Beranda Ramadan Puasa di Era Digital: Menahan Lapar, Menjaga Jempol

Puasa di Era Digital: Menahan Lapar, Menjaga Jempol

Ilustrasi - foto istimewa Nova Online

RAMADAN selalu datang dengan pesan klasik: menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun di era digital, makna “menahan diri” menjadi jauh lebih luas. Bukan hanya soal makanan dan minuman, tetapi juga soal notifikasi yang tak henti berbunyi, linimasa yang bergerak cepat, serta jempol yang kerap lebih gesit daripada pikiran.

Hari ini, tantangan puasa tidak hanya ada di dapur atau di meja makan, tetapi juga di layar ponsel.

Antara Ibadah dan Algoritma

Bangun sahur, sebagian orang langsung menggenggam gawai. Setelah salat Subuh, tak sedikit yang kembali berselancar di media sosial. Tanpa sadar, waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk tilawah atau zikir habis oleh konten hiburan yang tak berujung.

Algoritma media sosial bekerja tanpa henti. Ia menyuguhkan apa yang kita suka, memancing emosi, bahkan memicu perdebatan. Dalam kondisi berpuasa, emosi yang mudah terpancing bisa menjadi ujian tersendiri. Jempol yang terpeleset mengetik komentar kasar bisa mengurangi makna puasa itu sendiri.

Puasa bukan hanya menahan perut, tetapi juga menjaga lisan—dan di era digital, “lisan” itu menjelma menjadi kolom komentar.

Hoaks, Amarah, dan Ujian Kesabaran

Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh kedamaian. Namun linimasa kerap diwarnai kabar sensasional, provokasi, bahkan hoaks. Tanpa verifikasi, informasi menyebar begitu cepat. Sekali klik “bagikan”, dampaknya bisa luas.

Menahan diri untuk tidak langsung bereaksi adalah bagian dari ibadah. Menghentikan jari sebelum menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya adalah bentuk tanggung jawab moral. Dalam konteks ini, puasa menjadi latihan literasi digital—menyaring sebelum sharing.

Konten Ramadan: Antara Inspirasi dan Eksploitasi

Di sisi lain, era digital juga menghadirkan berkah. Ceramah daring, kajian streaming, hingga pengingat waktu salat dalam aplikasi memudahkan umat menjalankan ibadah. Kampanye sedekah online dan donasi digital membuat berbagi semakin praktis.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Begini Persiapan Menjaga Stamina dan Daya Tahan Tubuh Selama Berpuasa

Namun ada pula fenomena “pamer kebaikan”. Ibadah yang seharusnya khusyuk kadang berubah menjadi konten. Berbagi tak lagi sekadar memberi, tetapi juga demi validasi. Ramadan pun rawan menjadi panggung pencitraan.

Di sinilah niat diuji. Apakah kita beribadah untuk Tuhan, atau untuk tayangan?

Detoks Digital, Detoks Emosi

Puasa sejatinya adalah detoks menyeluruh—fisik dan batin. Mengurangi konsumsi makanan berlebih, sekaligus mengurangi konsumsi informasi berlebihan. Membatasi waktu layar bisa menjadi bentuk ibadah modern. Memberi ruang bagi hati untuk tenang tanpa distraksi.

Mungkin inilah saatnya membuat komitmen sederhana:
mengurangi scroll tanpa tujuan,
menghindari debat yang tak produktif,
dan mengganti waktu daring dengan membaca Al-Qur’an atau berbincang hangat bersama keluarga.

Menjaga Jempol, Menjaga Nilai Puasa

Di era digital, menjaga jempol sama pentingnya dengan menjaga lisan. Satu komentar bisa melukai, satu unggahan bisa memecah belah, dan satu informasi palsu bisa menyesatkan banyak orang.

Ramadan mengajarkan kontrol diri. Bukan hanya pada rasa lapar, tetapi juga pada dorongan untuk selalu bereaksi. Karena sejatinya, puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan karakter.

Menahan lapar mungkin terasa berat di siang hari. Namun menahan ego di dunia maya sering kali jauh lebih menantang.

Jika Ramadan mampu membuat kita lebih bijak dalam menggunakan gawai, lebih santun dalam berkomentar, dan lebih selektif dalam berbagi, maka puasa kita bukan hanya sah secara syariat, tetapi juga bermakna dalam kehidupan modern.

Sebab di zaman ini, menjaga jempol adalah bagian dari menjaga hati.

Tim Redaksi