Beranda Opini Siasat di Tengah Pandemi

Siasat di Tengah Pandemi

Ilustrasi - foto istimewa kompas.com

Oleh : Nina Ayu Kumala Dewi, Mahasiswi UNPAM, Prodi Sastra Indonesia

Sangat banyak dampak yang dirasakan sejak berlangsungnya wabah virus corona ditengah-tengah kita. Mulai diberlakukannya PSBB, dirumahkannya pekerja, dirumahkannya kegiatan sekolah, bahkan kehilangan pekerjaan. Kriminalisasi pun semakin meningkat dan kita tahu bahwa banyak orang-orang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.

Banyak upaya untuk tetap bisa berpenghasilan dan tercukupi ditengah wabah seperti ini, begitu juga menghilangkan kejenuhan bagi pelajar maupun mahasiswa dan tetap bersemangat mengerjakan tugas-tugas untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan. Di era digital yang semakin canggih ini, bukan hal sulit untuk tetap produktif dari aspek apapun.





Kita tahu bahwa banyak pertokoan, rumah makan maupun restoran dan cafe di beri batasan pengunjung dan jam Operasional. Zaman sekarang, membutuhkan dan menginginkan apapun semua serba online, melakukan transaksi, transfer uang dan berbelanja semua dilakukan dengan online. Baik nya ditengah wabah virus ini kita manfaatkan kecanggihan teknologi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang banyak.

Salah satunya mengenalkan produksi kita kepada orang banyak namun bukan dengan bertemu langsung, namun dengan cara online atau memasang spanduk atau juga menyebarkan brosur. Seperti yang pernah saya lihat diberita, bahwa ada seorang tukang cukur di sebuah barber shop, namun terpaksa tutup sebab dianggap akan mempercepat penyebaran dan penularan virus.

Namun tukang cukur ini tidak putus asa untuk tetap menafkahi keluarganya, hingga dia memiliki ide untuk menyiasati pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya dan memulai usaha sebagai tukang cukur, namun tidak dirumahnya melainkan dipanggil ke rumah-rumah. Ia pun mulai membagikan brosur dengan semangat dan niat. Beberapa hari kemudian usaha tukang cukur panggilan ini mendapat beberapa job dan akhirnya ia mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, meski bukan dengan penghasilan yang besar setidaknya cukup untuk keperluan sehari-hari.

Dari cerita tersebut dapat kita simpulkan, bahwa segala usaha pasti akan membuahkan hasil dan segala cobaan pasti akan ada jalan keluar asal mau berdoa dan tetap berusaha. Tidak hanya itu, sekarang berjualan atau mempromosikan produk melalui postingan WhatsApp, Instagram, Facebook juga banyak dilakukan dari berbagai kalangan, dari berbagai macam makanan, minuman, make up hingga kebutuhan sehari-hari. Upaya ini cukup membantu untuk menambah uang belanja bagi para ibu rumah tangga dan bagi pelajar pun sangat membantu untuk membeli kuota belajar tanpa harus meminta kepada orangtua.

Jenuh pasti dirasakan oleh setiap orang dimasa seperti ini, untuk mengatasi kejenuhan tersebut orang tua maupun anak-anak selama dirumah dapat menyiasatinya dengan berbagai cara, misal menonton film kesukaan, drama Korea, bermain game, menekuni keterampilan, dan membuat banyak prakarya atau tulisan. Hal ini dapat dilakukan untuk mengisi kekosongan sambil mengasah kemampuan dan cukup efektif dilakukan selama kegiatan di luar rumah diminimalisir.

Anak-anak yang tergolong balita memang sudah seharusnya untuk mulai belajar mengenal lingkungan sekitar sebagai bagian proses tumbuh kembangnya, dengan keadaan yang seperti ini tentu orang tua akan sedih jika buah hatinya tidak bisa bertumbuh kembang dengan baik. Kerisauan ini dapat diatasi dengan berbagai cara, tapi tidak melalui gadget saja. Gadget memang sudah menjadi barang yang tidak bisa dilepaskan, namun bukan berarti buah hati hanya belajar didepan gadget saja untuk mengenal lingkungan.

Hal ini boleh dilakukan namun dengan durasi yang tidak terlalu lama, karena tidak baik jika si buah hati berlama-lama didepan gadget. Meski keadaan belum stabil, mengajak buah hati untuk melihat alam sekitar merupakan hal yang bak untuk dilakukan, asal tidak lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, sedia hand sanitizer juga menjaga jarak. Jika orang tua khawatir akan tertular virus nantinya karena bertemu orang asing diluar rumah, maka membuat taman sendiri di pekarangan rumah adalah ide yang bagus untuk dicoba agar anggota keluarga aman dari ancaman tertular virus.

Banyak problema yang terjadi karena wabah virus ini. Seperti diberlakukannya daring pada perkuliahan maupun sekolah tingkat dasar, SMP juga SMA yang berkepanjangan hingga saat ini. Setiap pelajar maupun pembimbingnya pasti merasa bosan dan jenuh, karena setiap hari kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung namun tidak maksimal, belum lagi jika para pelajar tidak paham dengan tugas yang diberikan. Begitu juga pembimbingnya, yang harus selalu menyampaikan pembelajaran hanya dengan video atau tulisan kertas. Bahkan kabarnya ada orang tua yang tega membunuh anaknya karena merasa tidak sabar mendampingi sang anak saat belajar daring. Kejadian ini bahkan diluar dugaan, bagaimana bisa buah hatinya sendiri dibunuh?.

Kejadian seperti ini jangan sampai terulang kembali. Sebagai orang tua memang sudah seharusnya untuk sabar dan selalu mendampingi buah hati agar tidak jenuh dengan keadaan. Orang tua bisa menyiasatinya dengan mengkolaborasikan pembelajaran yang sedang berlangsung dengan hal-hal menyenangkan, seperti berhitung dengan diiringi musik atau sambil bernyanyi, sambil tebak-tebakan atau memberikan hadiah jika bisa menyelesaikan tugas dengan benar. Kemungkinan anak juga akan merasa terhibur dan tidak merasa jenuh dengan tugas yang dia rasa berat. Disamping itu dia akan merasa bahwa orang tuanya selalu ada untuknya dan tidak akan membuat dia merasa sendiri.

Begitulah beberapa siasat yang dapat kita lakukan ditengah pandemi agar tidak kehilangan aktivitas yang sudah biasa kita jalani. Namun merubah aktivitas yang sudah biasa, akan lebih luar biasa lagi jika kita mau mencoba hal berbeda dengan cara yang juga berbeda.

(***)