Beranda Peristiwa Saat Sumur Mengering, Air Menjadi Barang Mewah Bagi Warga Kasemen

Saat Sumur Mengering, Air Menjadi Barang Mewah Bagi Warga Kasemen

Warga menunjukkan lahan peaawahan yang kering. (Adef/bantennews)

SERANG – Matahari belum benar-benar tenggelam ketika warga Lingkungan Cangkring, RT 05 RW 07, Kelurahan Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, mulai melirik sumur bor di halaman rumah mereka.

Bukan untuk sekadar memastikan pompa masih menyala, melainkan berharap air kembali muncul setelah berjam-jam menghilang.

Di kampung ini, musim kemarau bukan sekadar perubahan cuaca. Kemarau mengubah air menjadi barang langka, memaksa warga mengatur setiap tetes yang mereka miliki.

Sawah yang dulu menghijau kini berubah menjadi hamparan tanah retak. Bersamaan dengan itu, sumur-sumur warga kehilangan debit air. Kehidupan sehari-hari pun ikut tersendat.

Ketua RT 05 RW 07, Oni mengatakan, krisis air selalu datang setiap kemarau karena sumber air di wilayahnya bergantung pada area persawahan.

“Kalau musim kemarau begini sawah kering, sumber air juga ikut berkurang. Air sumur jadi sedikit,” katanya, Rabu (29/7/2026).

Dalam sehari, sumur bor hanya mampu mengeluarkan sekitar dua drum air. Setelah itu, pompa kembali mengisap udara kosong. Warga harus menunggu hingga sore, bahkan dini hari, agar air kembali keluar.

“Paling dapat dua drum. Setelah itu nunggu lagi, kadang jam dua malam baru keluar. Air itu buat mandi, cuci baju, cuci piring, semuanya. Mau cukup atau tidak, ya harus dicukupkan,” ujarnya.

Kesulitan tidak berhenti pada jumlah air. Air sumur yang keluar juga terasa asin sehingga tidak layak digunakan untuk memasak ataupun diminum.

Setiap hari, warga terpaksa membeli air bersih menggunakan jeriken atau air galon demi memenuhi kebutuhan paling mendasar.

“Airnya asin, enggak bisa buat masak. Jadi kami beli air jeriken sekitar Rp20 ribu atau beli air galon. Sehari bisa habis dua galon untuk minum dan memasak,” ungkap Oni.

Baca Juga :  Wanita Harus Percaya Diri Sebagai Kunci Kelestarian Bumi

Penderitaan serupa dirasakan Yaya. Setiap pagi, ia langsung menyalakan pompa sebelum matahari meninggi. Ia berpacu dengan waktu karena air bisa berhenti mengalir kapan saja.

“Bangun tidur langsung nyedot air. Paling dapat sekitar 500 liter, habis buat nyuci. Setelah itu enggak keluar lagi. Nunggu sore atau malam baru ada lagi,” katanya.

Menurut Yaya, persoalan itu selalu berulang. Saat hujan turun, air kembali melimpah. Begitu kemarau datang dan sawah mengering, kampung mereka ikut kehilangan sumber kehidupan.

“Kalau musim hujan normal. Tapi kalau sawah kering, kampung juga ikut kekurangan air,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, warga juga mengeluhkan layanan Perumdam Tirta Madani Kota Serang. Mereka mengaku air kerap tidak mengalir saat musim kemarau, sementara tagihan tetap datang setiap bulan.

Sebagian pelanggan bahkan memilih menghentikan layanan karena merasa tidak lagi mendapatkan manfaat.

Warga berharap pemerintah tidak hanya mengirim bantuan air bersih, tetapi juga menghadirkan solusi permanen. Mereka tidak ingin terus menjalani siklus yang sama: setiap kemarau datang, krisis air kembali menghantui.

Menanggapi kondisi itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Serang, Nanang Saefudin, memastikan pemerintah bergerak cepat dengan mengerahkan BPBD Kota Serang dan Perumdam Tirta Madani untuk menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.

“Kami sudah menginstruksikan BPBD dan Perumdam menyalurkan air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.

Pemkot Serang juga menyiapkan langkah jangka panjang dengan memperkuat layanan Perumdam Tirta Madani, khususnya bagi masyarakat Kasemen yang setiap tahun menghadapi ancaman kekeringan.

Nanang menjelaskan, kerusakan Bendungan Karet menjadi salah satu penyebab utama terganggunya pasokan air baku. Kerusakan itu memicu intrusi air laut ke Sungai Cibanten sehingga air berubah menjadi payau dan sulit diolah menjadi air bersih.

Baca Juga :  Terkendala Biaya Transportasi, Pengidap Kanker di Kota Serang Sulit Jalani Perawatan

“Kami sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan Bendungan Karet kepada Kementerian PUPR. Kalau bendungan kembali berfungsi, kualitas air baku akan membaik dan pelayanan air bersih di Kasemen juga bisa lebih optimal,” ujarnya.

Bagi warga Kasemen, solusi itu bukan sekadar proyek infrastruktur. Mereka menunggu hari ketika tidak lagi harus terbangun pukul dua dini hari hanya untuk mendapatkan beberapa ember air, dan ketika musim kemarau tak lagi identik dengan perjuangan mencari setetes kehidupan.

Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd