Beranda Opini Semakin Semangat Bersama Emak-emak

Semakin Semangat Bersama Emak-emak

251
0
Dian Wahyudi, Komunitas Sinergi Banten

Oleh : Dian Wahyudi, Komunitas Sinergi Banten

Sore tadi saya berkesempatan menghadiri kumpulan emak-emak di kampung pasir jengkol, tak jauh dari Rangkasbitung. Berbagi pengalaman tentang mendidik anak.

Aktifitas dimulai dengan cipta suasana oleh pembawa acara, bertanya kepada audiens, jika ditanya semangat, di jawab semakin semangat, sehat…semakin sehat, hebat…semakin hebat, ngutang…semakin ngutang…haha…emak-emak keceplosan.

Sekarang angkat tangannya kata pembawa acara, ikuti gerakan tangan saya..buka (tangan dibuka)…tutup (tangan ditutup)…tutup (tangan tetap dibuka)…buka (tangan ditutup)…emak-emak mulai gak konsen…tertawa..

Berbagai aktifitas mencairkan suasana dan teknik membangun konsentrasi dilakukan, agar audien fokus untuk mengikuti. Begitulah katanya, kadang kita gak fokus dengan apa yang kita targetkan, kita ingin agar anak sholeh dan sholehah, kita nyuruh anak sholat dan ngaji saat maghrib, kitanya malah nonton sinetron di televisi, bagaimana anak mau nurut, belum lagi parebut ponsel jeung kolotna. Karena anak itu copas, copy paste para orang tuanya, kelakuan kita diikuti. Kita harus fokus dengan pendidikan anak-anak kita.

Saya tercenung, saya jadi teringat dengan berbagai kisah hidup saya secara pribadi, dan sepertinya menjadi hal menakjubkan setelah sekian lama, seolah menemukan berlian dan emas.

Saya teringat bagimana kakek saya, jika saya mudik, kakek yang saat itu pernah menjadi Kepala Desa kerap memangku saya saat ngariung ataupun bertemu dengan masyarakat, atau duduk dekat beliau, saat bermusyawarah.

Saya teringat bagaimana saat remaja, saya diajari oleh bapak berjualan minyak tanah, dari mulai bayar ke agen, menggelindingkan drum, melayani menakar minyak ke derigen, transaksi pembayaran, secara tidak langsung mengajari saya tentang arti bisnis tanpa saya sadari.

Membiarkan saya bermain berbagai macam jenis ketangkasan, dari mulai pingpong, bulu tangkis, naik sepeda, sepak bola, berenang di sungai, berbagai macam permainan tradisional semisal gatrik, gobag, dan lain – lain. Hal yang saya sadari, betapa malangnya jika dulu seusia saya orang tua mengekang membatasi aktifitas menyenangkan itu dulu.

Didik anak-anak sesuai fitrahnya, disesuaikan dengan jenis kelamin, usia dan tahapan perkembangan anak.

Optimalkan potensi anak-anak, menyenangkan, berkembang sesuai bakat dan minat.

Betapa, saat bayi kemudian masa kecil, sampai dewasa kita cukup kuat dipengaruhi oleh interaksi kita dengan orangtua dan lingkungan, oleh motivasi dan arahan ayah dan ibu kita. Betapa sangat perlu, sangat relevan, pentingnya menyiapkan segalanya dalam berumah tangga dimulai dari mencari pasangan. Yang akan menjadi teladan anak-anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah, yang akan mengarahkan kepada hal yang positif.

Menjadi apa dikemudian hari, mewariskan iman yang kuat menjadi seorang muslim yang cerdas, visioner, inovatif, transformatif dan meneladani Rosulullah SAW.

Akur dan Bersinergi dalam mengupayakan visi dan misi dengan berbagai pihak, terutama lembaga pendidikan dimana anak-anak kita tumbuh dan berkembang.

Kau tidak bisa menyebrangi lautan hanya dengan menatap airnya, kata Rabindranath Tagore, pemenang hadiah Nobel Sastra tahun 1913.

Betapa besar arti memotivasi dan memberi semangat kepada siapapun. Diakhir acara saya sampaikan bahwa, dapat berbiacara di depan umum dan dapat menuangkan berbagai ide kedalam tulisan sampai membuat buku, merupakan proses panjang melalui menyerap berbagai hal dari setiap orang yang berjasa dalam hidup kita.

Betapa pentingnya, para orang tua dan siapapun yang membentuk karakter kita menjadi sosok yang bermanfaat untuk orang lain.

Saya hadiahkan dua buah buku saya kepada peserta acara serta tiga orang pengelola lembaga tersebut. Semoga dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua. (***)