KAB. SERANG – Aktivis nelayan asal Kabupaten Serang, Kholid Miqdar menanggapi penangkapan Mahesa Al Bantani atau Saepudin dengan nada hati-hati. Ia mengaku, belum mengikuti secara rinci proses hukum yang menjerat aktivis media sosial tersebut.
“Kalau saya mah artinya memang kurang mengikuti ya. Kurang tahu kapan ditangkapnya, masalahnya juga belum jelas,” kata Kholid saat dihubungi BantenNews.co.id, Senin (14/7/2025).
Meski begitu, Kholid menyebut dirinya sempat membaca informasi yang berseliweran di media sosial (medsos) bahwa kasus yang menimpa Mahesa berkaitan dengan dugaan pencemaran nama baik terhadap Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Matin Syarkowi.
Kholid menilai situasi ini lebih dari sekadar perkara hukum, namun menjadi semacam “tes ombak” dalam dinamika gerakan sosial.
“Ini test case sesungguhnya, siapa sih aktornya? Tapi kalau saya jadi Mahesa, dan bisa dikomunikasikan secara persuasif, kenapa tidak?,” ujarnya.
Menurut Kholid, jika Mahesa bersikeras untuk tidak menempuh jalur persuasif. Maka perlu dipertimbangkan kembali manfaat dan kerugiannya untuk masyarakat.
Ia pun mengajak semua pihak untuk menimbang, apakah perlawanan personal ini akan membawa keuntungan dalam perjuangan yang lebih besar, atau justru mengaburkan isu utama.
“Toh yang dihadapi Mahesa ini juga orang yang dikenal, Matin Sarkowi. Mereka satu lingkaran. Ada Makmun Muzaki, Haji Embay, Fattul Adzim. Semua saling kenal. Kenapa enggak ditempuh jalur komunikasi dulu?,” kata Kholid.
Kata Kholid, risiko konflik horizontal jika persoalan ini terus digiring ke arah personal. Ketegangan antara pendukung Mahesa dan pihak Matin Sarkowi.
Menurutnya, bisa memecah konsentrasi gerakan yang sedang ia siapkan untuk menolak perubahan tata ruang di wilayah Serang Utara.
“Kalau saya bela Mahesa mati-matian, yang muncul bukan lagi isu PIK 2, tapi perseteruan pribadi. Ini yang bikin saya kurang tertarik,” ujarnya.
Kholid juga mengaku saat penangkapan Mahesa terjadi, ia dan kelompoknya tengah menyusun konsolidasi gerakan perlawanan terhadap kebijakan tata ruang di pesisir.
Sehingga, ia menduga tak menutup kemungkinan, penangkapan itu bisa jadi bagian dari upaya pengalihan perhatian.
“Saya lagi bangun gerakan di bawah, tiba-tiba muncul isu personal Mahesa dengan Matin. Bisa-bisa ini jadi taktik untuk memecah konsentrasi gerakan. Yang awalnya kita satu barisan tolak PIK, jadi pecah karena konflik internal,” katanya.
Menurutnya, jika benar kasus Mahesa adalah pencemaran nama baik lantaran menyebut Matin Sarkowi sebagai kiai pendukung proyek PIK 2, maka muncul pertanyaan besar.
“Apakah dengan begitu Martin telah melegitimasi bahwa mendukung PIK itu buruk?,” katanya.
Lebih jauh, Kholid kembali menekankan pentingnya komunikasi personal untuk menyelesaikan persoalan ini. Ia berharap baik pihak Mahesa maupun Matin Sarkowi bisa menurunkan tensi dan membuka ruang damai.
“Kalau saya Mahesa, ya udah lah, komunikasikan aja secara personal. Ngapain juga ngotot, untungnya apa?,” ucapnya.
“Mudah-mudahan dari pihak Martin juga bisa diajak damai. Kalau bisa diselesaikan tanpa konflik, kenapa tidak?,” tutupnya.
Penulis : Rasyid
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd
