Beranda Bisnis Sempat Mangkrak 3 Tahun, Blast Furnace PT KS Akhirnya Beroperasi

Sempat Mangkrak 3 Tahun, Blast Furnace PT KS Akhirnya Beroperasi

Kegiatan Penyalaan Perdana Blast Furnace PT KS, Kamis (20/12/2018). Fotografer Usman Temposo

CILEGON – PT Krakatau Steel (KS) akhirnya mengoperasikan Blast Furnace yang sempat mangkrak sekitar tiga tahun. Blast Furnace merupakan teknologi pertama di perusahaan baja nasional tersebut. Diklaim Blast Furnace bisa menambah kapasitas produksi baja serta mengurangi biaya produksi.

Direktur Utama PT KS, Silmy Karim mengaku bersyukur Blast Furnace bisa dioperasikan. “Ya hari ini awal untuk kita beroperasi, yang sebelumnya sempat delay. Allhamdulilah hari ini bisa beroperasi,” ujar Silmy disela kegiatan Penyalaan Perdana Blast Furnace PT KS, Kamis (20/12/2018).

Dia menjelaskan bahwa Blast Furnace mampu memproduksi sekitar 1,2 juta ton per tahun. Sehingga secara keseluruhan PT KS bisa memproduksi 4,5 juta ton per tahun.

“Sedangkan untuk target pemerintah sebesar 10 juta ton per tahun, kita akan bangun pada triwulan pertama 2019. Kita akan mulai bukan hanya merencanakan, namun juga sudah proses bagaimana mengimplementasikannya. Sebab rencana strategis tersebut sudah dicanangkan pak Presiden Joko Widodo,” terangnya.

Selain Blast Furnace, kata dia, pihaknya juga akan meresmikan Hot Strit Mill 2
(HSM#2) dengan kapsitas 1,5 juta ton yang akan diresmikan pada April 2019 mendatang. “Ini juga akan menambah produksi kapasitas baja kita,” katanya.

Dia menyatakan bahwa setelah melakukan penyalaan perdana dan memasukkan bahan baku, maka kemudian pada awal Januari 2019 sudah mulai menghasilkan produk.

“Selama enam bulan kedepan kita bertahap, biasanya dimulai dari 30 persen produksi, kemudian naik, terus naik, enam bulan kemudian 100 persen,” terangnya.

Dia menjelaskan bahwa tujuan di bangunnya Blast Furnace selain menambah kapasitas produksi PT KS, juga bisa melakukan penghematan sebesar 58 USD per ton.

“Jadi ini tujuan awalnya. Jadi ini juga akan memperbesar ruang margin kita,” katanya.

Di mengungkapkan bahwa pembangunan Blast Furnace memakan biaya investasi sekitar sekitar 1 miliar USD.

“Selain penurunan biaya kita juga memiliki satu teknologi baru. Blast Furnace ini teknologi pertama di PT Krakatau Steel, walaupun di PT Krakatau Posco ada yang merupakan perusahaan Joint Venture kita,” katanya.

Dia menuturkan bahwa sebelum adanya Blast Furnace, PT KS menggunakan teknologi Electric Arc Furnace (EAF) dimana bahan bakarnya menggunakan gas. Sehingga biaya produksinya lebih tinggi.

“Sehingga dengan adanya Blast Furnace ini kita akan mengurangi ketergantungan pada EAF. EAF ini memang punya kelebihan kapan saja hidup dan mati, namun dengan Blast Furnace kita memiliki biaya lebih rendah dan bisa hidup selama 24 jam hingga 15 tahun tanpa henti. Bahan bakar Blast Furnace juga lebih murah karena menggunakan batu bara,” jelasnya. (Man/Red)