Beranda Opini Tongkat Sihir Pak Tedi

Tongkat Sihir Pak Tedi

 

Oleh : Arip Senjaya, Dosen Untirta

Dalam esai “Wasit” saya sudah menyinggung guru gemilang itu, tapi bukan pada tempatnya di sini saya memuji-muji beliau. Biar Allah semata yang tahu betapa besar peran beliau dalam membangun manusia melalui sastra, paling tidak seperti yang saya rasakan hingga sekarang. Segala puji hanya milik Allah.





Lebih baik kita lanjutkan diskusi kita pada fungsi Pak Tedi.

Di tengah-tengah kami belajar Mendel dan reduksi-reduksi fisika dan kimia terhadap biologi yang membuat kami hampir kehilangan cinta dan jika membahasnya terasa bagai dosa atau penghalang karier kami masuk perguruan tinggi ternama, sebenarnya kami masih peroleh cinta itu dari sastra. Pak Tedi akan membahas beberapa novel, pandangan beberapa orang saleh dan beberapa cerdik cendekia, kelucuan-kelucuan kita dalam bahasa Indonesia, dan beliau akan membaca puisi-puisi terpilih dan terbaik. Semua tentu dalam perspektif beliau.

Kadang-kadang beliau juga menyelipkan nasihat cara meningkatkan takwa dengan alegori-alegori yang mudah. Misal, “Tak usah membayangkan Allah melihatmu saat salat. Bayangkan saja seorang kiyai, seorang saleh, sedang melihatmu.” Atau, “Jangan bayangkan Nabi melihat salatmu, tapi bayangkan saja kamu sedang salat di atas lautan.” Setelah itu beliau akan cerita secara samar tentang masa jahiliyahnya dan masa ketercerahannya oleh ilmu dan agama. Masa jahiliyah macam apa yang dialami beliau, tentu hanya beliau dan Allah yang tahu. Lagi pula tak ada manusia tanpa masa lalu berlumur dosa, dan hijrah berarti sadar bahwa tugas manusia adalah mengubah diri sebelum orang lain. Esai ini tepat saya tulis di Hari Guru 25/11/20, dan Pak Tedi sudah dan masih bertugas mengubah kami. Tak ada bekas guru, semua guru terus berfungsi bahkan meskipun guru itu meninggalkan dunia.

Fungsi Pak Tedi berdasarkan pengalaman di atas dengan demikian merupakan fungsi seorang vitalis, dan vitalisme itu sendiri sebenarnya lahir dari para saintis yang berusaha menambahkan energi, daya, medan, tenaga, dan hal-hal/entitas yang sifatnya non-fisik kepada biologi sehingga biologi tidak tereduksi dalam bahasa fisika dan kimia. Tapi karena vitalisme tidak tersedia dalam sumber-sumber biologi, apalagi fisika dan kimia saat kami SMA, maka sastralah yang mengambil peran tersebut. Sastra menyetuh kami dengan tongkat kemanusiaan: “Tring! jadilah manusia!” begitu tongkat sastra Pak Tedi menyihir kami. Maka Eri pun mengerling dan mencintai Irma dan Dedi membara mencintai Nia. Kelak masing-masing mereka menikah dengan lain-lain orang. Juga Nanang saat itu sering terpesona oleh Diah, sang penembang lagu-lagu Sunda, dan saya tidak tahu jodoh masing-masing dari mereka karena sejak lulus kami benar-benar disibukkan oleh urusan kondominium masing-masing dan cinta masing-masing yang insya Allah jauh dari korupsi karena sudah tersentuh tongkat sihir Pak Tedi.

Vitalisme itu sebenarnya juga kadang identik dengan organisme karena keduanya bersemangat menambahkan cara hubungan-hubungan antarhal bisa teratur, bahwa setiap entitas fisik memiliki tata aturan imanen yang sifatnya mungkin bisa kita bayangkan dalam kata “formulaik” atau “pola”. Bedanya, pikiran organisme tidak melibatkan entitas non-fisik seperti vitalisme (medan, gelombang, daya, dan dalam cinta mungkin sama dengan syahwat karena syahwat tidak bersifat fisik. Ia adalah tenaga iblis dan iblis tidak pernah ber-fisik).

Nah, sastra itu hadir di tengah-tengah. Sastra membicarakan manusia selaku makhluk dengan sifat jahiliyah—cinta bersyahwat—sekaligus makhluk tercerahkan para utusan Allah dan malaikat serta kitab-Nya sehingga manusia bersifat nur, mengandung sifat kebaikan Allah itu sendiri, dan karenanya kita menggunakan kata ‘nurani’ yang mungkin awalnya merupakan kata sifat dari ‘nur’. Karena ia beralih fungsi menjadi kata benda, seakan ber-fisik, maka nurani itu kerap disalahgunakan dalam kata atau kehilangan makna hingga banyak orang kehilangan sifat cahaya, dan tergila-gila dengan dunia benda. Di sinilah kondominium-kondominium dibeli dan dijadikan para petinggi korup untuk mencari cahaya dunia. Di satu hari saya terbang ke Solo, jiwa saya tidak ikhlas diterbangkan pesawat yang salah-satu petingginya baru saja mengaku kepada pihak KPK bahwa rekening penggelapan uang rakyat itu memang masuk ke dompet mertuanya. Kita bisa belajar pada kasus ‘Quran’ menjadi ‘qurani’ untuk melihat ‘nur’ menjadi ‘nurani’ itu. Alhamdulilah pesawat yang saya naiki itu menurunkan saya dengan selamat. Terima kasih, ya Allah, dan ampunilah kami yang tak bisa menghukum koruptor itu!

Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana saya baca waktu SMA, dan cinta kedua manusia itu mengandung tengah: ada syahwat tapi juga ada niat memasuki cinta Allah. Mereka gagal menjalin kasih melalui pernikahan karena problem status sosial. Sastra dengan demikian memperlakukan manusia secara total, menyeluruh, dan membenarkan ajaran romantisisme yang antirasionalisme itu. Tapi kelebihan lainnya ia juga merefleksikan kondisi sosial yang rupanya tentang perbedaan kelas, ada si miskin dan ada si kaya, sehingga aneka cinta di dalam sastra lama kita melakukan kritik dan refleksi terhadap kegagalan “materialisme” dalam membangun manusia. Dalam konteks ini “materialisme” yang dimaksud adalah pada reduksi ekonomi dan kekuasan ekonomi terhadap cinta—hal yang tak ada kaitan dengan materi apa pun; cinta itu daya, energi, tenaga, medan, gelombang, juga iblis, juga malaikat, juga Tuhan.

Mengapa kita menyebut ‘alat vital’ untuk eufimisme kelamin? Karena pada organ kelamin itu kita merasakan medan, gelombang, dan iblis jika tak diberi agama, dan bisa merasakan energi cinta Allah jika diberi napas qurani-nurani. Meskipun kaum vitalis itu tidak belajar agama, katakanlah mereka berpikir murni secara sains, sebenarnya dengan lahirnya gagasan pengaturan-diri pada setiap entitas, menandakan cinta itu pengatur di dalam setiap entitas. Mesti ada subjek yang melakukan pengaturan-diri ini, bukan? Selalu saya bertanya begitu. Tak mungkin jantung berdenyut jika bukan karena ada subjek yang membuatnya berdenyut, dan itu bukan kita. Ketika cinta di depan mata, seperti ketika Nanang melihat Diah, jantung Nanang bertambah keras degupannya, dan itu artinya Nanang tidak mengatur-diri sang jantung, tapi cinta itu yang membuatnya jadi dag-dig-dug. Bayangkanlah mengapa Nabi Musa pingsan sebelum melihat Allah dengan jelas, karena cahaya Allah adalah Nur yang tak dapat diterima jantung makhluk. Cinta yang agung pasti tidak membuat dag-dig-dug, tapi memingsankan. Bukankah di dalam jantung kita itu terdapat gelap, dan gelap tak pernah siap menerima Nur Paling Nur?

Maka Pak Tedi pun bercerita dulu itu bahwa ketika penyair Sutardji membaca puisi di hadapan para mahasiswa ketika beliau masih mahasiswa, penyair itu membacakan huruf-huruf alif, lam, dan mim (lihat puisi “Q” Sutardji) dengan berputar-putar dan seakan tidak kuat mengatakannya. Padahal itu semua kan hanya huruf-huruf hijaiyah yang biasa jadi pembuka surat-surat dalam Al-Quran, tapi mengapa seorang penyair jenius harus berputar-putar? Tentu karena ia tak kuat menerima cinta yang tak pernah bisa dikatakannya kecuali dengan huruf-huruf tanpa makna dan hanya Allah yang tahu maknanya. Puisi itu sendiri mungkin dijuduli “Q” karena tidak kuat mengatakan “Quran”. Jika mengatakan saja tak kuat, masih bisakah kita sombong melihat Nur Yang Sebenarnya?

Pada daya-medan-tenaga cinta macam yang dilukiskan puisi itu kami dapat belajar bahwa biologi tidak cukup untuk menjelaskan kehidupan jika kehidupan ibarat mesin. Pengaruh Descartes memang gawat kami rasakan di dalam pelajaran sains saat itu. Ketika kami belajar kromosom, misal, rasanya itu ayat paling benar saja tentang hakikat organisme. Hal yang sama juga terjadi pada teori-teori tentang gen yang pernah saya singgung pada esai “Wasit”. Karenanya sastra benar-benar dibutuhkan untuk hadir sebagai bio-vitalisnya, dan mungkin Pak Tedi bukan benar-benar cerdas, tetapi memang ia hadir di saat yang tepat, ketika kami hampir kehilangan cinta dan hidup tak lebih dari untuk merancang masuk ITB, IPB, UI, UNPAD, UNDIP, atau masuk AKABRI.

Hingga saya menginjakkan kaki di ruang kuliah S3, sebenarnya medan Pak Tedilah yang masih saya rindukan yang membuat saya ciut kembali ke masa SMA ketika cinta saya pikirkan. Memikirkan cinta adalah pengaruh Descartes! Cinta kok dipikirkan? Cinta itu dinyatakan dan diperbuatkan! Maka dosa biologi masa SMA kepada saya adalah saya tidak mendapatkan cinta saat itu. Bukan karena saya tidak punya tampang calon perwira lulsan AKABRI, tapi karena perempuan saat itu saya pandang sebagai objek fisik dengan gen, kromosom, yang tak jauh beda dengan leluhurnya yang juga leluhur kaum laki-laki, yakni seekor monyet. Atas jasa Pak Tedilah di S1 saya menyadari bahwa Darwin tak mungkin benar, juga Descartes, juga Mendel. Yang benar adalah Allah dan perempuan adalah Hawa yang sejak diciptakan saling mencintai, saling menyadari dosa, dan saling memperbaiki diri.

Semogalah segala ilmu dari Pak Tedi menjadi jalan untuk menyadari kita mesti kembali pada “Q” yang berisi ayat-ayat tak tepermanai seperti alif-lam-mim, dan kisah-kisah cinta dan perang, kisah-kisah dosa dan taubat, serta kisah-kisah mereka yang mendapatkan rahmat Allah. Sastra sebenarnya adalah “Q”, yakni “Quran”, tempat segala vitalitas memberi kita daya untuk beramal saleh.

Jika Quran membutuhkan tangan Nabi sebagai juru penjelas dan pelaksana cinta, maka kitab-kitab sastra membutuhkan guru gemilang macam Pak Tedi. Dan biar biologi menjadi bagian dari masa yang pernah saya lintasi dengan hikmah yang tiada tara pula! Tanpa cinta, saya masih punya guru yang mencintai murid-muridnya selaku manusia. Selamat hari guru untuk semua guru gemilang!. (*)