Beranda Opini Agama Cinta

Agama Cinta

Agama Cinta
Oleh: Sulaiman Djaya

Cinta adalah dasar perbuatanku” (Muhammad Rasulullah).

Agama itu cinta dan cinta adalah agama” (Imam Muhammad Al-Baqir)





Jalan Iman adalah Jalan Cinta, cinta kepada ahlulbait (Itrah Rasul) sesuai dengan wasiat dan pesan Rasulullah di Haji Wada’ atau pesannya di waktu-waktu lain, dan cinta kemanusiaan. Tanpa cinta kepada dua hal itu, iman kehilangan pelita dan pijakan, kering kerontang, dan melahirkan kebencian kepada sesama manusia hanya karena perbedaan identitas mereka.

Agama di sini adalah gerak dan spirit yang memperjuangkan keadilan dan melawan kezaliman. Iman juga harus dituntun oleh ilmu dan akal yang akan membuatnya melihat, memiliki bashirah, dan tidak terjerembab dalam kebutaan serta kejahiliyahan. Ilmu, cinta, dan akal ini adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun, nahkodanya yang utama adalah cinta.

Lalu apa cinta itu, dalam pengertian yang religius sekaligus humanis? Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Cinta itu seperti air –dengannya hidup segalanya. Seperti bumi –cinta bisa menumbuhkan semuanya.”

Jika kita renungi, hikmah itu lebih luas dan lebih kaya dalam memandang apa itu cinta –pengertian, makna dan cakupannnya, dari sekedar cinta yang dipahami hanya terkait relasi antara dua manusia semata.

Hikmah Imam Ali bin Abi Thalib itu menyatakan secara hermeneutik dan alegorik bahwa cinta menyangkut sikap kita dalam hidup terkait dengan segala hal –tak semata spesifik menyangkut relasi dua manusia, tetapi suatu hukum semesta, agama, dan pengetahuan. Ali, washi-nya dan pintu gerbang ilmu dan hikmahnya Muhammad saw, itu pada dasarnya adalah maestro filsuf dan pujangga.

Dalam sejarah sastra, penyair sekaligus filsuf sufi yang konsen mengurai makna dan penjelajahan kosmologi cinta ini adalah Jalaluddin Rumi.

“Aku bagai benih di bawah tanah
aku menanti tanda musim semi.
Angin kala fajar memiliki rahasia
untuk memberitahumu. Jangan kembali tidur.
Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan,
mengubah orang tak berpendirian
menjadi teguh berpendirian,
mengubah pengecut menjadi pemberani,
mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan,
dan cinta membawa perubahan-perubahan
bagi siang dan malam.”

Karya-karya sastra adiluhung memang biasanya mengandung filosofi dan hikmah, bukan sekedar narasi estetik yang hanya mengejar bentuk belaka, dan para penyair adiluhung biasanya adalah juga para filsuf –yang dalam hal ini contohnya Jalaluddin Rumi, sang filsuf sufi Persia yang kemudian hijrah ke Anatolia itu.

“Karena cinta ampas berubah jadi sari murni,
karena cinta pedih menjadi obat.
Karena cinta kematian berubah jadi kehidupan”.

Jalaluddin Rumi bicara apa saja dengan puisi-puisinya –mulai dari rahmat pagihari dan juga fajar, perenungan senjakala, meditasi malam, hingga upaya menerjemahkan ‘cinta’ sebagai sebuah cakrawala yang mencakup kapasitas pemahaman yang toleran dan sanggup mengerti orang lain, kemampuan bersikap welas-asih kepada sesama –di mana cinta kemudian mewujud dalam kesabaran, peredaman ego yang acapkali mendatangkan amarah dan destruksi, hingga cinta dalam arti yang ‘irfani.

Sampai-sampai bagi Jalaluddin Rumi, cinta adalah ‘kosmos’ dan ‘semesta’ yang menjadi hukum harmoni dan penjaga atau perawat keberlangsungan hidup dan eksistensi manusia,

“Cinta adalah lautan tak bertepi,
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai.
Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi.”

Puisi Jalaluddin Rumi di atas bisa saja dibaca sebagai upaya untuk ‘memahami’ arti dan makna cinta dalam arti yang ‘irfani, suatu kawah kerinduan seorang manusia kepada Sang Khalik karena manisnya iman dan rahmat pengampunan, yang pada saat bersamaan, bersifat manusiawi, sebagai kodrat alami yang ada di dalam diri manusia untuk mengembangkan pemahaman dan sikap welas-asih.

Adakalanya Jalaluddin Rumi pun menegur dan menyindir secara terus-terang dengan gaya dan nada bertanyanya yang khas puitik, ketika ia mengkritik kemalasan intelektual dan spiritual manusia, yang acapkali menjebak manusia hanya menuruti sikap dan karakter yang justru membuat manusia menjadi rendah, tiadanya kemampuan untuk menjadi seorang pencinta, baik secara manusiawi maupun ‘irfani. Semisal manusia-manusia yang hidupnya hanya terseret pada arus komodifikasi, mereka yang terjerembab dalam kehampaan spiritual, meskipun yang ironisnya, mereka adalah juga orang-orang yang mengaku beragama:

“Engkau dilahirkan memiliki sayap
mengapa lebih memilih hidup merangkak?”

Sayap dalam puisi itu tentu saja tidak dimaksudkan secara verbal, seperti misalnya sayap yang dimiliki para burung, melainkan sebagai alegori-aforistis bagi pendakian dan ikhtiar untuk menggapai progress dan ketinggian. Bukankah para burung sanggup terbang ke arah ketinggian karena memiliki sayap? Sehingga, sayap adalah sebuah ‘alegori khusus’ dalam puisi-puisi para penyair-filsuf sufi untuk memaksudkan makna dari fungsi sayap dalam arti verbal tersebut, sebagaimana alegori kedai dan anggur demi menerjemahkan kerinduan dan madrasah ‘pelatihan’ bathin.

Secara semantis dan hermeneutis, ‘cinta’ yang berusaha dimaknakan dan diberi pengertian dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi adalah cinta dalam arti yang luas –cinta yang baginya unsur utama semesta dunia ini, semisal dasar bagi penciptaan semesta dan serta hukum yang menjaga dan mengaturnya, bukan semata cinta ingusan anak-anak remaja, misalnya.

Sementara itu, secara ‘irfani, cinta yang dimaksudkan dalam puisi-puisinya Jalaluddin Rumi adalah cinta dalam arti yang mistis dan spiritual antara manusia dengan Sang Khalik berkat iman, yang karena iman itulah, lahir dan tumbuh-lah harapan dan pemahaman yang benar. Sebab, banyak mereka yang mengaku beragama hanya basah di kulit, tapi hatinya kering-kerontang.

Memang, cinta-lah yang membuat seseorang menyandang predikat ‘person’ dalam hidupnya, dan personalitas adalah manifestasi kepribadian. Dan sebelum mengakhiri tulisan ini, tak ada salahnya kita baca puisinya Yunus Emre berikut:

Cinta adalah mazhab dan agamaku.
Saat mataku melihat wajah Sang Sahabat,
semua derita menjadi riang.

Ini, Rajaku,
kupersembahkan diriku pada-Mu.
Sejak mula hingga akhirnya
segala harta kekayaanku hanya diri-Mu.

Awal akal dan jiwa ini,
ketika jarak bermula
adalah bersama-Mu.
Engkaulah ujungnya, dan segala diantaranya
Aku hanya bisa maju ke arah-Mu.

Jalanku adalah dari-Mu, menuju-Mu.
Lidahku bicara tentang-Mu, dalam diri-Mu.
Walau begitu, tanganku tak bisa menyentuh-Mu.
Pemahaman ini mempesonakan daku.

Tak bisa lagi kusebut diriku “aku”.
Tak bisa lagi kusebut siapapun “engkau”.
Tak bisa kubilang ini hamba dan itu raja.
Itu takkan masuk akal.

Sejak kudapatkan cinta dari Sang Sahabat
alam ini dan alam berikutnya menyatu.
Kalau kau bertanya tentang awal yang tak berpangkal
dan akhir yang tak berujung,
itu hanya siang dan malam bagiku.

Tak bisa lagi aku berduka
atau hatiku bermuram durja,
karena suara kebenaran telah didengar,
dan aku kini dalam pesta pernikahanku.

Jangan biarkan aku mengembara dari cinta-Mu,
jangan biarkan aku meninggalkan pintu-Mu,
dan jika aku kehilangan diriku,
biarlah kutemukan dia sedang bersama-Mu.

Sang Sahabat menyuruhku kemari.
Pergi dan lihatlah dunia, katanya.
Aku telah datang dan menyaksikan
alangkah indahnya ia ditata.
Tapi mereka yang mencintai-Mu tak berhenti disini.

Dia katakan pada para hamba-Nya,
Esok kan Kuberi kalian surga.
Esok yang itu adalah hari-ini ku.

Siapa lagi yang mengerti kebenaran dan penderitaan ini?
Dan andai pun terpahami,
itu takkan terkatakan.
Maka kuhadapkan wajahku pada-Mu.

Engkaulah kehidupan dan alam semesta,
harta yang dirahasiakan.
Segala raih dan lepas adalah dari-Mu.
Tindakanku tak lagi jadi milikku.

Yunus menghadapkan wajahnya pada-Mu
melupakan dirinya.
Dia sebut setiap kata bagi-Mu.
Engkaulah yang menjadikannya bicara. (*)