
Di sudut Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Andri Abimanyu (56) menata gelas-gelas plastik di atas gerobak kopinya. Dua tahun lalu, hidupnya berubah drastis ketika ia kehilangan kaki kanannya.
Sejak itu, sebatang tongkat menjadi penopang setia bukan hanya untuk berjalan, tetapi juga untuk mempertahankan martabat sebagai kepala keluarga.
Tongkat lamanya mulai rapuh. Kayunya aus, pegangannya longgar. Setiap langkah terasa lebih berat, setiap perjalanan menjajakan kopi penuh risiko.
Namun, Andri tak pernah berhenti berusaha. Ia tetap menyusuri jalanan, menyeduh kopi, dan menyapa pelanggan dengan senyum yang tak pernah benar-benar pudar.
Jumat (27/2/2026) sore itu, suasana Safari Ramadan di Islamic Center Tangsel menghadirkan kejutan bagi Andri.
Wakil Gubernur Banten, A. Dimyati Natakusumah menyerahkan bantuan tongkat jalan untuknya. Benda sederhana itu seketika menjadi simbol harapan baru.
“Alhamdulillah, saya seperti dapat dorongan untuk kembali berusaha menafkahi keluarga,” ucap Andri dengan mata berbinar.
Ia menggenggam tongkat baru itu erat-erat. Baginya, tongkat bukan sekadar alat bantu. Tongkat adalah keberanian untuk kembali melangkah, keyakinan untuk tetap produktif, dan jalan untuk menjaga dapur tetap mengepul.
“Terima kasih, ini sangat berarti sekali bagi saya. Tongkat ini yang membantu saya beraktivitas sehari-hari,” katanya pelan.
Di bulan suci yang identik dengan kepedulian, bantuan itu terasa lebih hangat. Selain menyerahkan tongkat untuk Andri, Dimyati juga memberikan kursi roda, 100 paket sembako, santunan untuk 300 mustahik masing-masing Rp100 ribu, bantuan sarana prasarana untuk dua Lembaga Pelatihan Kerja dan dua masjid/musala masing-masing Rp20 juta, serta bantuan sarana air bersih untuk tiga pondok pesantren senilai Rp75 juta.
Pemprov Banten juga mengucurkan bantuan renovasi rumah tidak layak huni kepada dua warga masing-masing Rp25 juta, bantuan pendidikan bagi 15 siswa SLTA sederajat total Rp9,6 juta, serta insentif untuk guru madrasah, guru ngaji, pemandi jenazah, dan marbot masjid.
Namun di antara deretan angka dan nominal itu, kisah Andri menjadi pengingat bahwa bantuan paling bermakna sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana—asal tepat sasaran.
Dimyati mengajak warga Tangsel memperkuat persaudaraan dan empati. Ia mengingatkan, di balik gemerlap kota yang maju, masih ada saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan.
“Kita harus punya rasa empati untuk menjaga persatuan dan kerukunan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Ramadan menjadi momentum berlomba dalam kebaikan. “Jangan sampai ada iri, dengki, apalagi sombong,” pesannya.
Kepada generasi muda Tangsel, ia berpesan agar meningkatkan daya saing dengan tekun belajar, terlebih kota ini berbatasan langsung dengan Jakarta dan menghadapi tantangan era teknologi.
Sementara itu, bagi Andri, pesan tentang daya saing dan ketekunan sudah ia jalani dengan caranya sendiri. Ia mungkin tak berbicara soal teknologi atau persaingan global. Ia hanya ingin berdiri lebih tegak, melangkah lebih mantap, dan kembali menyusuri jalan rezeki dengan tongkat baru di tangannya.
Ramadan tahun ini memberinya lebih dari sekadar bantuan. Ramadan memberinya alasan untuk percaya, bahwa selama masih ada kepedulian, harapan tak pernah benar-benar kehilangan pijakan.
Tim Redaksi