Beranda Sosok Salut! Meski Keterbatasan Fisik Pria ini Tetap Semangat Hasilkan Cuan

Salut! Meski Keterbatasan Fisik Pria ini Tetap Semangat Hasilkan Cuan

Eman menunjukkan hasil kerajinan tangannya berupa gagang dan sarung golok yang telah selesai ia buat

PANDEGLANG – Eman (51) warga Kampung Rocek Barat, Desa Rocek, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang tidak lagi mampu berjalan atapun berdiri setelah kecelakaan yang menimpa dirinya sekitar 30 tahun lalu. Pria satu orang anak ini menderita putus sumsum tulang punggung setelah kecelakaan yang menimpa dirinya.

Saat ditemui di kediamannya, Eman menceritakan awal mula nasib tragis yang menimpanya. Waktu itu, kata Eman, di tempat kerja dirinya sedang berada di belakang sebuah mobil pribadi yang sedang mengangkut daging sapi, entah kenapa tiba-tiba mobil tersebut mundur dan melindas tubuhnya.

“Dulu saya sempat kerja di rumah pemotongan sapi. Gak tau gimana mobil itu mundur terus saya masuk ke dalam kolong mobil dan kelindes bagian punggung saya. Saya diambil dari kolong mobil waktu itu,” kata Eman menceritakan awal mula kejadian, Selasa (26/7/2022).

Pada saat kejadian dirinya mengaku sempat tidak bisa merasakan kedua kakinya bahkan sempat mencari kakinya tersebut karena dikira sudah putus terlindas mobil.

“Waktu kelindes itu saya masih sadar dan nyari kaki saya karena ngerasa kaki saya hilang dan dikira putus tapi ternyata masih ada,” jelas Eman.

Eman mengaku sudah berobat mulai dari medis hingga pada ahli patah tulang, namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil hingga dirinya pasrah dan menerima semua kenyataan. Saat ini, untuk melakukan aktivitas sehari-hari dirinya hanya bisa merangkak atau bergeser secara perlahan dengan tubuhnya.

Akibat kejadian itu juga dirinya harus bercerai dengan sang istri yang ia nikahi dan sudah memberikan satu orang anak dari pernikahan mereka. Sekarang Eman hanya tinggal sendiri di rumah miliknya. Untuk mengatasi kejenuhan, Eman biasanya mengisi waktunya dengan membuat gagang dan sarung golok pesanan warga. Dari hasil usahanya itu, ia mengaku bisa mencukupi kebutuhan untuk dirinya.

“Saya disini (tinggal) sendiri masak dan apa-apa sendiri. Istri udah cerai sekitar 16 tahun lalu. Awal mula bikin kerajinan gagang dan sarung golok itu waktu pas ngaji iseng bikin nah sampe bisa kaya sekarang. Kalau saya bikin itu tergantung pesanan dari warga, paling biasanya bikin gagang golok sama sarung golok yang buat dipakai ke sawah sama warga,” jelasnya.

Pria yang sudah lebih dari 20 tahun ini melakukan puasa rutin mengaku tidak pernah mematok harga dari hasil kerajinan tangannya. Namun biasanya warga memberikan uang antara Rp30 ribu sampai Rp70 ribu untuk hasil karyanya.

“Kalau saya sebenarnya tidak pernah mematok harga tapi warga biasanya ngasih Rp30 ribu sampai Rp70 untuk gagang sama sarung goloknya tergantung dari jenis kayu dan kesulitan saat membuatnya,” ungkapnya.

Meski kecelakaan tersebut sudah terjadi cukup lama namun dirinya mengaku masih merasakan sakit jika duduk terlalu lama. Alhasil, Eman banyak menghabiskan kegiatannya dengan cara berbaring atau telungkup untuk mengurangi rasa sakit.

“Ya gini (telungkup). Kalau sehari paling saya bisa menyelesaikan pesanan gagang dan sarung golok itu satu buah. Tapi itu juga tergantung bahan kayunya keras atau tidak. Kalau saya santai aja, kan warga juga tidak diminta buru-buru dibereskan pesanan mereka,” tutupnya. (Med/Red)