CILEGON — Wakil Ketua DPRD Kota Cilegon, Sokhidin, menegaskan bahwa anggaran tak terduga atau Belanja Tak Terduga (BTT) dalam APBD 2026 harus diperkuat sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi berbagai potensi bencana.
Menurutnya, sekalipun BTT sering kali tidak terpakai, keberadaannya merupakan bagian vital dari sistem respons cepat ketika terjadi musibah atau kondisi luar biasa yang tidak dapat diprediksi.
“BTT itu harus ada. Meskipun tidak digunakan, kita tidak pernah tahu kapan bencana datang. Situasi darurat tidak tunggu-tunggu. Ketika musibah terjadi, anggaran itu yang akan menyelamatkan,” ujar Sokhidin dalam podcast BantenNews.co.id dikutip Sabtu (13/12/2025).
Sokhidin menjelaskan bahwa karakter wilayah Cilegon membuat kebutuhan anggaran darurat semakin penting. Kota ini tidak hanya memiliki potensi bencana alam seperti banjir dan cuaca ekstrem, tetapi juga memiliki risiko tinggi terhadap bencana industri karena konsentrasi kawasan manufaktur serta aktivitas pertambangan di daerah sekitar seperti Mancak, Kabupaten Serang.
Kondisi topografi dataran tinggi dan rendah juga membuat limpasan air hujan dari wilayah sekitar berpotensi mengalir ke Cilegon, meningkatkan risiko banjir. Situasi tersebut, menurut Sokidin, menuntut kesiapan ekstra.
Ia menekankan bahwa BTT bukan hanya pos cadangan, tetapi elemen strategis dalam perlindungan masyarakat. Anggaran tersebut diperlukan untuk penanganan cepat terhadap banjir, longsor, kebakaran, kecelakaan industri, pemulihan infrastruktur vital, hingga pemberian bantuan darurat bagi masyarakat terdampak.
Tanpa BTT yang memadai, pemerintah akan kesulitan memberi respons awal dan berpotensi mengalihkan dana dari program-program penting lainnya, yang dapat mengganggu pelayanan dasar masyarakat.
“Bencana di Cilegon bukan hanya bencana alam. Yang paling mengkhawatirkan adalah bencana industri. Maka anggaran darurat harus diperkuat. Jangan sampai kita baru menyiapkan saat musibah sudah terjadi,” tegasnya.
Sokhidin mendorong pemerintah kota menambah besaran BTT karena jumlah yang ada dinilainya masih terlalu kecil jika dibandingkan risiko bencana yang mengintai kota.
Ia menegaskan DPRD mendukung sepenuhnya penguatan anggaran selama penyusunannya dilakukan secara terencana dan sesuai peraturan. Ia menyebut BTT sebagai “investasi keselamatan” yang harus dipandang sebagai kebutuhan mendasar, bukan pengeluaran tambahan.
“Sedia payung sebelum hujan itu wajib. Cilegon punya risiko tinggi, maka cadangan fiskalnya harus kuat,” ungkapnya.
Wakil Ketua DPRD itu juga memastikan DPRD akan mengawasi penggunaan BTT secara ketat agar hanya digunakan untuk kejadian luar biasa dan tidak disalahgunakan.
Menurutnya, penguatan BTT juga harus dibarengi dengan pemetaan risiko bencana, kesiapan logistik darurat, dan koordinasi lintas instansi untuk memastikan seluruh instrumen mitigasi berjalan optimal. Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar Cilegon selalu aman, namun tetap siaga terhadap segala kemungkinan.
Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin
