SERANG – Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DisKopUKMPerindag) Kota Serang angkat bicara terkait aksi mogok para pedagang daging sapi di Pasar Induk Rau (PIR), Kota Serang.
Kepala DisKopUKMPerindag Kota Serang, Wahyu Nurjamil menegaskan, permasalahan tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan daging sapi, melainkan akibat kenaikan harga sapi potong hidup yang dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia.
“Sebetulnya daging sapi tidak langka. Stoknya ada. Namun karena dolar Australia naik, harga sapi potong hidup ikut terkerek,” ujar Wahyu, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Banten telah melayangkan pemberitahuan kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian (Kementan), terkait kondisi tersebut.
Bahkan, kata Wahyu, pemerintah pusat telah menyiapkan langkah intervensi untuk menstabilkan harga di pasaran.
“Dari hasil telekonferensi kami dengan Disperindag Provinsi Banten, sudah diupayakan adanya intervensi dari Kementan, yaitu dengan mengeluarkan stok sapi yang tersedia serta penetapan harga dari hulu,” jelasnya.
Menurut Wahyu, harga sapi potong hidup yang ditetapkan pemerintah berada di kisaran Rp55.000 hingga Rp56.000 per kilogram di tingkat feedlot atau peternakan penggemukan sapi.
Dengan skema tersebut, harga daging sapi di tingkat konsumen diharapkan bisa kembali stabil.
“Kami harapkan harga daging sapi di pasaran bisa kembali ke angka wajar, sekitar Rp130.000 per kilogram seperti harga pasar saat ini,” ujarnya.
Wahyu berharap, dengan adanya intervensi dari pemerintah pusat, polemik antara pedagang dan distributor bisa segera terurai.
Dengan begitu, para pedagang daging sapi dapat kembali berjualan dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang layak.
“Kami berharap kondisi ini segera reda, pedagang kembali berjualan, masyarakat tetap mendapatkan daging sapi dengan harga yang pantas, dan permasalahan para pedagang pun bisa terpecahkan,” ujarnya.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
