Beranda Gaya Hidup Yuk! Ngabuburit di Pantai Gope

Yuk! Ngabuburit di Pantai Gope

356
0
Pantai Gope, Karangantu, Serang. (Sumber foto: deticom).

SERANG – Ngabuburit sembari menikmati indahnya sunset sepertinya menjadi pilihan menarik. Nah, di Kota Serang, tepatnya di Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN) Karangantu, Kasemen, Kota Serang kini tengah jadi primadona bagi pecinta wisata, khususnya kawula muda.

Di sore hari menjelang berbuka, Pantai Gope atau Pantai Karangantu selalu ramai dipadati pengunjung yang nobatene anak muda setiap harinya. Sembari menunggu waktu berbuka, di Pantai Gope ini pengunjung menghabiskan waktu untuk sekadar bercengkrama, berswafoto, memancing, hingga menikmati senja.

Di lokasi ini, terdapat dermaga yang dijadikan tempat selfie para wisatawan. Tak hanya itu, aktivitas perahu nelayan yang hilir mudik jadi pemandangan yang juga tak kalah menari, apalagi jika Anda datang bersama keluarga dan orang terkasih.

Wisata Pantai Gope tersebut dihiasi panorama air laut yang tenang dan bersih. Sekitar lokasi banyak dijumpai tanaman bakau yang hijau. Penamaan Pantai Gope sendiri berawal dari cerita pengunjung wisata. Setiap wisatawan yang masuk ke lokasi membawa kendaraan akan dipungut biaya sebesar Rp500 atau gope.

“Disebut Pantai Gope karena bayar masuk kendaraan sekaligus parkirnya gope,” ujar Satria, salah satu penjaga Pantai Gope.

Meski tidak ada lokasi untuk berenang, namun Pantai Gope sudah akrab di telinga masyarakat Banten, bahkan kini tengah jadi perbincangan. Terbukti, setiap memasuki akhir pekan lokasi tersebut banyak dipadati wisatawan. Jika Anda hobi memancing, tak ada salahnya membawa perlengkapan memancing. Sebab di pantai tersebut terdapat spot-spot untuk aktivitas mancing.

Pelabuhan Karangantu

Selain memiliki pantai yang indah, Pantai Gope atau Pantai Karangantu ternyata menyimpan nilai-nilai sejarah Banten tempo dulu. Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan terbesar kedua setelah Pelabuhan Sunda Kelapa di Jayakarta.

Pada abad 16, pelabuhan ini menjadi tempat persinggahan para pedagang sebelum melanjutkan perjalanan ke benua Australia. Bahkan, Belanda saat pertama kali masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1596 memakai jasa pelabuhan ini untuk berlabuh. Gubernur Belanda Jan Piterzoon Coen pernah membuat catatan soal perahu Tiongkok yang membawa barang senilai 300.000 real di Karangantu.

Pelabuhan Karangantu tidak hanya tercatat dalam buku, namun peninggalan barang berharga yang pernah diperjualbelikan dapat dilihat di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Konon, nama Karangantu sendiri menurut mitos yang beredar di masyarakat lahir karena saat itu ada seorang Belanda yang membawa guci berisikan hantu. Hingga suatu hari guci itu pecah dan hantu yang di dalamnya keluar. Mulai saat itulah pelabuhan yang telah berganti menjadi kampung nelayan ini diberi nama Pelabuhan Karangantu. (Red)

loading...