Beranda Opini Sore yang Menyenangkan Bersama Bu Ade

Sore yang Menyenangkan Bersama Bu Ade

Ade Husnul Mawadah (Ist)

(Obituari Ade Husnul Mawadah)

Sore itu kami keluar kelas. Perkuliahan pindah ke panggung pertunjukkan teater. Kami duduk berkeliling di dalam amphiteater dari konstruksi bambu hasil kerja Otong Durahim dan ide gila Nandang Aradea. Sebuah perahu tergantung di tengahnya.

Bu Ade Husnul Mawadah, dosen menulis kreatif kami mencoba mengajak kami menangkap suasana untuk proses menulis puisi. Agak nyentrik dan provokatif namun cara itu ternyata efektif. Kami menulis puisi berlarat-larat tanpa beban, tentu dengan keluguan-keluguan.

Gaya bicaranya yang bersemangat; caranya menjelaskan sesuatu gampang dicerna; sekaligus motivator ulung nyaris menghipnotis kami selama perkuliahan berlangsung. Hal itu yang membuat perkuliahan menulis kreatif dengan Bu Ade menjadi sesuatu yang mewah. Ruang kelas selalu menjadi eksperimen yang menyenangkan di tangannya.

Selain cakap dalam mengajar, Bu Ade, demikian saya mengenal, adalah seseorang yang mampu memberikan kepercayaan diri kepada murid-muridnya. Berbicara layaknya sahabat dan pribadi yang selalu hangat.

Di ujung perkuliahan dengan Bu Ade, seingat saya akan selalu lahir buku puisi baru dari tiap angkatan. Angkatan saya saat itu melahirkan antologi bersama Hingga Gerimis Usai (2007) Lab Sastra Untirta. Proses editorial sedikit mengalami drama. Salah satu puisi karya Kelly Mulyati berjudul “Suatu Pagi di Pangrango” menyita perhatian Wan Anwar. Sebagai penyair dan redaktur majalah sastra Horison, Wan Anwar paling hati-hati soal originalitas karya.

Kabar yang sampai kepada saya saat itu, Bu Ade diminta memastikan puisi tersebut benar-benar bukan plagiat dan karya asli mahasiswa. Proses verifikasi berlangsung sebelum naskah naik cetak. Hasilnya, seluruh puisi lolos dari kurasi dan lahirlah Hingga Gerimis Usai. Tidak berhenti di situ, beberapa nama mahasiswa menjadi perhatian Wan Anwar. Dari ruang laboratorium Ade Husnul Mawadah, bibit penulis muda bermunculan.

Kenangan itu masih mengisi memori saya ketika bersentuhan dengan Bu Ade. Belum lama ini, saya menghadiri kegiatan akreditasi di Untirta masih sempat bertemu beliau. Sikap hangat dan keramahannya kepada alumni tak berkurang. Bu Ade masih orang yang sama sejak pertama kali mengenal beliau.

Pagi tagi, beberapa grup Whatsapp mengirim kabar duka. Istri saya telpon dari Yogya menanyakan kebenaran kabar kepergian Bu Ade. Saya tak jawab. Tak satupun grup Whatsapp dari alumni saya respons. Masih tak percaya Bu Ade sudah tiada.

Setelah Nandang Aradea, Wan Anwar, Nurlela, Diana Tustiantina berpulang, saya agak bosan dengan kabar duka. Tapi kenyataan berbicara lain. Bu Ade Husnul Mawadah juga rupanya mendahulai kita pagi tadi.

Guru yang kami hormati sekaligus kami sayangi satu per satu telah pergi. Menegaskan bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya dan kita akan selalu menyongsonya. Sein zum tode bagitu salah satu tesis Heidegger. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati dalamĀ Al Ankabut ayat 57.

Melalui tulisan ini saya bersaksi, Bu Ade hingga pada kematiannya merupakan guru inspiratif bagi saya dan mungkin banyak mahasiswanya. Ilmu darinya masih saya rasakan manfaatnya. Semoga itu menjadi amal zariah yang tak putus-putus untuk beliau hingga hari akhir.

Semoga perjalanan Bu Ade menemui Allah Swt menyenangkan, seperti ruang kelas di FKIP Untirta yang selalu ia upayakan.

*Wahyu Arya, alumni Untirta mahasiswa dari Ade Husnul Mawadah.