Beranda Pendidikan Sejarah Pers di Banten pada Masa Kolonial

Sejarah Pers di Banten pada Masa Kolonial

Repro koran Pengharapan Banten koleksi Museum Multatuli Lebak. (Ist)

PERKEMBANGAN pers  dimulai sejak zaman VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) antara tahun 1602-1799. Pada tahun 1744 di Batavia terbit sebuah surat kabar pertama bernama Bataviasche Nouvelles yang terbit selama dua tahun. Kemudian pada tahun 1776 masih di Batavia terbit mingguan Vendu Nieuws yang dapat bertahan hingga di akhir masa VOC.

Pada masa kolonial, pers juga mulai berkembang di wilayah Banten yang saat itu masih berbentuk keresidenan. Di Rangkasbitung terbit surat kabar mingguan berbahasa Belanda, bernama Pengharapan Banten. Surat kabar ini hanya terbit setahun yakni 1923-1924. Pemimpin redaksinya adalah RS Prihatin.

Selain di Banten sendiri, ada juga suara masyarakat Banten yang muncul di daerah lain di Jawa Barat, yang bernama Surat Kabar Tirtayasa yang terbit di Bandung, serta Surat Kabar Surasowan yang terbit di Batavia pada tahun 1929. Kemudian di tahun 1940 terbit juga Surat Kabar De Banten Bode dan De Banten Voreitz, serta majalah Utusan Banten yang dicetak di Serang dengan menggunakan mesin cetak yang dipakai untuk mencetak Oeang Repoeblik Indonesia daerah Banten (Oeridab).

De Banten Bode merupakan media masa pada masa kolonialisme di Banten yang umurnya paling panjang, lima belas tahun, dari 1924- 1938. Meskipun Koran yang terbit setiap hari sabtu ini diterbitkan oleh Charles M. Fritz, dewan redaksi dan kontributor tulisan pada surat kabar ini sebagian besar adalah kaum pribumi. Sementara itu, tulisan yang dibuat oleh orang Eropa hanya muncul sesekali saja.

Organisasi Sarekat Islam (SI) juga turut berperan dalam perkembangan pers di Banten. Raden Goenawan, yang merupakan sekretaris kedua Sl di Banten pada tahun 1913 dan kemudian menjadi wakil ketua pada tahun 1914 diberikan tugas oleh pengurus pusat SI, pimpinan HOS Cokroaminoto untuk mendirikan cabang SI di Serang. Hingga kemudian kepengurusan SI Banten terbentuk serta ditunjuk Hasan Jayadiningrat sebagai ketua.

Baca Juga :  Pemkot Cilegon Bakal Ubah Format Penerima Biaya Kuliah Gratis

Pada tahun 1916, beberapa tahun setelah SI ini didirikan, Sarekat Islam sudah memiliki anggota sejumlah 6.295 di Serang, Labuan, dan Lebak. Sedangkan di Tangerang sendiri anggotanya sudah mencapai angka 10.787 pada tahun 1914.

Untuk efektifitas komunikasi dan penyebaran ide-ide pergerakan, SI Banten menerbitkan sebuah surat kabar yang terbit mingguan, Mimbar, yang pada tahun 1918 memiliki susunan pengurus redaksi sebagai berikut: Hasan Jayadiningrat (sebagai pemimpin redaksi), Harunadjaja yang berprofesi sebagai mantri guru kelas 2 di Malingping bekerja sebagai anggota dewan redaksi.

Mimbar sendiri memiliki sejumlah koresponden yang tinggal dan bertugas di beberapa daerah di Banten: Wangsamihardja (Menes), Achmad (Cikeusal). Nitiarmadja dan Martakusuma (Rangkasbitung). Sedangkan untuk urusan administrasi dan distribusi berada di bawah tanggung jawab Mangundikaria.

SI memiliki Majalah yang bermotto ‘Rakyat yang Mencari Keadilan’ ini terbit sebulan sekali, yakni disetiap tanggal 5 dan 20 Tanggal penerbitan (tarikh) berada pada sisi paling kiri atas bertuliskan tanggal 5 September 1919/ sementara di tengah bertanggal 9 Zulhijah 1337. Di antara dua penanggalan tersebut terdapat tulisan bahasa Belanda berbunyi: “ook op zondag bestellen” atau dapat dipesan juga pada hari minggu. Di bawah tulisan ‘tarikh’ terdapat nama-nama dewan redaksi: Redakteur-nya bernama Arga yang pada tiga edisi berikutnya mengundurkan diri. Pembantu redaktur tetap: Hasan Jayadiningrat, Mohd. Isa, Wangsamiharja, dan beberapa anggota SI lainnya di Banten.

Majalah pergerakan milik SI Banten tersebut beralamatkan redaksi di Kaujon, Serang.

Pada edisi pertama koran MIMBAR menjelaskan latarbelakang terbitnya koran tersebut adalah berkeinginan untuk mencerdaskan rakyat Banten serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju alam yang terang benderang. berikut merupakan kutipan lengkapnya:

” Latar belakang di bentuknya ‘Orgaan yaitu perabot untuk memberitahukan suaranya baik pada para anggota SI maupun untuk umum berdasarkan pertemuan wakil-wakil SI di Banten hari Ahad tanggal 17 Agustus 1919. Memang betul sudah ada surat kabar bumi putera seperti: Neratja, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda. Tapi tiga surat kabar itu tidak dapat di-akses oleh orang Banten kebanyakan, dan banyak sekali hal-hal yang hanya mengenai Keresidenan Banten, satu kabupaten atau se-distrik saja. Oleh karena itu, SI Banten merasa perlu mempunyai prabot sewarna, orgaan sendiri.’

Baca Juga :  Audit BPK di Lebak: Anggaran Pendidikan Diuji Transparansi

 Kemudian, redaktur mengemukakan filosofinya pada pilihan kata MIMBAR yang berarti Mimbar, tempat berkhotbah, tempat berbicara. Yang menarik, koran tersebut diterbitkan karena dilatarbelakangi oleh sebab sudah mulai terbukanya kesempatan untuk berkumpul dan berserikat, sekalipun masih sangat terbatas.

Tim Redaksi