Beranda Opini Urgensi Literasi Digital untuk Anak

Urgensi Literasi Digital untuk Anak

Ilustrasi - foto istimewa dari Apple Tree Preschool BSD City

Oleh : Dr. Bambang Pujiyono, MM, M.Si, Dosen Fisip Universitas Budi Luhur Jakarta dan Narasumber Literasi Digital

 

Setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai hari anak. Suatu bentuk apresiasi yang tidak hanya bersifat seremonial, namun ada harapan dan cita-cita yang besar dari anak. Anak merupakan generasi yang diamanahkan oleh Tuhan yang secara biologis diturunkan dari pasangan suami istri. Secara sosiologis, kelahiran anak memiliki harapan dan cita cita menjadi generasi yang mampu melanjutkan perjuangan dari generasi sebelumnya. Negara dan bangsa ini menjadi warisan yang harus dilanjutkan oleh generasi yang berawal dari terminology anak ini.

Lebih dari setahun era pandemic covid 19 berlalu namun belum berakhir. Di era ini, anak-anak mengalami suatu massa yang sangat berbeda dari kondisi yang selama ini pernah dialami. Salah satu perubahan yang terjadi masuknya anak-anak dalam kehidupan virtual. Era pandemi telah merubah kehidupan anak dari dunia riil ke dunia virtual. Segala aktivitas sebagiar aktivitas harus menggunakan teknologi. Anak anak menjadi terbiasa menggunakan teknologi. Kecepatan belajar menggunakan teknologi terkadang melebihi batas usianya. Banyak anak yang cepat mengetahui lebih jauh isi ruang public dengan teknologi digital yang dipelajarinya.

Satu sisi, teknologi tersebut memberi sesuatu yang positif, di mana anak-anak bisa bekerja cepat dan lebih modern. Di sisi lain, anak-anak kurang bekal untuk masuk ruang digital sehingga banyak kasus yang menimpanya. Kasus penipuan, bullyng, penistaan, pencurian, dan lain-lain juga terjadi pada anak-anak karena pengetahuan dan pemahaman ruang digitalnya masih rendah. Tentu saja, situasi ini mengkawatirkan bagi perkembangan anak-anak sebagai generasi yang akan menjagi pemimpin masa depan bangsa dan Negara ini.

Lantas, apa relevansinya dengan hari anak ? tulisan ini mencoba untuk menempatkan anak sebagai generasi masa depan dengan membekali literasi dasar sehingga anak mengenal dan mampu mengisi ruang digital dengan Sesutu yang positif sesuai dengan usia biologis dan sosiologisnya.

Literasi Digital Untuk Anak

Pengetahuan dasar tentang literasi digital bagi anak angat penting. Anak harus diberi pemahaman tentang penggunaan teknologi di ruang digital. Karena di ruang digital siapapun memiliki hak dan kewajiban yang sama. Siapapun dapat mengisi ruang digital dengan informasi yang bersifat mendidik, menghibur, memberi pengetahuan. Hal ini berarti bahwa siapapun dapat mengisi ruang public dengan apapun yang bisa diproduksi dan sebagai bagian dari kreasinya. Selain kewajiban, siapapun juga memiliki hak di ruang digital. Siapapun berhak untuk dihargai karya-karyanya karena terkait dengan hak kekayaan intelektual, hak dihargai sebagai manusia, dan hak untuk mendapatkan informasi apapun dari ruang public.

Pengisian ruang digital ini tentu saja menggunakan teknologi. Teknologi mudah dipelajari, sehingga tidak heran jika anak-anak lebih terampil menggunakan teknologi. Anak-anak sangat produktif berkreasi dan beradu cepat untuk bisa mengisi ruang digital ini. Apa yang dihasilkan baik langsung maupun tidak langsung, secara cepat disharing ke ruang digital. Bahkan tanpa filterisasi, karena memang anak-anak belum mampu berfikir kausalitas tentang apa yang dilakukan.

Terbukanya ruang digital dan begitu mudahnya teknologi dipelajari oleh anak-anak, membawa implikasi yang luar biasa pengaruhnya bagi kehidupan. Apa yang dilakukan oleh anak-anak di ruang digital melebihi dan melewati batas-batas normative. Anak-anak konsumtif terhadap konten-konten yang berada di luar kewajaran dan sulit dikendalikan.

Dalam kondisi yang rentan seperti di atas, literasi digital bagi anak menjadi sesuatu yang urgen. Anak-anak perlu mengenal dan memahami teknologi dan ruang digital. Literasi digital ini sangat penting bagi anak-anak sehingga bisa menjadi bagian ruang digital yang mampu menggunakan teknologi secara positif. Literasi digital sebagai upaya mitigasi, agar anak lebih siap menggunakan teknologi dan memasuki ruang digital.

 

Mengajarkan 4 Pilar digital

Agar anak bisa memanfaatkan teknologi dan bisa mengisi ruang digital secara positif, perlu belajar literasi digital. Secara standar, terdapat empat pilar dalam literasi digital (Modul Literasi Digital, Kominfo, 2021), yang mesti dikenalkan kepada anak. Secara umum, ringkasan dari keempat pilar tersebut meliputi:

Pertama, kecakapan digital. Anak-anak sudah saatnya diajari kemampuan menggunakan teknologi. Kemampuan dasar yang wajib dikenalkan kepada anak-anak seperti mengenal piranti digital (hard ware dan software), keterampilan menggunakan mesin pencari informasi, ketrampilan menggunakan media berkawan dan percakapan, serta mengenalkan aktivitas pembayaran secara online. Pengenalan terhadap beberapa kecakapan ini, dalam level yang sederhana harus dilakukan. Anak-anak yang mengenal kecakapan apa saja yang harus dimiliki, minimal sudah mempersiapkan anak untuk masuk ke ruang digital.

Kedua, keamanan digital. Anak-anak juga perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara aman. Artinya anak-anak mulai dikenalkan dengan kerahasiaan data pribadi, membuat password yang aman, tidak dengan mudah membuka informasi yang tidak jelas dari email yang tidak dikenalnya, dan sebagainya. Ajaran ini akan memberi bekal kepada anak, bahwa di ruang digital harus berhati-hati dan menjaga keamanan data.

Ketiga, budaya digital. Anak-anak perlu diajari mengisi konten yang positif. Konten-konten yang positif bagi anak-anak disesuaikan dengan nilai-nilai dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Artinya bahwa anak-anak diberikan keleluasaan untuk menginformasikan keragaman yang ada di Indonesia. Pengetahuan tentang budaya local silahkan disebarluaskan sehingga bisa dikenal oleh public yang lebih luas. Anak-anak perlu dibangun suatu kebanggaan dan rasa nasionalisme yang kuat. Meskipun ada di ruag digital, anak-anak harus bangga dengan Negara Indonesia.

Keempat, kecakapan etika. Anak-anak dalam mengsisi ruang digital harus menggunakan sopan santun. Kita ajarkan kepada anak-anak, bahwa rungan digital itu sama saja dengan dunia nyata. Interaksi sosial yang terjadi juga mengikuti norma-norma. Bahwa sesama pengguna ruang public harus saling menghormati, saling menghargai. Dengan menggunakan sandaran etika di ruang public, anak-anak akan menjadi generasi yang sopan dalam berinteraksi di ruang digital.

Keempat pilar literasi digital di atas harus dikenalkan dan dipahami oleh anak-anak. Anak-anak akan menggunakan ruang public sesuai dengan kebutuhannya, sehingga kekuatiran bahwa anak-anak akan menggunakan teknologi dan mengisi ruang digital dengan hal negative bisa diminimalkan. Sebaliknya, anak-anak bisa menggunakan teknologi untuk mengisi ruang digital dengan suatu informasi yang produktif dan positif.

Peran Orang Tua

Peran orang tua dalam menyiapkan anak-anak di era digital sangat penting. Orang tua dalam konteks ini berarti luas bisa orang tua biologis, guru, kakak atau siapapun yang mampu mengajari literasi digital. Peran apa yang harus diberikan kepada anak-anak agar mampu mengisi ruang digital secara positif ? berikut ini beberapa hal yang perlu dilakuka yaitu :

Pertama, mendekati. Orang tua harus dekat dengan anak dengan tujuan untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh anak. Aktivitas anak terkait pelajaran sekolah atau yang lainnya harus diketahui oleh orang tua. Orang tua harus mampu mengontrol dan mengendalikan penggunaan teknologi oleh anak. Sesibuk apapun waktu dan aktivitas orang tua, harus meluangkan waktu untuk bersama anak dalam menggunakan teknologi di ruang digital.

Kedua, mengajari. Orang tua harus menjadi guru bagi anak dalam mengisi ruang digital. Orang tua harus mengajari anak untuk membuat konten-konten yang positif. Hal-hal positif terkait aktivitas anak dalam keseharian boleh disharing ke public sebagai sesuatu yang sifatnya memberi contoh motivasi dan sebagainya.

Ketiga, mendiskusikan. Orang tua harus menjalankan peran sebagai teman diskusi bagi anak di ruang digital. Anak harus diajari untuk mempertimbangkan baik dan buruk jika suatu pesan dibagikan ke ruang digital. Anak juga diajari untuk memberi pendapat terkait konten yang didiskusikan dengan orang tua. Peran ini penting, dengan harapan anak selalu mendiskusikan konten/pesan sebelum dibagikan kepada public di ruang digital.

Keempat, memutuskan. Peran orang tua dalam mengajari anak untuk membuat keputusan juga penting. Anak harus diajari, bahwa setiap keputusan membawa implikasi baik positif maupun negatif. Hal yang perlu diajarkan kepada anak, bahwa sebelum memutuskan untuk membagi informasi ke ruang public di era digital ini harus melalui proses pertimbangan yang matang.

Semoga, beberapa hal penting di atas, bisa menjadi renungan bersama bagi orang tua untuk mempersiapkan anak di era digital. Kita sepakat, literasi digital memberi modal bagi anak agar bisa mengisi ruang digital secara produktif dan positif bagi siapapun.

(***)