SERANG – Warga Perumahan Kharisma Gelam Asri, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, mengeluhkan dampak proyek pembangunan SMA Negeri 9 Kota Serang yang berada dekat permukiman. Material proyek yang kerap tercecer di jalan dinilai membuat lingkungan tidak nyaman dan membahayakan pengendara.
Ketua RT Kharisma Gelam Asri, Darjat Nuryadin, mengatakan tanah merah yang digunakan sebagai urukan proyek sering berjatuhan di sepanjang jalan yang dilintasi truk pengangkut. Saat turun hujan, tanah tersebut berubah menjadi lumpur dan membuat jalan licin sehingga rawan terjadi kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
“Karena kena hujan jadinya kan licin,” ujar Darjat, Jumat (21/11/2025).
Pada saat cuaca panas, kondisi tak kalah mengganggu. Tanah merah yang mengering berubah menjadi debu, beterbangan ke permukiman, dan mengganggu pandangan pengendara. Warga meminta pelaksana proyek menerapkan standar operasional prosedur (SOP) agar dampak kegiatan pembangunan tidak terus merugikan.
“Seharusnya ada SOP-nya. Misalnya kalau ngangkut tanah ditutup terpal, jadi tanah nggak berjatuhan ke jalan,” katanya.
Gangguan lainnya datang dari aktivitas pembangunan yang disebut berlangsung hingga malam hari. Suara alat dan aktivitas pekerja mengganggu waktu istirahat warga. Darjat juga menyoroti para pekerja yang kerap tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) sehingga rawan terjadi kecelakaan kerja.
Menanggapi keluhan tersebut, anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten, Yeremia Mendrofa menyatakan baru menerima laporan warga terkait proyek pembangunan SMA Negeri 9 Serang. Ia mengatakan telah menjadwalkan rapat bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten untuk membahas persoalan tersebut.
Yeremia, politisi PDI Perjuangan, menegaskan akan membawa aspirasi warga ke Dindikbud Banten. Ia berharap SOP pengangkutan material serta pelaksanaan pekerjaan dapat diterapkan secara ketat untuk mengurangi risiko kecelakaan dan gangguan terhadap warga sekitar.
“Setiap pengerjaan proyek pemerintah seharusnya mengikuti SOP yang jelas untuk meminimalisir potensi kecelakaan dan tidak merugikan masyarakat,” ujarnya.
Warga pun berharap pemerintah dan pelaksana proyek segera mengambil langkah konkret agar kenyamanan dan keselamatan mereka tidak terus terganggu selama pembangunan sekolah berlangsung.
Penulis: Ade Faturohman
Editor: Usman Temposo
