Beranda Uncategorized Seni Era Digital

Seni Era Digital

(Foto; Suarasurabaya.net)

Oleh Sulaiman Djaya, Penyair dan Esais bergiat di Kubah Budaya

Seni disebut sebagai bentuk bermakna (significant form) dan seniman adalah “tukang utak-atik bentuk (form)”. Seorang seniman tak ubahnya seorang ‘pengrajin’ yang harus menguasai teknik (sains) selain memiliki kapasitas basis teoritik yang sifatnya khazanah guna memberi makna pada pengalaman sebagai refleksi, dan karena sifat reflektif itulah, para pelakunya cenderung filosofis kendati tidak belajar filsafat.

Tersebab demikianlah sastra, musik, lukisan atau berbagai karya seni bermutu seringkali filosofis dan reflektif, karena kandungan artistik dan estetis yang dipancarkannya. Pada saat yang sama, seni memungkinkan manusia melihat sesuatu yang sering diabaikan dalam keseharian. Dengan berbagai bentuk dan eksplorasinya, seni lebih merupakan persoalan kebenaran eksistensial atau kenyataan (das Sein).





Namun penting untuk dimengerti, kebenaran di sini bukanlah kebenaran moral atau persoalan idealitas (das Sollen), dan bukan pula kebenaran ilmiah seperti rumus atau pola dalam sains atau matematika. Ia diolah dan disampaikan melalui bentuk, sehingga nilai karya seni terletak pada kesadaran baru yang dibuka dan dilahirkannya.

Dalam hal ini, karya seni bermutu hanya menyiratkan berbagai kemungkinan, menyediakan dirinya bagi kemungkinan untuk senantiasa melahirkan wawasan dan pemahaman baru, bukan mendikte. Karya seni acapkali juga memahami yang universal melalui yang partikular, seperti cinta, kematian, persahabatan, kepedihan, dan lain-lain dan lain-lain. Dalam garis paradigmatik inilah, seni menempatkan dirinya untuk mengimbangi perspektif dan paradigma sains.

Jika sains, sebagai contoh, memahami dengan jarak kritis (melakukan distansiasi) karena disengajakan untuk meraih objektivitas atau memburu kejelasan, seni malah menyelam masuk ke relung terdalam realitas kehidupan, sebab seni ‘memahami’ melalui empati. Jika sains berpikir melalui abstraksi, seni justru berpikir melalui yang konkrit dan yang eksistensial. Jika sains senantiasa menghendaki kepastian dan presisi atau ketepatan, seni (termasuk sastra, terutama puisi) justru menggali dan menguarkan kekayaan ambiguitas yang unik dan mendalam.

Secara sederhana dapat dikatakan jika pola ungkap sains adalah literal-diskursif, garis dan laku diri seni adalah metaforik dan figural. Jika sains acapkali memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang mati, seni malah menghidupkannya, menghadapinya dengan laku konkrit, memberinya nyawa dan kehidupan, memaknainya. Jika sains gandrung mengubah realitas menjadi idealitas yang memudahkan, menekuknya dalam rumus, seni justru merayakan dan membiarkan realitas dalam kebenaran eksistensialnya dan mengubah kesadaran melalui stilasi.

Seni Era Digital

Di era kita saat ini, teknologi digital telah mengepung kehidupan kita, telah begitu lekat dan tak terpisahkan dari gerak-gerik keseharian kita. Kita menonton siaran televisi digital di rumah kita, di kantor, di tempat tunggu, dan lain sebagainya, mengoleksi rekaman musik berbasis digital, orang-orang bekerja menggunakan peralatan digital yang terhubung dengan jaringan wi-fi, mengontrol sistem keamanan dengan CCTV yang bisa diakses secara digital, dan lain sebagainya.

Orang-orang dari berbagai kalangan dan kelas sosial menggunakan gawai-gawai digital berupa telepon pintar (smart-phone), transportasi publik juga sudah banyak yang memanfaatkan teknologi digital, baik berupa sistem pembelian tiket atau sistem pemesanan menggunakan berbagai aplikasi-aplikasi lain seperti moda transportasi roda dua (ojek). Kita, sebagai contoh, melihat tumbuhnya media baru yang banyak dimanfaatkan di dunia fotografi dan film, terutama Hollywood, dalam tahap pasca-produksi, telah menunjukkan kecenderungan tersebut.

Sebutlah, misalnya, film Terminator 2 : Judgement Day (James Cameron, 1991), di mana dalam film itu terlihat tubuh manusia menjadi air dan air menjadi tubuh manusia (teknik morphing). Medianya adalah Computer Graphic Imaging (CGI), yang memungkinkan orang untuk membuat imaji tanpa batas. Atau ribuan dinosaurus alias makhluk khayalan (seperti dalam film Avatar), bisa dikloning semau pembuatnya. Industri film Hollywood, sebagai contoh kasus, telah menetapkan CGI sebagai standar produksi.

Lalu bagaimanakah dengan kita? Apakah kita sudah secara positif dan kreatif ‘memaksimalkan’ capaian estetik dengan menggunakan perkembangan tekhnologi digital ini? Sejauh manakah, hubungan inovatif, atau katakanlah ‘konektivitas, antara kemajuan era digital dengan perkembangan dan eksperimen seni?