Pemerintah harus memastikan jalur evakuasi dan tempat pengungsian siap digunakan sewaktu-waktu.
“Kita meminta untuk melaksanakan mitigasi yang telah kita rancang selama ini. Salah satunya memastikan jalur evakuasi dan memastikan tempat-tempat pengungsian itu siap,” ujarnya.
Menurut Andra, posisi Anak Krakatau memang berada di wilayah administratif Lampung. Namun, aktivitas gunung tersebut dapat memberikan dampak langsung terhadap wilayah Banten, terutama kawasan pesisir.
Karena itu, Pemprov Banten terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, Badan Geologi, BMKG, dan instansi terkait untuk memantau perkembangan situasi.
Andra juga meminta masyarakat hanya mengikuti informasi dari kanal resmi Badan Geologi, BPBD, dan pemerintah daerah. Ia mengingatkan warga tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
“Keselamatan masyarakat adalah yang paling utama,” tegas Andra.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah