
SERANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Serang mulai membidik program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pasar baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta Industri Kecil Menengah (IKM) lokal.
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DinkopUKMPerindag) Kota Serang tengah menyusun skema rantai pasok untuk menghubungkan produk UMKM dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), perusahaan besar, perhotelan, hingga Koperasi Merah Putih.
Kepala DinkopUKMPerindag Kota Serang, Wahyu Nurjamil, mengatakan skema tersebut bertujuan membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
“Dinkop UKM Perindag sekarang sedang menyusun sebuah mekanisme berkaitan dengan rantai pasok. Artinya para pengusaha UMKM dan IKM yang ada di Kota Serang, yang berkegiatan mikro, akan kita salurkan sebagai supply kepada perusahaan-perusahaan besar,” ujar Wahyu, Rabu (2/9/2026).
Wahyu menyebut, sektor pemasaran produk UMKM tidak hanya menyasar perusahaan besar. Pemkot juga mengincar kebutuhan perhotelan, SPPG, dan Koperasi Merah Putih.
“Banyak. Nanti kita ke perhotelan, terus juga ke perusahaan besar, termasuk juga kepada SPPG dan Koperasi Merah Putih,” katanya.
Untuk menjalankan skema tersebut, DinkopUKMPerindag akan memetakan seluruh UMKM dan IKM berdasarkan jenis produk yang mereka hasilkan. Pemkot kemudian mencocokkan produk dengan kebutuhan calon pengguna.
“Ini kita petakan semuanya para pengusaha UMKM dan IKM, produknya apa saja. Nanti itu yang kita salurkan kepada beberapa komponen kegiatan ekonomi yang ada di Kota Serang,” jelasnya.
Sejumlah produk khas Kota Serang memiliki peluang masuk dalam pengembangan pasar tersebut. Wahyu menyebut sate bandeng, rabeg, kue satu, serta berbagai produk olahan lain sebagai produk unggulan lokal.
“Kalau untuk unggulan kan kita ada sate bandeng, ada terus rabeg, ada kue satu dan lain-lainnya,” ujarnya.
Namun, Pemkot tidak bisa asal memasukkan produk UMKM ke rantai pasok pangan. Pelaku usaha harus memenuhi standar kualitas dan memiliki informasi kandungan gizi yang jelas, terutama jika produknya masuk kebutuhan SPPG.
Karena itu, DinkopUKMPerindag akan menggandeng perguruan tinggi untuk menguji kandungan gizi produk UMKM, termasuk kadar karbohidrat dan protein.
“Termasuk juga dalam hal pembiayaan, kita akan melibatkan perbankan. Terus juga termasuk dari universitas. Karena setiap UMKM itu kan harus dilihat nilai gizi produknya berapa,” kata Wahyu.
Selama ini, pelaku UMKM mengirim sampel produk ke Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengetahui kandungan gizinya. Pemkot Serang berharap perguruan tinggi di Kota Serang bisa mengambil peran sehingga proses pengujian lebih mudah dan dekat dengan pelaku usaha.
“Kalau sekarang biasanya kita mengirimkan produknya ke IPB untuk dikaji berapa nilai karbohidratnya, berapa proteinnya. Nanti itu mudah-mudahan bisa diinisiasi oleh universitas yang ada di Kota Serang,” ujarnya.
Pemkot Serang berharap skema ini tidak berhenti pada pembukaan pasar baru. Pemerintah ingin UMKM lokal masuk ke rantai pasok yang berjalan rutin sehingga pelaku usaha mendapat kepastian permintaan dan memiliki peluang untuk berkembang.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd