
KAB. SERANG – Aliran Sungai Ciujung kembali tercemar limbah dan berubah menjadi hitam pekat. Kondisi tersebut berdampak pada aktivitas warga di Kampung Jongjing, Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang. Usaha cuci steam motor hingga lahan pertanian dilaporkan ikut terdampak.
Selain berwarna hitam, permukaan air sungai tampak bercampur lapisan menyerupai minyak dan mengeluarkan aroma menyengat yang tercium hingga permukiman warga. Kondisi ini membuat sejumlah usaha yang bergantung pada air sungai terpaksa menghentikan operasional.
Ahmad Khotib, pekerja cuci steam motor yang berlokasi di dekat Jembatan Pelangi Jongjing, mengaku tempat usahanya sudah tutup selama dua pekan sejak air Sungai Ciujung kembali menghitam.
Menurut Ahmad, usaha cuci steam tempatnya bekerja selama ini mengandalkan pasokan air dari Sungai Ciujung. Namun, karena air kini tercemar dan berbau menyengat, air tersebut tidak lagi layak digunakan.
“Ya harus gimana lagi, paling masyarakat kecil mah diem aja. Mau gimana lagi. Enggak ada pemasukan, baru ini paling nambal ban,” kata Ahmad saat ditemui, Kamis (18/6/2026).
Untuk tetap memperoleh penghasilan, Ahmad kini membantu pekerjaan tambal ban di bengkel yang berada di samping lokasi usaha cuci steam. Di sisi lain, ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pengeboran sumur guna mendapatkan sumber air bersih.
“Terpaksa, keluar duit lagi,” keluhnya.
Ahmad menuturkan, pencemaran Sungai Ciujung yang ditandai air menghitam dan bau menyengat bukanlah kejadian pertama. Menurutnya, kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun dan selalu berdampak pada masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
Selain kehilangan akses air bersih dan harus membeli air galon atau membuat sumur bor, warga juga terganggu oleh bau menyengat yang kerap terasa hingga malam hari.
“Ya cape sebetulnya, lelah,” ujarnya.
Dampak pencemaran tidak hanya dirasakan pelaku usaha. Hamparan persawahan yang memanfaatkan air Sungai Ciujung sebagai sumber irigasi juga ikut terdampak. Pantauan di lokasi menunjukkan air yang mengalir ke saluran irigasi tampak menghitam dan berbusa.
Roni (58), buruh tani asal Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, mengakui air sungai yang tercemar masuk ke area persawahan warga. Tanaman kacang panjang yang ditanam dekat aliran sungai juga kerap mengalami kerusakan hingga membusuk.
“Udah dirugikan oleh tanaman, baunya menyengat ke mana-mana. Ya tau lah baunya seperti apa,” ujarnya.
“Kemaren-kemaren jangankan buat mandi, buat cuci tangan aja enggak berani. Waktu kemarin airnya masih bagus lah ya, diminum juga masih bisa. Tapi begitu saya ambil buat dimasak seduh kopi, batuk saya enggak berhenti-berhenti,” sambungnya.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten, Wawan Wahyudi, mengatakan pihaknya telah menerima informasi terkait dugaan pencemaran di Sungai Ciujung.
Menurut Wawan, DLHK masih menunggu laporan resmi dari masyarakat terdampak.
“Kami kemarin mendapatkan informasi dari Pak Kadis seperti itu (soal Sungai Ciujung kembali menghitam). Karena konteksnya ini pengaduan, kami juga butuh informasi pengadunya siapa,” kata Wawan kepada BantenNews.co.id melalui sambungan telepon.
Meski demikian, DLHK saat ini tengah melakukan analisis berdasarkan data pemantauan Sungai Ciujung dalam beberapa tahun terakhir sebelum kembali turun ke lapangan.
Wawan menjelaskan, pada tahun lalu pihaknya pernah menerima aduan serupa di lokasi yang sama dan telah melakukan pengambilan sampel air untuk diuji di laboratorium. Hasil pengujian menunjukkan beberapa parameter kualitas air melebihi baku mutu yang ditetapkan.
“Karena ini konteksnya di sungai, kami harus mengidentifikasi kembali sumbernya karena sudah kumulatif. Mau limbah domestik atau dari industri, itu sudah kumulatif kalau di sungai,” jelasnya.
Hasil sementara analisis data tahun 2024 dan 2025 menunjukkan parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) berada pada angka yang tinggi.
“Kami masih menganalisis apakah ada parameter yang dimungkinkan dari sektor industri yang melebihi baku mutu. Tapi sementara dari data 2025 dan 2024 ada beberapa parameter yang tinggi. Itu sementara, tapi kami harus memastikan kembali,” ujarnya.
DLHK juga sedang meneliti kondisi debit Sungai Ciujung saat pencemaran terjadi.
“Saya juga lagi konfirmasi lagi pada saat itu debit air Sungai Ciujung berapa. Karena kalau tidak ada debit, nol gitu ya, itu kan enggak ada flushing, dia enggak gerak jadi tersedimen di situ aja di perairan. Nah itu yang sedang kita teliti kembali,” katanya.
Menurut Wawan, proses analisis tersebut ditargetkan segera rampung dan DLHK berencana melakukan pengecekan langsung ke lokasi pada pekan depan.
“Kemungkinan pekan depan turun ke lapangan,” ucapnya.
Pencemaran Sungai Ciujung bukan persoalan baru. Masalah ini terus berulang selama lebih dari satu dekade tanpa penyelesaian yang tuntas.
Sejak 2012, berbagai kajian dan audit lingkungan menyoroti dugaan pencemaran yang berasal dari aktivitas industri di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciujung, mulai dari industri tekstil, baja, hingga pulp dan kertas.
Audit lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 menyebut salah satu sumber utama pencemaran diduga berasal dari limbah PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP). Temuan serupa juga muncul dalam penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai distribusi logam berat dalam sedimen DAS Sungai Ciujung.
Penelitian tersebut menemukan kandungan logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), kobalt (Co), antimon (Sb), kromium (Cr), besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn), tembaga (Cu), dan nikel (Ni) dalam sedimen sungai.
Pada 2024, Kementerian Lingkungan Hidup mengungkap terdapat 26 perusahaan yang terindikasi mencemari Sungai Ciujung. Namun identitas perusahaan-perusahaan tersebut tidak dipublikasikan. Kementerian hanya menyebut dua di antaranya berasal dari sektor industri pulp dan kertas.
Tekanan pencemaran terhadap Sungai Ciujung juga tergambar dalam jurnal Kajian Daya Tampung Beban Pencemar Sungai Ciujung yang terbit pada 2024. Penelitian tersebut menunjukkan beban pencemar aktual untuk parameter BOD, COD, nitrat, fosfat, dan total coliform masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Data tersebut menunjukkan pencemaran Sungai Ciujung masih berlangsung dan terus menjadi ancaman bagi kualitas lingkungan serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada aliran sungai tersebut.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman Temposo