Beranda Politik Heboh Polling Online Calon Walikota Cilegon, Peneliti : Akurasinya Beda Dengan Survei

Heboh Polling Online Calon Walikota Cilegon, Peneliti : Akurasinya Beda Dengan Survei

109
0
Grafik polling. (doc.iebschool.com)

CILEGON – Polling terkait dengan sosok calon Walikota Cilegon di masa yang akan datang yang disebar oleh sejumlah akun di jejaring sosial beberapa hari belakangan telah mengundang pertanyaan terutama di kalangan pejabat birokrasi di Pemkot Cilegon.

“Sebenarnya siapa sih yang pertama kali buat polling yang di facebook itu? 2020 itu kan masih lama, mana lagi kita juga belum punya pimpinan (Walikota) yang definitif. Maksudnya apa dibuat polling seperti itu?,” tanya seorang sumber pejabat ASN kepada BantenNews.co.id, Rabu (1/8/2018).

Pertanyaan setiap polling yang terpantau menggunakan aplikasi sejenis seperti “Siapakah calon kandidat Walikota Cilegon 2020 yang layak menurut anda?” atau “Siapa figur pilihan anda yang layak jadi Walikota Cilegon 2020?” yang dilayangkan kepada netizen dinilai terlalu prematur dan dilakukan disajikan ke publik pada waktu yang kurang tepat.

loading...

“Yang menjadi kekhawatiran itu kalau sampai menimbulkan kegaduhan di Kota Cilegon yang kondusif. Kenapa? karena kan masing-masing pendukung (nama dalam opsional polling), akhirnya malah bisa berdebat siapa yang lebih baik. Padahal untuk itu (debat) kan belum waktunya, masih lama,” imbuhnya.

Sementara itu Anggota DPRD Cilegon, Rahmatulloh mengapresiasi pencantuman namanya dalam opsi pilihan polling tersebut. Ia memandang positif, menilai pencantuman namanya dalam opsi pilihan lantaran dianggap mumpuni untuk menjabat sebagai Walikota di mata pembuat polling.

“Yang pasti kan polling itu bukan saya yang buat, biasa saja dan saya pun tidak merasa kege-eran. Lagi pula ini kan cuma polling, bukan survei. Kalau survei itu kan jelas, ada kategori ada mekanisme dan lain sebagainya. Nah kalau polling itu, kan semua orang juga bisa buat. Artinya apa pun yang dihasilkan dalam polling itu bukan sebuah acuan untuk memutuskan,” katanya.

Pada bagian lain Direktur Program dari lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Sirojudin Abbas mengatakan masyarakat perlu memahami perbedaan yang jelas antara polling dengan sebuah survei sebelum terpengaruh atas apa yang disimpulkan akhir.

“Tingkat akurasi dan kadar scientific antara polling dan survei kan berbeda. (Kalau di polling) orang bisa bertanya ke siapa pun senemunya di jalan, dengan nomor telepon, disebar dengan email terbuka, melalui grup WhatsApp maupun internet. Kalau kita (survei) tidak melakukan begitu karena tidak memenuhi kebutuhan kita,” ujarnya kepada BantenNews.co.id melalui sambungan telepon.

Peneliti senior ini menambahkan, sebuah survei akan menghasilkan akurasi yang baik karena akurasi survei merupakan representasi dari kondisi ril populasi melalui kerja surveyor yang mengacu pada standar scientific untuk survei ilmu sosial yang harus ditaati.

“Bagaimana sample dipilih, bagaimana sample diwawancara, dimintai opini dan sikapnya. Semua dimulai dari membuat questioner, sampling frame siapa yang menjadi sample dalam populasi, kita harus punya data base penduduk di satu wilayah dengan baik dan akurat, belum lagi tenaganya (surveyor) juga yang harus terlatih, mampu mengacak sample dan menguasai verifikasi jawaban sampai dengan mengolah data oleh statistication,” jelasnya. (dev/red)