Beranda Pemerintahan 4.000 Peserta Akan Peringati HUT Banten ke-18 di Alun-alun Masjid Banten Lama

4.000 Peserta Akan Peringati HUT Banten ke-18 di Alun-alun Masjid Banten Lama

Kawasan Banten Lama - foto istimewa google.com

SERANG – Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy menyatakan upacara peringatan hari ulang tahun (HUT) Provinsi Banten yang ke-18 akan berlangsung di Alun-alun Masjid Agung Banten Lama, Kota Serang, pada tanggal 4 Oktober 2018 mendatang. Saat ini Andika mengklaim pembangunan fisik untuk area tersebut sudah mencapai 40 persen.

“Ada progres yang signifikan yang saya pantau, saya lihat, karena pelaksanaan ini kan harus berkoordinasi dengan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya),” kata Andika ditemui di Banten Lama, Kota Serang, Banten, beberapa waktu lalu.

Menurut Andika, lambannya proses pembangunan fisik di kawasan tersebut karena ada beberapa titik yang harus mendapat persetujuan dan arahan dari pihak BPCB.

“Jadi ada beberapa hal yang bukan bertahan, tapi harus menunggu aturan dan arahan BPCB agar tidak salah dalam penempatan dan pembangunan sesuatu di kawasan ini.”

Terkait rencana peringatan HUT Banten di area bersejarah itu, Andika mengatakan Pemprov Banten akan mengundang 4.0000 peserta yang akan mengikuti upacara peringatan HUT Banten.

“Insya Allah bisa dilaksanakan di Alun-alun, kita sudah marmer pada saat ini,” jelasnya.

Rencananya, usai kegiatan upacara peringatan HUT Banten akan berlangsung mulai dari pengobatan gratis, pasar rakyat dan pesta rakyat. “Ada panjat pinang dan permainan rakyat lain untuk menghibur masyarakat sekitar,” kata dia.

Direktur Bantenologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten, Helmi Faizi Bahrul Ulumi membari saran agar pembangunan fisik area Banten Lama melibatkan persiapan masyarakat sekitar yang multi etnis. Salah satu pemberdayaan masyarakat, menurut Helmi yakni menghidupkan kembali kesenian di masyarakat.

“Kalau mau dihidupkan lagi kesenian di masyarakat yang menopang aspek kebudayaannya, maka harus ada upaya revitalisasi beberapa kesenian sebagai penopang wisata Banten Lama. Misalnya ada amfiteater, siapa yang akan pentas di situ. Makanya harus mengedukasi masyarakat,” kata Helmi.

Pemberdayaan masyarakat tersebut dinilai penting untuk menghindari kebiasaan sebagian masyarakat yang mengandalkan dari hasil mengemis maupun kotak amal alias keropak.

“Keropak (kotak amal) dan tiket masuk dikelola pemerintah, tinggal yang lain difasilitasi pemerintah. Mulai dari pasar, tempat pentas seni. Masyarakat harus disiapkan, menjadi seniman pertunjukan, penyedia home stay, kampung wisata, dan sebagainya.” (you/red)