Beranda Pemerintahan Sungai Cisadane Menghitam dan Berbau, DLH Tangerang Ancam Segel Pabrik Nakal

Sungai Cisadane Menghitam dan Berbau, DLH Tangerang Ancam Segel Pabrik Nakal

Kondisi aliran sungai Cisadane yang menghitam, tepatnya di Kelurahan Selapajang, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. (Mg-Dwi Muksin Yulianto/bantennews)

TANGERANG – Sungai Cisadane di Kelurahan Selapajang, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, berubah hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat. Warga mengeluhkan kondisi itu selama lebih dari dua bulan terakhir dan menduga aktivitas industri ikut mencemari aliran sungai.

Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup (PPKLH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Dheny Kuntjoro, memastikan pihaknya akan menelusuri sumber pencemaran. DLH lebih dulu memetakan titik pencemaran bersama pihak kecamatan hingga RT/RW.

“Kami akan menindaklanjuti ke wilayah dulu untuk melakukan mapping. Akan dipetakan sampai mana pencemarannya, apakah disebabkan oleh sampah domestik atau karena hal-hal lain,” kata Dheny di kantor DLH Kota Tangerang, Selasa (18/8/2026).

DLH juga akan mengecek perusahaan yang berada di sekitar aliran sungai. Jika hasil pemeriksaan menemukan pelanggaran baku mutu, pemerintah siap menjatuhkan sanksi hingga menyegel fasilitas usaha.

“Pasti kami akan verlap (verifikasi lapangan). Kalau terbukti, kita akan tindak lanjuti. Sanksinya kalau misalkan melebihi baku mutu, kemungkinan kita segel,” tegasnya.

Di sisi lain, warga mengaku melihat langsung perubahan kondisi Cisadane. Feri, warga Selapajang yang sehari-hari menjaga perahu eretan, mengatakan air sungai mulai menghitam sejak sekitar tiga bulan lalu.

“Sudah kurang lebih tiga bulanan,” kata Feri.

Menurutnya, kondisi sungai semakin buruk saat musim kemarau. Debit air yang menurun membuat perubahan warna dan bau sungai semakin kentara.

“Ya kemarau mungkin, kering. Dia kan enggak kena hujan. Kalau banjir tuh kadang-kadang buangan dari Bogor ke sini,” ujarnya.

Pencemaran juga berdampak pada kehidupan di sungai. Feri mengatakan ribuan ikan sempat mengambang ketika air mulai menghitam. Kini, ikan di sekitar lokasi hampir tidak terlihat.

“Semenjak airnya menghitam, ikannya pada mati, mabuk kayaknya. Sekarang malah parah, sudah enggak ada ikannya. Kalau banjir tuh air biasa lagi, baru ikan ada lagi. Kalau air begini mah,” ungkapnya.

Baca Juga :  Perhatian Pemerintah ke Sektor Pertanian di Banten Diklaim Meningkat

Tak hanya mengancam biota, kondisi sungai juga mengganggu warga dengan bau menyengat yang muncul ketika air berubah hitam.

“Bau. Kalau air hitam begini mah bau. Kalau air jalan tuh enggak,” katanya.

Kecurigaan warga mengarah ke sejumlah fasilitas industri dan pengelolaan sampah yang berdiri di sekitar bantaran Cisadane. Feri menduga sejumlah saluran pembuangan dari kawasan industri bermuara ke sungai.

“Kalau pabrik mah yang bagian seberang sana, yang MD, buangan Gang Macan. Di sini ada sebagian. Mana-mana pada pembuangannya ke sini,” ujarnya.

Feri mengaku, tidak mengetahui seluruh nama perusahaan yang berada di sekitar lokasi. Namun, ia menyebut jumlah fasilitas usaha di kawasan tersebut cukup banyak, termasuk pengelolaan sampah.

“Kalau dari sana mah (Neglasari) banyaklah. Pabrik 10 juga lebih, macam-macam, ada pengelolaan sampah, banyak dah,” katanya.

Ia juga menyebut aktivitas pengelolaan sampah komersial dan industri berada cukup dekat dengan permukiman. Menurutnya, sejumlah pengelola mengambil sampah dari hotel dan membawanya ke kawasan tersebut. Ia juga menyebut keberadaan pabrik tiner di sekitar Kampung Kelor.

“Pabrik sampah kebanyakan sampah. Kadang-kadang sampah dari hotel diambil, dibuang ke sini. Nanti sisanya diambilin ke rombongannya. Di sini (Kampung Kelor) dekat sekali dengan sungai juga ada pabrik tiner,” tandasnya.

Kini, warga menunggu langkah nyata DLH untuk mengungkap sumber pencemaran Cisadane. Pemeriksaan lapangan akan menentukan apakah dugaan pembuangan limbah industri benar-benar menjadi penyebab air sungai menghitam dan mematikan biota.

Penulis : Mg-Dwi Muksin Yulianto
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd