Beranda Advertorial Simposium Festival Seni Multatuli 2021, Novel Max Havelaar Bukan Sebuah Penghapusan Kolonialisme

Simposium Festival Seni Multatuli 2021, Novel Max Havelaar Bukan Sebuah Penghapusan Kolonialisme

Pembicara pada Simposium FSM 2021 (Foto Andi/BantenNews.co.id)

LEBAK – Festival Seni Multatuli 2021 baru saja usai beberapa waktu lalu pada 10 Oktober 2021. Namun pada perayaan FSM yang digelar secara online, ada hal menarik.

Dalam pagelaran FSM ini, ada pembahasan menarik yaitu Simposium yang bertajuk Manis Tapi Tragis : Kisah Saidjah Adinda Dalam Max Havelar yang merupakan salah satu dari rangkaian acara FSM 2021.

Kegiatan ini diisi oleh empat pembicara utama diantaranya Saut Situmorang, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Okky Madasari dan Ari Jogaiswara. Dengan mengulas tentang sejarah novel Max Havelaar.

Saut Situmorang pembicara utama dalam Simposium, mengatakan bahwa Max Havelaar mencoba dan memperjuangkan reformasi sistem kolonialisme.

“Max Havelaar memperjuangkan reformasi sistem kolonialisme Belanda di Hindia Belanda, bukan penghapusan kolonialisme itu sendiri. Karena di bagian akhir novel tersebut Multatuli mengklaim bahwa tokoh bernama Max Havelaar adalah dirinya sendiri sementara Multatuli adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker,” katanya.

Saut menambahkan keberadaan Max Havelaar bisa dikatakan, bukan sebuah penghapusan Kolonialisme.

Menurutnya bagi Multatuli atau Eduard Douwes memperjuangkan sistem kolonialisme segalanya baginya.

Sementara Rhoma Dwi Arya Yuliantri salah satu pembicara utama juga mencoba memaknai Max Havelaar dari sudut pandang sejarah.

“Karya ini merupakan karya yang berkonteks histori, ada sebuah pengalaman dari narator yaitu Multatuli di Hindia Belanda,” katanya.

Rhoma sedikit menjelaskan dan memberi penekanan bahwa melihat perjalanan pembacaan novel ini yang dilakukan generasi ke generasi, periode ke periode dan zaman ke zaman.

“Bahwa karya novel Max Havelaar merupakan sebuah karya yang menggambarkan semangat anti-kolonialisme dan anti-feodalisme serta bagian wujud dari mesianisme pemikiran dari generasi awal yang lahir dari jantung industrialisasi Jawa yaitu Hindia Belanda,” ungkapnya.

Pada perayaan FSM 2021 edisi ketiga ini, penyelenggaraannya digelar secara online dengan beberapa pementasan karya disiarkan secara Online melalui YouTube. (ADV)