Beranda Sosial dan Budaya Dindikbud Klaim Buta Aksara di Kota Serang Masuk Zona Hijau

Dindikbud Klaim Buta Aksara di Kota Serang Masuk Zona Hijau

166
0
Ilustrasi - foto istimewa rimma.co

SERANG – Kota Serang sebagai Ibukota Provinsi Banten, telah berada di posisi hijau dalam persoalan buta aksara. Hal ini dikarenakan Pemerintah Kota Serang, berhasil menekan angka buta aksara, hingga di bawah 1 persen, tepatnya 0.6 persen.

Namun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang sengaja tidak mendeklarasikan Kota Serang sebagai Kota Bebas Buta Aksara karena memandang bahwa pemberantasan buta aksara merupakan program yang dilakukan secara berkelanjutan.

Demikian kata Kepala Bidang (Kabid) PAUDNI pada Dindikbud Kota Serang, Nursalim, Rabu (24/7/2019). Menurutnya dalam peta Gerakan Pemberantasan Buta Aksara, Kota Serang masuk dalam zona toleransi.

“Berdasarkan pemetaan tersebut, kita sudah masuk zona toleransi atau posisi hijau. Karena berdasarkan rumus nasional, zona toleransinya berada di angka 5 persen ke bawah,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah penyandang buta aksara yang ada di Kota Serang saat ini, berada di kisaran angka 100 hingga 200 jiwa. Hal ini berdasarkan data statistik yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

“Ini berdasarkan data BPS ya, penyandang status buta aksara itu berada di angka 100 hingga 200 saja. Namun, meskipun hanya sedikit, tetap menjadi perhatian kami,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa Kota Serang merupakan daerah urban, menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai daerah. Dan tidak sedikit pula dari mereka yang datang dalam kondisi buta aksara.

“Karena daerah urban, Kota Serang ini sering didatangi oleh masyarakat dari berbagai daerah. Dan ketika mereka terdaftar sebagai warga Kota Serang, dan menyandang status buta aksara, ini juga menjadi beban kita agar terbebas dari status tersebut,” ujarnya.

Selain itu, ia menuturkan bahwa program pendidikan keaksaraan yang saat ini pihaknya lakukan, merupakan program pendidikan aksara lanjutan. Dimana program tersebut, lanjut Nursalim, merupakan program yang berfokus pada melek aksara permanen.

“Jadi buta aksara itu kan banyak penyebabnya. Ada yang karena memang tidak mendapatkan pendidikan, ada yang putus sekolah, dan ada yang sudah melek aksara, namun kembali buta,” ucapnya.

Dalam melaksanakan program pemberantasan buta aksara tersebut, Nursalim mengatakan bahwa pihaknya menggunakan metode pemberantasan buta aksara berbasis keterampilan.

“Salah satunya dengan Taman Baca Masyarakat (TBM). Dalam TBM itu, buku-bukunya tidak ada yang ilmiah. Tapi semuanya buku yang bahasanya sederhana dan mudah dicerna, serta memberikan keterampilan seperti cara membuat kue,” ujarnya.

Ia pun menegaskan, bahwa Pemerintah Kota Serang tetap berkomitmen dalam memberantas buta aksara, meskipun sudah dalam posisi hijau dalam pemetaan.

“Kami tetap komitmen. Banyak program yang akan kami laksanakan, terutama program pemberantasan buta aksara berbasis keterampilan,” ucapnya. (Dhe/Red)