Beranda Pemerintahan Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Melalui GSI

Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Melalui GSI

94
0
Pembinaan dan Penyuluhan KIA bagi kader poktan KB BKB (bina keluarga balita) dan BKR (bina keluarga remaja), di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu (8/8/2018). (Ade/bantennews)

SERANG- Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Serang menggalakan gerakan sayang ibu (GSI) yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Kepala bidang Ketahanan dan Kesejahtraan Keluarga DP3AKB Ida Dahlia mengatakan, diharapkan program ini bersinergi dengan program lain seperti desa siaga. Dimana tujuannya kembali lagi yakni untuk menurunkan AKI dan AKB. “Dalam GSI ini melibatkan para kader, lokus kami kampung binaan, kampung KB (keluarga berencana) dan wilayah yang ditunjuk P2WKSS (Program terpadu Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan sejahteraks),” ungkap Ida yang ditemui disela-sela kegiatan Pembinaan dan Penyuluhan KIA bagi kader poktan KB BKB (bina keluarga balita) dan BKR (bina keluarga remaja), di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu (8/8/2018).

Melalui GSI ini melindungi ibu dan anak, dimana perlindungannya mulai dari menjaga ibu hamil, memeriksa kandungan, sampai pada mengurus bayi. Itu semua dibutuhkan peran keluarga dan masyarakat dibantu oleh para kader. Jika pas mau melahirkan harus disiapkan ambulance khawatir harus dirujuk, kemudian butuh darah disiapkan, sehingga mulai kehamilan dan melahirkan terjaga. “Selain itu menyiapkan tabulin (tabungan kehamilan).
Kalau semua keluarga, masyarakat peduli, maka AKi dan AKB bisa ditekan dan meningkatkan kualitas ibu dan anak,” katanya.

Makanya dalam kegiatan ini yang dihadiri 150 orang merupakan kelompok BKB dan BKR di wilayah kampung KB dan P2WKSS. Dimana kampung KB di Kota Serang sudah ada 7.
Plt Kepala DP3AKB Kota Serang Kosasi mengatakan, Satgas GSI merupakan lini terdepan dan GSI dapat mensinergikan antara pendekatan lintas sektor dan masyarakat dengan pendekatan sosial budaya secara komperhensif yang paling utama dalam mempercepat penurunan AKI. Selain itu katanya, guna mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera yang ia berharap, keluarga perlu melaksanakan fungsi-fungsi keluarga secara baik yang berjumlah ada 8. Kedelapan fungsi keluarga tersebut yaitu agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Delapan fungsi keluarga tersebut perlu dipahami dan menjadi materi penting dalam membina keluarga baik melalui program ketahanan dan pemberdayaan keluarga misalnya BKB, BKR dan bina keluarga lansia (BKL) serta usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) maupun melalui pelaksanaan 10 program PKK.

“Pada dasarnya program-program ini bersinergi dengan program PKK,” katanya.

Karena lanjutnya, memiliki sasaran yang sama yaitu keluarga. Pihaknya berharap melalui pemberdayaan keluarga akan tercapai keluarga yang berkualitas yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. “Menyadari akan pentingnya pembinaan tumbuh kembang anak sejak dini maka fungsi dan peranan orang tua sangatlah penting di dalam membina asih, asah, asuh anak mereka untuk itu saya berharap kepada semua kader dan pembina di wilayahnya agar bersama-sama membina keluarga khusunya melalui kolompok-kelompok BKB,” ucapnya. (Dhe/Red).