Beranda Opini Teori Sapu Lidi, Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah

Teori Sapu Lidi, Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah

Ani Kusumaningsih

Oleh: Ani Kusumaningsih, S.T., M.M, Dosen Universitas Pamulang sekaligus mahasiswa doktoral Universitas Padjadjaran

Kemarin baru cerita-cerita dengan teman kuliah, bahwa kami dulu pernah tersapu ombak di pantai Kuta Bali. Sontak ketika itu dalam kepanikan teman saya mengajak bergandengan tangan, saling berpegangan tangan dengan erat, “Gocekan sing kenceng An, gocekan sing kenceng.”

Tanpa disadari, secara otomatis kami memperkuat pegangan tangan kami dan memperkuat posisi kaki dalam posisi kuda-kuda. Tapi ombak begitu dahsyatnya sehingga kami tergulung dalam ombak. Ingin berteriak minta tolong pun tak kuasa. Dalam kepasrahan, antara sadar dan tak sadar, tiba-tiba tangan kami seperti ada yang menarik.

Semakin lama tarikan semakin terasa kuat. Samar-samar kami menyadari bahwa ada teman yang menolong, menarik tangan kami, tadinya 1 orang, 2 orang dan akhirnya beberapa orang ramai2 menarik kami dari gulungan ombak hingga kami terselamatkan. Jika tidak maka kami bisa hanyut (keli/kintir) terseret dari Kuta hingga ke Banyuwangi (seperti teman kami yang lain).

Teori Sapu Lidi

Kemudian kami berdiskusi kenapa bisa terselamatkan. Pada intinya seperti teori sapu lidi. Kalau lidinya banyak dan bersatu maka bisa digunakan untuk menyapu. Kalau lidinya hanya satu, atau banyak pun tapi terpisah-pisah maka tidak ada gunanya. Dan ini pun sejalan dengan penelitian para ahli yg mencoba survive di tengah derasnya arus air. Jika mereka bergandengan secara erat dan berdekatan, tidak terpisah-pisah maka bisa melewati arus deras dengan aman. Tapi jika mereka sendiri-sendiri maka badannya akan mudah goyah dan jatuh.

Demikian juga pada saat-saat seperti ini. Kita mengalami musibah bersama dengan adanya pandemi covid19. Jika kita hadapi sendiri-sendiri maka akan terasa berat. Tapi jika kita hadapi bersama, bahu-membahu maka akan terasa ringan. Dimulai dari diri kita sendiri dan lingkungan terkecil kita, yaitu keluarga dan tetangga sekitar. Misalnya, kita bisa membagikan beras atau makanan kepada tetangga kita. Kalau pun kita tidak memiliki materi maka bisa menyumbangkan tenaga kita. Sebagai contoh membantu merawat yg sakit, membantu memasak jika di lingkungan kita membuat dapur umum, dan sebagainya.

Survive Mode on

Dan jangan lupa, dengan kondisi seperti ini maka kita tidak bisa memprediksi apakah ekonomi akan membaik atau semakin “ambyar”. Sehingga kita harus memposisikan dalam kondisi “survive mode on”. Mulailah menyisihkan sebagian rejeki kita untuk sedekah dan menabung. Misal setiap hari 1.000, 5.000, 10.000 atau bahkan 100.000 sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Dulu ibu saya pernah mencontohkan dengan sesuatu yang sangat sederhana. Pada saat mengambil beras untuk memasak, ibu saya selalu mengambil 1 genggam untuk disisihkan, kemudian disimpan di tempat lain. Ketika itu saya masih sangat kecil, dan terheran-heran dengan tindakan ibu saya, sehingga bertanya kenapa seperti itu. Kata ibu saya itu simpanan, jika suatu saat kita tidak punya beras nanti, maka masih ada simpanan beras yang bisa kita masak untuk dimakan.

Jika diterapkan di masa pandemi ini, maka kita harus bisa menjaga gaya hidup sederhana namun sehat. Tidak perlu terlalu berfoya-foya, bahkan jika penghasilan kita meningkat sekali pun. Lebih baik untuk disimpan atau sedekah demi berbagi kepada yang membutuhkan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar: Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang dicintai Allah adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah membahagiakan muslim yang lain atau meringankan bencana yang menimpanya atau melunasi hutangnya atau memberinya makan. Sungguh saya lebih suka berjalan dengan seorang muslim dalam satu kebutuhannya, daripada beri’tikaf selama sebulan. Barangsiapa yang dapat menahan amarahnya Allah akan menutup aibnya. Dan barangsiapa yang menahan amarahnya jika ia mau ia melakukannya, niscaya Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya muslim dalam satu kebutuhan hingga membuatnya kuat dan kokoh, Allah akan memantapkan kakinya pada hari dimana kaki dapat berpijak dengan kokoh. Dan akhlak jelek dapat merusak amal an seperti cuka merusak madu,” (HR. At-Thabrani).

Ini adalah contoh yang baik, sebagaimana peribahasa jawa (paribasan) “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”.
Mari berwiraupaya, kita terapkan teori sapu lidi, dimulai dari diri kita sendiri. Karena jika bukan kita sendiri, siapa lagi?

(**)