
LEBAK — Pagi di sebuah rumah sederhana di Komplek Narimbang Baru, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, terasa lebih hening dari biasanya. Di sudut ruang, Siti Fatimah duduk bersimpuh di atas sajadah.
Bibirnya bergetar lirih, matanya basah. Di usia 91 tahun, ia bersiap menempuh perjalanan yang ia tunggu seumur hidup: menunaikan ibadah haji.
Tak banyak yang menyangka, perempuan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai guru agama ini kini tercatat sebagai calon jemaah haji tertua asal Kabupaten Lebak tahun ini.
Namun bagi Fatimah, usia bukan penghalang. Ia justru menjadi saksi panjangnya penantian.
“Alhamdulillah… saya senang sekali. Saya berangkat bersama anak saya,” ucapnya pelan, Sabtu (2/5/2026).
Di balik senyumnya, tersimpan cerita tentang keteguhan. Tubuhnya memang tak lagi sekuat dulu.
Langkahnya pelan, kesehatannya sempat menurun. Bahkan dokter sempat heran melihat kondisinya. Namun satu hal yang tak pernah goyah, keinginannya menjadi tamu Allah.
Setiap malam, ia mengadu di atas sajadah. Air mata menjadi bahasa yang paling jujur.
“Saya sering nangis, minta kesehatan dan keselamatan. Semoga bisa menjalankan ibadah dengan baik,” katanya.
Ia tidak berangkat sendiri. Anak keempatnya memilih mendampingi, memastikan setiap langkah ibunya di Tanah Suci tetap terjaga. Bagi Fatimah, kehadiran sang anak menjadi penguat, bukan hanya fisik, tetapi juga batin.
“Kalau sendiri saya takut. Tapi kalau sama anak, saya lebih tenang,” ujarnya.
Di rumahnya, persiapan haji tidak hanya soal koper dan pakaian ihram. Ia menyiapkan hati. Ia merapikan niat. Ia menguatkan doa.
Di sela-sela waktu, ia masih menyempatkan diri mengulang bacaan doa, mengingat kembali tuntunan ibadah yang dulu ia ajarkan kepada murid-muridnya.
Kini, pelajaran itu ia jalani sendiri dengan tubuh renta, namun iman yang terasa semakin muda.
Tetangga sekitar mengenalnya sebagai sosok sederhana dan tekun. Banyak yang datang sekadar mendoakan, sebagian lagi terinspirasi.
“Beliau ngajarin kita sabar. Nunggu sampai umur segitu, tapi tetap semangat,” kata salah satu warga.
Perjalanan ke Tanah Suci memang tidak singkat. Bagi Fatimah, ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati yang telah ia mulai sejak lama mungkin sejak pertama kali ia mengajarkan rukun Islam kepada murid-muridnya.
Kini, ketika kesempatan itu akhirnya datang, ia tidak meminta banyak. Hanya satu harapan yang terus ia ulang dalam doa-doanya.
“Semoga semua jemaah sehat, selamat, dan pulang membawa haji yang mabrur,” ucapnya.
Di usianya yang sepuh, Siti Fatimah tidak hanya berangkat haji. Ia membawa kisah tentang kesabaran, keyakinan, dan harapan yang tak pernah padam bahwa panggilan Tuhan selalu datang, pada waktu yang paling tepat.
Penulis : Sandi Sudrajat
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd