Beranda Opini Agama Humanis

Agama Humanis

Ilustrasi - foto istimewa IDN Times

Oleh: Sulaiman Djaya, penyair bergiat di Kubah Budaya

Ada orang-orang yang bila dilihat dari kacamata ritualistik keagamaan mungkin dapat dikatakan tidak saleh. Tetapi, dan ini yang sebenarnya juga dapat menjadi satu sisi sebuah cermin bermata dua, mereka acapkali secara sosial malah lebih sanggup hidup dengan selaras dalam perbedaan dan tak pernah mempersoalkan embel-embel perbedaan keagamaan atau pun etnisitas.

Namun, ada orang-orang yang secara ritualistik mungkin akan kita sebut sebagai orang-orang yang taat dalam kacamata agama yang mereka anut, minimal bila kita melihatnya secara formalistik dan verbal, tetapi yang membuat kita juga merasa kecewa adalah acapkali mereka juga kurang harmonis secara sosial justru karena memandang kepercayaan dan pandangan yang mereka taati itu justru membuat mereka malah mengkotakkan diri mereka sendiri ketika mereka hidup di tengah-tengah sebuah dunia yang tidak mungkin diciptakan sama dan homogen sampai kapanpun.





Ostad Elahi, sang guru spiritual dari Teheran, itu menyebut hal demikian sebagai kemiskinan perspektif orang-orang beriman ketika mereka tidak menyadari bahwa mereka hidup di dunia, bukan hidup di sebuah goa yang hanya ia sendiri yang menghuninya.

Rupa-rupanya, salah-satu hal yang dapat kita sebut sebagai kemiskinan perspektif orang-orang beriman itu adalah ketika kepercayaan keagamaan kita justru malah menghilangkan kemampuan reflektif kita ketika kita hidup dalam keseharian yang seringkali begitu deras dengan pencerahan spiritual baru yang justru tidak dapat kita tangkap ketika kita hidup dalam dogmatisme buta yang tak dibarengi dengan anugerah akal dan nurani kita, ketaatan buta yang malah membuat kemampuan reflektif kita sebagai orang beriman menjadi hilang dan tidak terberdayakan.

Dalam dilema yang demikian itulah, tasawuf keseharian Ostad Elahi, yang dalam beberapa hal masih bersumber dari kearifan Ibn Arabi yang masyhur itu, akan merengkuh ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin keagamaan, yang di satu sisi akan kita taati secara pribadi, tetapi di sisi lain juga membuat kita tetap selaras dengan dunia di mana kita hidup di antara sekian banyak keragaman yang justru akan semakin membuat kita mampu mengenali diri kita sendiri.

Juga, tasawuf keseharian Ostad Elahi itu, rupa-rupanya hendak menekankan pentingnya kesalehan dalam arti sosial di mana kita mesti memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan. “Manusia sejati adalah seseorang yang akan merasa bahagia dengan kebahagiaan orang lain, dan memiliki kepedulian yang tulus pada penderitaan orang lain….” demikian tulisnya dalam catatan otobiografisnya.

Kita dapat mengkomparasikan apa yang dikatakan Ostad Elahi itu dengan sebuah kearifan yang lebih tua, dengan sebuah puisi masyhur yang ditulis seorang penyair Persia yang sudah begitu masyhur, yaitu Saadi: “Anak adam satu raga satu jiwa, tercipta dari muasal yang sama. Jika satu anggota ummat manusia terluka, semua akan merasa terluka. Engkau yang tak berduka atas luka manusia, tak layak menyandang nama manusia.”

Bila demikian, kesalehan keagamaan rupa-rupanya sangat erat kaitannya dengan ikhtiar dan kemampuan reflektif alias penghayatan kita. Yang artinya, kesalehan tidak semata-mata hanya didasarkan pada ketaatan dogmatis buta tanpa akal dan nurani, yang malah membuat kita menjadi bodoh dan jumud, yang nyata-nyatanya lebih mencerminkan kemalasan alias kelesuan spiritual di saat kesalehan dan kepatuhan tersebut nyatanya memang didasarkan lebih pada sikap basa-basi, birokratis, dan sekedar menggugurkan kewajiban semata.

Justru sebaliknya, bila kita membaca khasanah sufisme, kesalehan keagamaan kita justru harus digali dari penghayatan dan perenungan alias refleksi, yang acapkali malah bersifat instrospektif, semisal sekedar mempertanyakan pada diri sendiri dan memeriksa penerimaan dan pemahaman kita tentang dan dari agama yang kita anut dan kita percayai, di saat kita malah tidak bisa harmonis dengan dunia dan lingkungan di mana kita hidup dan ada.

Dan kita tutup esai singkat ini dengan sebuah riwayat tentang Nabi Muhammad saw sebagaimana yang dinarasikan Allamah Majlisi dalam Bihar Al-Anwar:

Suatu waktu, terdapat seorang wanita tua yang buruk perangainya. Ia selalu melemparkan sampah ke arah Nabi Muhammad Saw bilamana Nabi Saw lewat di hadapan rumahnya. Nabi Saw biasa lewat di hadapan rumah nenek tua tersebut setiap pagi bilamana beliau bertolak menuju ke masjid dan setiap pagi wanita ini biasa melemparkan sampah ke arah Nabi Saw akan tetapi Nabi Saw tidak pernah marah kepadanya.

Namun beberapa hari kemudian, keadaan berubah. Kali ini Nabi Saw melewati rumah wanita tua tersebut, tidak ada lemparan sampah yang ditujukan kepada sang Nabi Saw. Nabi Saw merasa heran atas perubahan ini. Beliau berhenti dan bertanya perihal wanita tersebut kepada tetangganya apakah dia baik-baik saja karena dia tidak hadir untuk melemparkan sampah kepada Nabi Saw.

Tetangga wanita tersebut berkata bahwa wanita tua tersebut jatuh sakit dan terbaring di pembaringan. Tatkala wanita tua tersebut melihat Nabi Muhamamad Saw hadir di rumahnya, dia berpikir bahwa Nabi datang untuk menuntut balas atas perbuatannya. Ia berkata “Mengapa Anda tidak menantikan aku hingga sembuh dan kuat?” Nabi Muhamamad Saw berkata bahwa beliau datang bukan untuk menuntut balas, tetapi untuk melihat keadaannya sekiranya ia memerlukan pertolongan.

(***)