Beranda Budaya Saat Bedug Masih Menjadi Bahasa Kampung di Pandeglang

Saat Bedug Masih Menjadi Bahasa Kampung di Pandeglang

Wakil Gubernur Banten A Dimyati Natakusumah membuka acara Gebrak Ngadu Bedug di Alun-alun Pandeglang. (Istimewa)

PANDEGLANG – Malam belum benar-benar turun ketika suara bedug mulai menggema dari Alun-alun Pandeglang, Jumat (29/5/2026) malam. Dentumannya tidak sekadar memecah keheningan.

Irama yang saling bersahutan itu seolah menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat tentang sebuah tradisi yang telah menemani perjalanan kampung-kampung di Pandeglang selama puluhan tahun.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, ketika anak-anak lebih akrab dengan layar gawai daripada alat musik tradisional, bedug ternyata masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Ribuan warga memadati Alun-alun Pandeglang saat pembukaan Gebrag Ngadu Bedug 2026. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan perlombaan, tetapi juga untuk merayakan warisan budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banten bagian selatan.

Bagi sebagian orang, bedug mungkin hanya alat penanda waktu salat. Namun bagi masyarakat Pandeglang, bedug memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Bedug bukan sekadar alat bunyi. Ia adalah bahasa kampung yang diwariskan lintas generasi,” kata Ketua Asosiasi Seniman Bedug Kabupaten Pandeglang, Endang Suhendar.

Pernyataan itu terasa hidup ketika puluhan kelompok tampil bergantian. Setiap pukulan memiliki ritme berbeda. Setiap kampung membawa ciri khasnya masing-masing. Bedug bukan hanya alat musik, melainkan medium yang menyatukan sejarah, agama, seni, dan kehidupan sosial masyarakat.

Di Kampung Cilaja, tradisi itu bahkan menjadi bagian dari identitas warga.

Mustori, salah seorang koordinator kelompok bedug, bercerita bahwa awalnya bedug hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan di masjid. Suaranya mengiringi malam takbiran, membangunkan warga saat sahur, hingga menjadi penanda waktu ibadah.

Seiring waktu, masyarakat mengembangkan tradisi tersebut menjadi kesenian yang melibatkan seluruh lapisan warga.

Kini sekitar 35 personel memperkuat kelompok bedug Kampung Cilaja. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak dan remaja juga ikut berlatih secara rutin.

Baca Juga :  Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Banten Siang Ini

“Bapak-bapak, ibu-ibu, remaja sampai anak-anak ikut terlibat. Dukungan masyarakat sangat besar,” ujar Mustori.

Semangat itulah yang membuat tradisi bedug bertahan ketika banyak kesenian tradisional lain mulai kehilangan penerus.

Di sudut lain alun-alun, Mardatillah Nabila, pelajar berusia 16 tahun asal Kadulisung, tampak menikmati setiap penampilan. Ia mengaku awalnya mengetahui Gebrag Ngadu Bedug dari media sosial.

Rasa penasaran mendorongnya datang langsung ke lokasi.

“Awalnya lihat di media sosial. Saya penasaran dan ingin tahu budaya daerah sendiri. Ternyata seru dan menambah pengetahuan,” katanya.

Kehadiran generasi muda seperti Nabila menjadi harapan baru bagi keberlangsungan tradisi tersebut.

Di tengah perubahan zaman, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menyelenggarakan festival, melainkan bagaimana memastikan suara bedug tetap dikenal dan dicintai generasi berikutnya.

Karena itu, Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah mengingatkan pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas daerah.

Menurutnya, masyarakat Pandeglang dikenal sebagai masyarakat religius yang memiliki akar budaya kuat. Jika warisan itu tidak dijaga, identitas daerah perlahan dapat memudar.

“Kalau tidak kita pertahankan, identitas kita bisa hilang,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa relevan di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Modernisasi menghadirkan banyak kemudahan, tetapi juga berpotensi mengikis tradisi yang selama ini menjadi perekat kehidupan masyarakat.

Karena itulah Gebrag Ngadu Bedug lebih dari sekadar festival tahunan.

Ketika dentuman bedug bergema dari satu sudut ke sudut lain alun-alun, yang sesungguhnya sedang dirawat bukan hanya sebuah kesenian. Masyarakat Pandeglang sedang menjaga memori kolektif, merawat identitas, dan memastikan warisan leluhur tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.

Selama suara bedug masih terdengar dari kampung-kampung, selama anak-anak masih mau belajar memukulnya, dan selama masyarakat masih berkumpul untuk merayakannya, tradisi itu tampaknya belum akan kehilangan gaungnya.

Baca Juga :  Masyarakat Adat Baduy Minta Pemprov Banten Lestarikan Hutan

Di Pandeglang, bedug masih berbicara. Dan masyarakatnya masih mendengarkan.

Tim Redaksi