Beranda Opini Secercah Harapan di Tengah Wabah Covid-19

Secercah Harapan di Tengah Wabah Covid-19

613
0
Sukarno, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang Kota Tangerang Selatan

Oleh : Sukarno, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang, Kota Tangerang Selatan

Covid-19, sebuah nama yang saat ini sangat familiar ditelinga umat manusia sejagat raya. Pemberitaan tentang wabah ini begitu intens, hingga efek yang ditimbulkannya pun begitu dahsyat. Kehidupan sosial ekonomi terdampak sangat luas, tidak dapat dipungkiri lagi dunia usaha yang sangat merasakan goncangan ini. Semua sektor usaha mengalami pukulan yang sangat telak, tidak terkecuali pelaku sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Bahkan bisa dikatakan UMKM-lah yang paling merasakan dampak dari pandemi corona yang terjadi saat ini. Yang notabene sasaran UMKM adalah berputarnya roda ekonomi pada masyarakat golongan menengah ke bawah.

Padahal menurut data Bank Indonesia, UMKM memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja kurang lebih 97% dari seluruh tenaga kerja nasional dan memiliki tingkat kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 57%. Artinya peran UMKM dalam perekonomian nasional sangatlah besar. Untuk itu harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah bagaimana memberikan solusi atas kondisi saat ini.

Berhentinya produksi akibat langkanya bahan baku, merosotnya omzet karena menurunnya permintaan pasar yang berakibat pada keputusan yang cukup sulit yaitu merumahkan karyawan atau bahkan PHK. Tentu hal ini membawa efek domino bagi lingkungan sekitar, karena rata-rata para pekerja disektor ini adalah orang-orang sekitar tempat usaha, para ibu rumah tangga yang ingin mendapatkan tambahan penghasilan, para anak-anak putus sekolah, yang tidak dapat diserap disektor formal. Kondisi ini tentu tidak terbayangkan akan terjadi, begitu tiba-tiba, begitu cepat, bagai tsunami yang bergulung-gulung lalu menghantam dunia usaha.

Masih menurut data Bank Indonesia krisis moneter yang terjadi pada 1998, 2008-2009, 96% UMKM masih dapat bertahan dari goncangan krisis. Namun goncangan kali ini nampaknya membuat goyah pelaku UMKM. Masa-masa indah menjelang masuknya bulan Ramadhan dan datangnya hari raya idul fitri dengan membanjirnya pesanan tidak lagi dapat mereka rasakan.

Secercah harapan

Menyikapi masalah ini Kementrian Koperasi dan UKM mengambil langkah cepat dengan mendata UMKM yang terdampak Covid-19 melaui formulir elektronik atau e-form. E-form yang dimaksud berupa kuesioner yang harus diisi para pelaku UMKM terdampak. Kemudian data yang diperoleh selanjutnya akan tergabung di pusat data kementerian.

Selain itu dalam siaran persnya Kementrian Koperasi dan UKM menyatakan bahwa telah menyiapkan 8 program khusus sebagai bentuk antisipasi dampak ekonomi akibat wabah COVID-19. Yang pertama, stimulus daya beli produk UMKM dan koperasi senilai Rp 2 trilyun dan telah disetujui presiden. Yang kedua, mendukung dan mengefektifkan “social distancing” dengan program belanja di warung tetangga bekerjasama dengan 9 BUMN Klaster Pangan dan kelompok masyarakat. Yaitu bagaimana warung-warung dimulai dari tingkat RT, mendapat supply barang dagangan sehingga mereka bisa berjualan kepada para tetangga dan bisa dilakukan secara online.

Misalnya konsumen pesan melalui aplikasi pesan whatsApp (wa), kemudian barang diantar kepada pelanggannya. Yang ketiga, adalah program restrukturisasi dan subsidi suku bunga kredit usaha mikro yang sampai saat ini masih dibahas dengan Kementerian Keuangan. Yang keempat, yaitu restrukturisasi kredit yang khusus bagi koperasi melalui LPDB KUMKM. Yang kelima, mendorong penyediaan masker untuk semua kalangan baik bagi tenaga medis maupun masyarakat umum. Yang keenam, memasukkan sektor mikro yang paling rentan terdampak COVID-19 dalam klaster penerima kartu pra kerja untuk pekerja harian. Yang ketujuh yaitu Bantuan Langsung Tunai (BLT). Nilainya sedang disusun oleh Kementerian Keuangan. Dan yang kedelapan adalah stimulus pajak dimana pihaknya mengusulkan PPh 21, pajak penghasilan impor, PPh 25, restitusi pajak pertambahan nilai bisa direlaksasi untuk KUMKM.

Dengan delapan program yang disiapkan oleh kementrian Koperasi dan UKM tentu menjadi secercah harapan bagi para pelaku UMKM dalam menghadapi hempasan pandemi covid-19 yang kita tidak tahu kapan akan berakhir. Dari program-program tersebut barangkali yang perlu menjadi sorotan dengan tanpa mengurangi manfaat dari program lain adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT), karena program ini paling rawan terjadinya penyelewengan, semoga pihak-pihak pengambil kebijakan amanah dalam penyaluran BLT tersebut, tanpa adanya potongan apapun. Namun apapun bentuknya tentu para pelaku usaha yang harus merasakan manfaatnya apabila semua bantuan dapat terdistribusikan dengan baik, tepat sasaran pada pihak yang berhak dan membutuhkan.

(***)