Beranda Bisnis Sepi Pembeli, Pilu Penjual Baju di Pasar Badak Pandeglang

Sepi Pembeli, Pilu Penjual Baju di Pasar Badak Pandeglang

Pedagang pakaian di Pasar Badak Pandeglang, Encep saat ditemui di lapaknya. (Mg-Madani Prasetia/bantennews)

PANDEGLANG – Sudah sekitar 20 tahun Encep menggantungkan hidup dari berjualan pakaian di Pasar Badak, Kabupaten Pandeglang. Ia melewati pergantian zaman, perubahan selera pembeli, hingga pandemi COVID-19.

Namun, ada satu hal yang kini semakin sulit ia hadapi, lapak yang sepi dan pemasukan yang tak menentu.

Di lapaknya, pakaian jadi masih tersusun untuk menarik perhatian pembeli. Seragam sekolah hingga pakaian dalam tersedia.

Encep tetap membuka dagangan seperti biasa, berharap ada orang yang mampir dan membawa pulang barang dagangannya.

Namun, harapan itu tak selalu terwujud. Ada hari ketika ia mendapat uang Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Ada pula hari ketika tak satu pun pembeli datang.

“Sepi saja, sekarang banyak yang tidak ada pembeli,” keluh Encep saat ditemui BantenNews.co.id di lapaknya, Jumat (9/10/2026).

Bagi pedagang yang sudah menghabiskan dua dekade di pasar tradisional, kondisi ini bukan sekadar soal berkurangnya jumlah transaksi. Penghasilan yang dulu bisa ia harapkan kini berubah menjadi ketidakpastian.

“Sekarang kadang tidak ada pemasukan. Paling banyak bisa Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, tetapi sekarang sering nol,” ujarnya.

Encep melihat perubahan pola belanja masyarakat sebagai salah satu penyebab lapaknya semakin sepi. Kehadiran toko online membuat orang bisa memilih pakaian, membandingkan harga, lalu memesan barang tanpa perlu keluar rumah.

Kemudahan itu menjadi pilihan bagi konsumen. Namun, bagi pedagang seperti Encep, perubahan tersebut menghadirkan persaingan yang tidak mudah.

Pedagang pasar mengandalkan pembeli yang datang langsung, melihat barang, menawar harga, lalu memutuskan membeli. Ketika masyarakat beralih ke layar ponsel, peluang transaksi di lapak ikut menyusut.

Encep mengaku, kondisi perdagangan mulai terasa lesu setelah pandemi COVID-19. Situasi itu tak hanya menghimpit dirinya.

Baca Juga :  BBPOM Temukan Makanan Berformalin di Pasar Badak Pandeglang

Sejumlah pedagang lain juga kesulitan mempertahankan usaha, bahkan memilih berhenti berjualan.

Bertahan selama 20 tahun ternyata tidak otomatis membuat usahanya aman dari perubahan zaman.

Di balik pakaian yang tersusun di lapak, ada kebutuhan keluarga yang harus Encep penuhi. Hasil jualan menjadi salah satu tumpuan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari sekaligus pendidikan anak-anaknya.

Ketika dagangan tak laku, persoalannya bukan hanya barang yang tetap menumpuk. Uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pun ikut terancam.

Encep harus tetap bertahan meski tak bisa memastikan berapa uang yang akan ia bawa pulang setiap hari. Lapaknya tetap buka, tetapi pembeli tak selalu datang.

Situasi ini memperlihatkan tekanan yang dihadapi pedagang kecil ketika pola belanja masyarakat berubah lebih cepat daripada kemampuan mereka menyesuaikan usaha.

Encep berharap, pemerintah memberi perhatian lebih kepada pedagang pasar tradisional. Ia bahkan menginginkan pembatasan perdagangan online agar masyarakat kembali berbelanja langsung di pasar.

Harapan itu lahir dari kegelisahan seorang pedagang yang selama puluhan tahun mencari nafkah dengan cara yang sama, tetapi kini menghadapi persaingan yang berbeda.

Encep belum menyerah. Setelah sekitar 20 tahun berjualan di Pasar Badak, ia masih membuka lapaknya dan menunggu pembeli datang.

Namun, ketekunan saja belum tentu cukup ketika pemasukan semakin sulit diprediksi. Pedagang kecil seperti Encep membutuhkan ruang untuk bertahan di tengah perubahan ekonomi dan kebiasaan konsumen.

Bagi pembeli, berbelanja online mungkin menawarkan kepraktisan. Bagi Encep, setiap transaksi yang tak terjadi berarti kesempatan memperoleh penghasilan yang hilang.

Hari demi hari, ia tetap menata pakaian dan menunggu orang mampir. Sebab, di balik lapak sederhana itu, ada keluarga yang bergantung pada hasil jualan.

Baca Juga :  Keluarga Besar Mercedes-Benz Indonesia Beri Bantuan kepada Masyararakat

Dua dekade lalu, pasar menjadi tempat Encep menggantungkan harapan. Kini, ia masih berada di tempat yang sama, tetapi harus berjuang lebih keras agar dagangannya tetap menghasilkan uang.

Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd