Beranda Ramadan KH Ahmad Chatib, Pejuang Perintis Kemerdekaan di Banten

[Seri Ulama Banten] KH Ahmad Chatib, Pejuang Perintis Kemerdekaan di Banten

KH Ahmad Chatib al-Bantani. (Net)

KH TUBAGUS AHMAD CHATIB bin Wasi’ al-Bantani lahir di Pandeglang, Banten 1855 dan meninggal di Pandeglang, Banten, 19 Juni 1966. Ia adalah seorang ulama, pejuang, dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten. Beliau dimakamkan di kawasan Masjid Agung Banten.

Pada Usia 10 tahun, ia belajar di Pesantren Qiratul Qur’an dan Serang. Ia begitu cepat menghapal kitab suci dan mahir berbahasa Arab.

Dalam buku ‘Jalan Hidup dan Jejak Langkah Perjuangan Sang Residen Banten’, Ahmad Chatib disebut sebagai kiai yang turut melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda pada tahun 1926 di Batavia (Jakarta) bersama kelompok pergerakan golongan kiri.

Akibat pemberontakan itu, sekira 1.300 orang Banten ditangkap Belanda. Sebagian dari mereka diadili dan dijatuhi hukuman berat, sebanyak empat orang dihukum mati dan sebanyak 99 orang diasingkan ke Boven Digoel, Papua. Ahmad Chatib termasuk salah satu yang dibuang ke Boven Digul lalu berhasil kembali ke Banten pada 1940.

Pada tanggal 19 September 1945, Soekarno, selaku Presiden Republik Indonesia mengangkatnya menjadi Residen Banten. Pada masanya, Ia juga pernah menduduki jabatan penting lain di pemerintahan Indonesia seperti Dewan Pertimbangan Agung, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR), bahkan pernah menduduki kursi MPRS dan BPPK.

Pada pertengahan bulan September 1945, diadakan perundingan dengan para tokoh masyarakat Kabupaten Serang di kediaman Zulkarnain Suria Kartalegawa, di antaranya dengan KH Ahmad Chatib dan KH Syam’un. Dalam perundingan tersebut dibicarakan pembagian tugas pemerintahan di Banten, para pemuda kemudian mengusulkan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar segera mengangkat KH Ahmad Chatib sebagai Residen Banten yang menangani administrasi dan pemerintahan sipil di Banten, serta KH Syam’un untuk menangani segala unsur militer.

Selain dalam roda pemerintahan, dalam usahanya memajukan agama dan umat ia mencetuskan berdirinya Majelis Ulama, Perusahaan Alim Ulama (PAU), serta turut mendirikan perguruan tinggi seperti Universitas Islam Maulana Yusuf yang di kemudian hari berganti nama menjadi UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten. (Ink/Red)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News