Beranda Opini Resesi: Melemahnya Permintaan Pasar

Resesi: Melemahnya Permintaan Pasar

873
0
Ilustrasi - foto istimewa tirto.id

Oleh : Sugiyarto.SE.,M.M, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Pertama terjadi penyebaran covid-19 di China, kemudian menyebar ke seluruh dunia sampai saat ini belum ada vaksin yang bisa menyembuhkan. Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami peningkatan penyebaran kembali, akibat rendahnya kesadaran masyarakat kita untuk melindungi diri.

Namun kita perlu bersyukur negara kita sudah menjalin kerjasama dengan beberapa negara melakukan uji klinis anti virus covid-19 yang sudah memasuki uji klinis tahap tiga dan di perkirakan baru bisa di produksi dan tersedia di Indonesia pada awal tahun 2021.



Seperti yang disampaikan oleh WHO dan Gugus Tugas Covid-19 Pemerintah Indonesia, untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 masyarakat di himbau untuk selalu menjaga jarak, menghindari kerumunan, menggunakan masker jika berada di luar rumah, melakukan cuci tangan dengan sabun serta air mengalir atau menggunakan hand sanitizer Penyebaran covid-19 mengganggu pergerakan manusia, rantai pasok global dan regional.
Singapura menjadi negera pertama di dunia yang mengalami resesi ekonomi akibat pandemic covid-19.

Pertumbuhan ekonomi Singapura pada kwartal kedua tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 12,6% di bandingkan dengan tahun 2019. Menurut laporan Kementrian Perindustrian dan Perdagangan Singapura (11/08/2020) usaha sektor akomodasi dan jasa makanan terjadi penurunan mencapai 41,4 persen, sedangkan sektor lain yang mengalami pertumbuhan adalah bidang informasi dan komunikasi sebesar 0,5 persen. Pertumbuhan produk domestik bruto(PDB) Singapura di perkirakan pada tahun 2020 mengalami minus 4 persen ada kemungkinan menjadi minus 5 persen hingga 7 persen.

Negara seperti Singapura yang memilik basis perekonomian yang mengandalkan perdangangan dan kunjungan wisatawan, dengan pandemic covid-19 merasakan dampak yang luar biasa besar dan cenderung mengalami resesi ekonomi. Ini tidak berbeda dengan negara maju di eropa seperti German, Inggris, Prancis juga mengalami resesi ekonomi.

Negara maju di Asia yang di pekirakan akan mengelami resesi selain Singapura adalah Korea Selatan. Mereka adalah negara maju, menguasai teknologi serta memiliki pasar luar negeri besar. Ketika daya beli masyarakat dunia mengalami penurunan, maka permintaan barang dan jasa di dunia juga akan menurun, sebagaimana layaknya hukum ekonomi.

Turunya permintaan barang dan jasa membuat kegiatan industri juga menurun, sehingga banyak perusahaan melakukan efesiensi untuk bisa bertahan. Efesiensi adalah pilihan pertama pelaku usaha untuk bertahan, dan cara yang layak di lakukan adalah mengurangi jumlah produksi dan secara paralel akan mengurangi jumlah tenaga kerja.
Usaha yang masih bisa bertahan dalam kondisi pandemic covid-19 sebagian besar adalah industry teknologi informasi dan bisnis yang berhubungan dengan kesehatan. Selain kedua jenis usaha tersebut sebagian besar pelaku usaha memilih untuk bertahan dan menjaga pasar yang di miliki saat ini.

Negara seperti Indonesia yang tidak tergantung pada pasar eksport sedikit berbeda dengan negara maju walaupun juga merasakan dampak yang luar biasa berat. Dimana banyak perusahaan yang menutup sementara kegiatan bisnisnya.

Menurut Biro Pusat Statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kwartal pertama tahun 2020 sebesar 2,97 persen di bandingkan kwartal pertama tahun 2019. Sedangkan konsumsi masyarakat tumbuh 2,84 persen. Angka ini mengalami penurunan di bandingkan kwartal pertama tahun 2019 sebesar 5,02 persen Sedangkan nilai ekport kwartal pertama sebesar UU$ 74.41 miliar dan nilai import US$ 70,91 miliar. Artinya masih terjadi surplus neraca perdangan kwartal pertama tahun 2020.

Bila di bandingkan dengan kwartal pertama tahun 2019, eksport dan import pada tahun 2020 mengalami penurunan. Perbedaan terjadi pada tahun 2019 dimana neraca perdangan kita mengalami minus, sedangkan pada kwartal pertama tahun 2020 neraca perdangan indonesia surplus sebasar UU$ 3.5 miliar Kwartal pertama tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia di topang oleh konsumsi rumah tangga yang mencapai 58,14 persen.

Menurut Biro Pusat Statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kwartal kedua minus 5,32 persen secara tahunan. Karena dominasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi dalam negeri. Maka fokus pemerintah dalam menangani dampak covid-19 di antaranya adalah membantu usaha mikro yang jumlahnya mencapai 60 jutaan dan memiliki kemampuan memutar roda perekonomi dalam negeri untuk menjaga pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi, pemerintah saat ini meluncurkan program pemberian bantuan tunai sebesar Rp. 600.000,- kepada 15,7 juta pekerja formal yang gaji mereka masih di bawah Rp 5.000.000,- per bulan selama empat bulan kedepan. Menurut Kementrian Tenaga Kerja, pekerja yang sudah terdaftar dan memiliki identitas peserta BPJS otomatis akan menerima subsidi.

Permasalahan yang di hadapi di lapangan adalah tidak seluruh pekerja formal di perusahaan didaftarkan sebagai peserta BPJS. Namun bagi pekerja non formal sebagai peserta BPJS mandiri , bisa mendaftarkan diri sebagai penerima subsidi.
Seperti kita ketahui banyak masyarakat kita yang tinggal di daerah pedesaan, yang sebagian besar sebagai pekerja non formal dan sebagai peserta BPJS atas bantuan iuran pemerintah.

Mereka ini adalah peserta yang tidak berhak untuk mendapatkan bantuan subsidi.
Banyak infrastruktur milik pemerintah pusat dan daerah bisa di maksimalkan dan di fungsikan sebagai ujung tombak dalam menyalurkan distribusi bantuan tunai untuk pekerja non formal.

(***)