Beranda Bisnis QRIS Belum Merata di Pandeglang, Pasar Tradisional Masih Andalkan Uang Tunai

QRIS Belum Merata di Pandeglang, Pasar Tradisional Masih Andalkan Uang Tunai

Sekretaris Diskomsantik Kabupaten Pandeglang Abdul Latif. (Madani Prasetia/bantennews)

PANDEGLANG – Pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Pandeglang. Pedagang pasar tradisional masih mengandalkan uang tunai, sementara penggunaan QRIS lebih banyak tumbuh di kalangan menengah ke atas.

Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Sandi dan Statistik (Diskomsantik) Pandeglang, Abdul Latif mengakui, penggunaan QRIS belum merata. Menurutnya, pembayaran digital mulai digunakan di kawasan jajanan Gedung Juang dan sejumlah warung Madura, tetapi belum menjadi pilihan utama di pasar tradisional.

“Secara umum bisa dikatakan sekitar 50 persen sudah menggunakan, terutama di kalangan menengah ke atas. Kalau di pasar tradisional belum, karena masyarakat di sana masih nyaman menggunakan uang tunai,” kata Latif, Rabu (4/11/2026).

Latif menyebut, kepemilikan ponsel, rekening bank, dan akses mobile banking masih menjadi kendala. Diskomsantik sejauh ini memusatkan sosialisasi pada pelaku UMKM yang bekerja sama dengan pemerintah daerah.

“Untuk penyampaian sosialisasi, sementara baru di tataran UMKM, pedagang-pedagang kecil yang sudah berkolaborasi dengan kami dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan,” ujarnya.

Diskomsantik berencana menggandeng perbankan pada 2027 untuk memperluas edukasi QRIS. Pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menjadi salah satu opsi pendanaan.

“Kita akan coba berkolaborasi dengan perbankan. Biasanya perbankan memiliki dana CSR, dan itu akan kita coba untuk kegiatan edukasi kepada masyarakat,” kata Latif.

Di Pasar Badak Pandeglang, pedagang Yuyun mengaku, belum menyediakan QRIS karena sebagian besar pembeli memilih membayar tunai. Meski begitu, sesekali ada pembeli yang menggunakan pembayaran digital.

“Makanya saya enggak menyediakan QRIS, karena rata-rata pembeli maunya tunai. Tapi kadang ada juga yang bayar pakai QRIS,” kata Yuyun.

Yuyun juga mengaku belum memahami cara menggunakan QRIS. Menurutnya, keterbatasan pemahaman membuat pembayaran digital terasa merepotkan.

Baca Juga :  Anggota DPRD Kota Serang Tersangka Dugaan Pencabulan, PKB Bakal Panggil DK

“Contohnya saya sendiri, jujur belum paham. Tidak semua orang bisa, malah terasa ribet kalau pakai QRIS,” tuturnya.

Penulis : Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd