Beranda Peristiwa Sekelumit Sejarah Pencurian Kerbau di Banten

Sekelumit Sejarah Pencurian Kerbau di Banten

1036
0
Kerbau yang disembelih para pelaku - foto istimewa

AKSI pencurian 9 ekor kerbau di kawasan Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon masih menyisakan pilu.

Seorang ibu yang viral melalui video berdurasi tak lebih dari 50 detik itu menyita duka warganet yang menyaksikannya.

Mendapati kerbau yang setiap hari digembalakannya sudah tergolek tak bernyawa, tangis ibu itu pecah seketika dan langsung mengusap kerbaunya.

Pencurian atau perampasan kerbau sendiri bukanlah hal yang asing di Banten. Kejahatan klasik satu ini sudah ada bahkan sejak zaman kolonial Belanda dulu. Di Banten Selatan, potret kriminalitas era kolonial itu salah satunya terekam melalui kisah Saijah dan Adinda dalam roman Max Havelaar karya Multatuli.

Kerbau dalam kisah itu tak jauh berbeda dengan hari ini. Hewan yang menjadi primadona setiap menjelang Idul Adha itu merupakan aset sebagian masyarakat Banten yang bercorak bertani dan menggembala.

Dalam salah satu tulisannya, sejarawan Onghokham melalui tulisan “Bromocorah dalam Sejarah Kita” (2003) menyebutkan bahwa kelompok Jago atau Jawara kerap kali beraksi melakukan aksi perampokan hewan ternak milik warga. Kejahatan tersebut bukan tidak diketahui oleh otoritas setempat.

Alih-alih membasmi kejahatan dan mengembalikan hewan ternak rakyat, otoritas setempat malah berkolaborasi dengan para jago atau jawara untuk menikmati hasil curian.

Menjelang peristiwa Pemberontakan Petani Banten atau yang akrab dikenal dengan peristiwa Geger Cilegon 1888, kelompok Mas Bangsa, Mas Bima, Satron dan Noriman juga kerap merampok ternak milik warga di tengah situasi tak menentu pasca runtuhnya Kesultanan Banten. Aksi kejahatan mereka lebih banyak dilakukan di wilayah Banten Utara.

Aksi pencurian hewan ternak itu sangat meresahkan masyarakat. Di kalangan warga meyakini bahwa para pencuri tersebut memiliki ilmu sire`p yang bisa membuat tidur nyenyak pemilik ternak sehingga tidak menyadari jalannya aksi pencurian tersebut.

Sementara, kelompok Ngabehi Adam, Haji Yamin, Ngabehi Utu, dan Ngebehi Ikram yang memobilisasi kaum gelandangan, budak dan kaum disertir melakukan perampokan untuk modal perjuangan politik menghadapi kolonial. (You/Red)