Beranda Bisnis Saham Bank Banten Anjlok Hingg Rp27 Per Lembar

Saham Bank Banten Anjlok Hingg Rp27 Per Lembar

Foto istimewa bankbanten.co.id

SERANG – Harga saham Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk atau Bank Banten dengan kode emiten BEKS tercatat mengalami penurunan pada perdagangan Senin (9/3/2026).

Berdasarkan data di Google Finance, saham Bank Banten ditutup di level Rp27 per lembar, turun Rp1 atau 3,57 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di harga Rp28.

Grafik pergerakan saham menunjukkan penurunan terjadi sejak pagi hari. Pada awal perdagangan, saham BEKS sempat berada di level Rp28 sebelum akhirnya turun ke Rp27 sekitar pukul 10.00 WIB dan bertahan di level tersebut hingga penutupan pasar.

Data perdagangan menunjukkan harga saham Bank Banten pada hari itu bergerak di kisaran Rp27 hingga Rp28. Sementara dalam rentang 52 minggu terakhir, saham BEKS tercatat berada di level Rp21 hingga Rp40 per lembar.

Adapun kapitalisasi pasar Bank Banten saat ini berada di kisaran Rp1,39 triliun dengan rata-rata volume transaksi sekitar 36,62 juta saham. Rasio price to earning (P/E) tercatat di angka 26,67.

Penurunan nilai saham bank Banten. (Ist)

Sementara itu, dari sisi kinerja keuangan, laporan triwulanan menunjukkan pendapatan Bank Banten pada kuartal III 2025 mencapai sekitar Rp62,58 miliar atau tumbuh sekitar 70,36 persen secara tahunan (year on year).

Menanggapi penurunan harga saham tersebut, Humas Bank Banten, Wildan, mengaku belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut.

“Kami akan konfirmasi ke bidangnya dulu, ya,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Senin (9/3/2026).

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Bank Banten belum memberikan penjelasan lebih detail terkait faktor yang memicu pelemahan harga saham perseroan pada perdagangan hari ini.

Penurunan harga saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) hingga ke level Rp27 per lembar tidak terjadi secara tiba-tiba. Pergerakan saham tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor pasar, regulasi bursa, dan persepsi investor terhadap fundamental perusahaan.

Baca Juga :  LPMPP Untirta Lepas Sambut Peserta Pemagangan Mahasiswa di PT Krakatau Tirta Industri

1. Masuk Papan Pemantauan Khusus Bursa

Salah satu faktor utama yang menekan harga saham BEKS adalah statusnya di Papan Pemantauan Khusus Bursa Efek Indonesia. Setelah diberlakukannya mekanisme perdagangan khusus (full periodic call auction), saham yang berada di papan ini memiliki batas harga minimum yang lebih rendah sehingga lebih mudah mengalami penurunan harga.

Perubahan mekanisme perdagangan tersebut membuat fluktuasi harga lebih besar dan membuka peluang saham turun jauh di bawah level sebelumnya.

2. Sentimen Fundamental dan Kinerja Masa Lalu

Investor juga masih mempertimbangkan kondisi fundamental Bank Banten pada beberapa tahun terakhir. Bank ini sempat menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan modal dan kinerja yang belum stabil, sehingga memengaruhi kepercayaan pasar.

Meski demikian, kinerja terbaru menunjukkan perbaikan. Pada 2025 Bank Banten mencatat laba bersih sekitar Rp52,5 miliar, naik dari Rp39,3 miliar pada 2024.
Namun peningkatan ini belum sepenuhnya mengubah persepsi investor dalam jangka pendek.

3. Kualitas Kredit dan Risiko Perbankan

Beberapa laporan sebelumnya juga menyoroti masalah kualitas aset, termasuk rasio kredit bermasalah (NPL) yang sempat meningkat akibat kredit tertentu. Kondisi ini dapat menimbulkan kekhawatiran investor terhadap kesehatan bank dan berpengaruh pada harga saham.

Dalam sektor perbankan, kualitas kredit menjadi indikator penting karena berhubungan langsung dengan potensi kerugian perusahaan.

4. Aksi Panic Selling Investor

Pengamat pasar menilai penurunan saham BEKS juga dipicu oleh panic selling dari investor ritel. Ketika harga mulai turun, sebagian investor memilih menjual sahamnya untuk menghindari kerugian lebih besar, sehingga tekanan jual meningkat dan harga semakin turun.

Fenomena ini umum terjadi pada saham berkapitalisasi kecil atau yang likuiditasnya tidak terlalu besar.

Baca Juga :  Rugi Sejak Lahir, Harga Saham Bank Banten Anjlok

5. Sentimen Pasar dan Faktor Ekonomi Global

Selain faktor internal, kondisi pasar modal juga dipengaruhi oleh sentimen global seperti ketidakpastian ekonomi dunia, kebijakan bank sentral, maupun kondisi geopolitik. Faktor eksternal tersebut sering memicu volatilitas pada saham perbankan, termasuk bank daerah.

Penulis: Ade Faturohman

Editor: Usman