Pagi belum sepenuhnya ramai saat deru mesin motor klasik mulai memecah udara di Tugu Benteng Kondusif, Kota Tangerang. Satu per satu motor tua, berumur puluhan tahun, berkarakter keras berbaris rapi.
Di atasnya, para anggota Bikers Brotherhood 1% MC (BB1% MC) Banten Chapter bersiap menempuh perjalanan panjang. Bukan sekadar touring, ini adalah cara mereka merawat persaudaraan.
Sabtu, 3 April 2026, Mandatory Run 1 dimulai. Rute yang dipilih bukan jalur singkat. Mereka menyisir utara Banten—Sepatan, Kresek, Tanara—hingga Banten Lama, wilayah yang sarat sejarah.
Aspal panjang, panas, dan debu tak jadi soal. Di setiap putaran roda, ada cerita tentang loyalitas dan identitas.
Motor-motor klasik asal Eropa dan Amerika itu bukan hanya kendaraan. Bagi mereka, itu adalah simbol tentang konsistensi, tentang menjaga nilai di tengah zaman yang serba cepat.
Perjalanan lalu berbelok ke selatan. Jalur menanjak Gunungsari dan Ciomas menguji mesin sekaligus fisik. Hingga akhirnya rombongan tiba di Mandalawangi, Pandeglang.
Di titik ini, perjalanan berubah menjadi pertemuan. Bukan hanya antar anggota, tapi juga dengan keluarga yang sudah menunggu.
Di sanalah suasana mencair. Tidak ada lagi helm dan jaket tebal. Yang tersisa adalah tawa, pelukan, dan saling sapa dalam Halal Bihalal yang hangat.
Presiden BB1% MC Banten Chapter, Bobby Lesmana, menyebut perjalanan ini sebagai bagian dari menjaga “marwah” komunitas. Namun di balik istilah itu, ada makna yang lebih sederhana: kebersamaan yang dijaga, bukan sekadar diucapkan.
“Ini bukan cuma riding. Ini tentang bagaimana kita tetap solid, tetap satu,” ujarnya.
Perayaan hari jadi ke-3 Banten Chapter memang tidak berhenti di jalanan. Sebelum kegiatan ini, mereka lebih dulu bergerak dalam diam menyalurkan Al-Qur’an ke sejumlah masjid dan musala di Kota Tangerang. Tanpa banyak sorotan, tanpa panggung.
Bagi BB1% MC, solidaritas tidak hanya diuji saat konvoi panjang, tapi juga saat memberi tanpa harus dilihat.
Di tengah citra komunitas motor yang kerap disalahpahami, mereka mencoba menunjukkan sisi lain: bahwa di balik suara knalpot yang keras, ada ruang untuk empati dan kepedulian.
“Wheel of Unity” bukan sekadar tema. Ia hidup di setiap kilometer yang mereka tempuh di jalan panjang, di persimpangan, hingga di titik akhir yang selalu sama: kembali sebagai saudara.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
