Beranda Bisnis Sejumlah Pedagang di Tenant MOS Terancam Gulung Tikar

Sejumlah Pedagang di Tenant MOS Terancam Gulung Tikar

3909
0
Mediasi tenant dengan pengelola EO di MoS, Senin (6/7/2020) - (Foto Ade Faturohman/BantenNews.co.id)

SERANG – Pihak event organizer (EO) PT Epatama Grasia Indonesia selaku pengelola tenant mengancam para pedagang di Mall Of Serang (MoS) untuk mengosongkan lapaknya. Akibatnya sejumlah pedagang di lantai dua MoS terancam gulung tikar.

Hal itu lantaran para pedagang belum membayar uang sewa per Juli 2020, sehingga mereka tidak diperbolehkan untuk membuka lapaknya sebelum dilunasi.

Acong salah seorang tenant mengatakan, seharusnya pihak EO melakukan mediasi terlebih dahulu dengan pedagang sebelum mengambil keputusan.

“Jangan sepihak, harusnya itu ada mediasi setiap kebijakan dan keputusan itu diambil bersama, pedagang dan EO itu duduk bersama. Kami hanya ingin ada mediasi, itu saja,” ujarnya usai mediasi dengan pengelola EO di MoS, Senin (6/7/2020).

Mengenai kenaikan biaya sewa dan kebijakan lainnya, ucap dia, seharusnya management EO melihat kondisi pasar. “Karena kondisi saat ini di tengah Covid-19 kami pun kesulitan dana. Kalau kondisi tidak ada Covid-19 mungkin pedagang tidak terlalu mengeluhkan. Dan harusnya melihat pasar dulu, kondisi kami seperti apa,” katanya.

Senada dikatakan tenant lainnya Yoan. Dia mengaku telah mendapat pesan singkat dari pihak EO dengan kata-kata yang kurang mengenakkan. Menurutnya kebijakan pengelola tenant tak berpihak pada tenant.

“Kalau tidak bisa transfer malam ini silakan kosongkan tempatnya. Itu bahasa pengusiran, kenapa harus seperti itu bahasanya. Saya benar-benar merasa direndahkan dengan kata-kata itu,” katanya.

Ia juga meminta pihak EO agar tidak semena-mena menaikkan biaya sewa dan melakukan mediasi setiap kali ada kebijakan. Sebab selama ini pihak EO tidak pernah melakukan mediasi dan transparan terhadap pedagang.

“Padahal mereka (EO) mengatakan kalau kami ini adalah mitra, dan bahasa mereka itu terlalu kasar,” ujarnya.

Padahal, kata dia, kalau pedagang diizinkan membuka lapaknya jelang lebaran selama dua pekan, pihaknya pun siap untuk membayar uang sewa.

“Kami selalu rutin, kalau memang diizinkan kami akan membayar dimuka. Kemudian, selama saya berjualan delapan tahun di sini, pembayarannya selalu diakhir bulan, kenapa sekarang diawal bulan,” ucapnya.

Bahkan, Yoan sudah membayar uang sewa 50 persen, namun tetap tidak diperbolehkan untuk membuka lapaknya.

“Ini saya sudah bayar separuh tapi tetap tidak boleh berjualan dulu. Nanti kalau sudah dilunasi baru boleh membuka stand, padahal kan kondisi ekonomi semua juga sedang krisis, kenapa tidak ada kebijaksanaan,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, pengelola EO PT Epatama Grasia Indonesia, Bisri menjelaskan, pihaknya tidak melakukan pengusiran atau mengancam dalam bentuk apa pun. Bahkan para pedagang sudah diberitahukan melalui pesan singkat terkait kebijakan pembayaran sewa tersebut.

“Karena kami bekerja sesuai dengan prosedur kami, dan sebelumnya pun sudah kami informasikan,” ujarnya.

Mengenai aturan sewa, ia mengatakan, sejak awal pembayaran sewa tenant dilakukan diawal bulan. “Memang dari kantor itu pembayaran sewa dimuka, sebelum membuka stand. Jadi kalau pun ada keterlambatan, kami pun memberikan toleransi kepada pedagang. Bahkan ada pedagang yang membayar hingga telat bulan. Nanti dari hasil mediasi ini juga akan saya sampaikan ke kantor,” ujarnya.

Ketua Gerakan Peduli Pembangunan Rakyat (Gappura) Banten, Husen Saidan mengatakan, pihaknya akan mengawal hingga tuntas persoalan tersebut. “Apabila pihak pengelola EO tetap melakukan pengusiran dan tidak memberikan tenggat waktu kepada pedagang, kami siap untuk melakukan aksi kepada mereka,” ujarnya

Dari hasil audiensi yang dilakukan oleh pihaknya dan pengelola EO, serta pedagang, kata dia, pihak pengelola akan memperbaiki. “Mudah-mudahan ke depan bisa saling menerima, jadi kalau masyarakat yang bisa menyelesaikan bagi yang mampu, dan yang tidak mampu nanti seperti apa dari management,” ujarnya.

Namun, bila management tetap melakukan penindasan dengan kebijakan-kebijakan mereka, pihaknya akan bereaksi keras. “Tentu, kami bereaksi keras dan melakukan aksi agar persoalan ini selesai. Karena kan ada pengusiran secara halus, mereka bilang mengosongkan. Padahal pedagang di sini sudah lebih dari lima tahun, dan membantu pihak manajemen menjadi lebih ramai,” ucapnya.

(Dhe/Red)